Selain di JIS, Dewa 19 Juga Gelar Konser di Solo

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Di bulan November, Dewa 19 akan menggelar konser di Jakarta International Stadium (JIS). Selain itu, Ahmad Dhani dkk., juga akan tampil di Solo.

Masih dalam rangkaian tur konser 30 tahun, Dewa 19 menggelar konser di JIS pada 12 November. Selain itu, Dewa 19 juga akan menyambangi Solo di Auditorium UMS pada 26 November 2022. Ini akan menjadi konser indoor pertama dan terbesar di kota Solo.

“Konser tiga dekade DEWA 19 nanti akan setara dengan kemegahan panggung dan tata cahaya yang spektakuler seperti di kota-kota sebelumnya yang dibawa oleh Redline Kreasindo selaku penyelenggara,” kata pihak penyelenggara.

Nantinya, Dewa 19 direncanakan akan membawakan 30 lagu di Solo. Baladewa bisa menghapus rasa rindu menyaksikan penampilan beberapa vokalis Dewa 19, seperti Ari Lasso, Once Mekel, Ello, dan Virzha.

Untuk tiket, penjualan sudah dimulai pada 21 September 2022 di tiket.com. Tiket dijual dengan empat kategori, yaitu Festival A, Festival B, Tribun A dan Tribun B dengan kisaran harga normal mulai 550 ribu hingga 950 ribu Rupiah.

“Tiket akan terbagi dalam 2 fase mulai dari Presale dan harga Normal, yang dapat dibeli mulai hari ini Rabu 21 September 2022 pukul 17.00 WIB hanya melalui tiket.com, karena tiket presalenya terbatas jadi buat baladewa dan baladewi siapkan waktunya untuk segera beli tiketnya sebelum kehabisan,” ujar founder Redline Kreasindo, Ivan Haris.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini