Review Film ‘Laal Singh Chaddha’: Kisah Pria yang Setia Menanti dan Berlari Mengejar Sang Pujaan Hati

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kini banyak film-film yang diadaptasi dari berbagai sumber. Ada yang dari novel, game, bahkan film jadul yang diremake.

Seperti salah satunya adalah film ‘Laal Singh Chaddha’ ini. Film ini diadaptasi dari film Hollywood 1994 ‘Forest Gump’.

‘Laal Singh Chaddha’ mengisahkan tentang seorang pria yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata dan keterbatasan fisiknya. Karena kekurangannya itu, Laal sering diejek dan dijauhi oleh teman-temannya sejak kecil hingga dewasa.

Meski begitu, ia memiliki kelebihan lain, yakni bisa berlari dengan cepat. Hanya segelintir orang saja yang mau menerimanya dan berkawan dengannya.

Film ini dibuka dengan Laal yang tengah naik kereta menuju kota tempat tinggal sang pujaan hati, Rupa D’Souza. Selama menanti keretanya sampai di tempat tujuan, ia bertemu dengan seorang wanita tak dikenal yang duduk bersebrangan dengannya. Dari situ ia berkenalan dengan wanita itu dan mulai menceritakan kisah hidupnya dari kecil.

Awalnya wanita itu acuh tak acuh mendengarkan celotehan Laal. Namun, akhirnya wanita itu beserta orang-orang di sekitarnya yang ada di gerbong kereta itu tertarik untuk mendengarkan kisah hidup Laal Singh Chaddha.

Ia melakukan ‘storytelling’ bagaimana ia bisa masuk sekolah umum yang padahal ia memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Ditambah dirinya yang harus menggunakan penyanggah di kakinya untuk berjalan.

Paramount Pictures’ “Laal Singh Chaddha.”

Dia juga bercerita bagaimana ia bertemu dengan sang pujaan hati dan sebuah keajaiban datang padanya sejak pertemuan itu. Ia jadi bisa berjalan bahkan berlari sangat cepat berkat kata-kata ‘ajaib’ Rupa.

Hingga akhirnya ia sudah tak menggunakan alat penyanggah kaki lagi untuk berjalan. Laal menggunakan kemampuannya itu terus menerus untuk menemui Rupa.

Kesetiaannya dan kegigihannya untuk menanti serta memperjuangkan sang pujaan hati membuat hati penonton jadi hangat. Sebab, ke mana pun Rupa pergi Laal akan selalu berlari menuju sang pujaan hati. Sampai-sampai ia mampu berlari hampir mengelilingi India.

Paramount Pictures’ “Laal Singh Chaddha.”

Akankah Rupa luluh pada Laal? Berhasilkan Laal untuk bisa hidup bahagia dengan Rupa?

Dibalik kisah mengharukan ini, banyak cerita-cerita lucu dari Laal yang diceritakan. Penonton akan disajikan dengan humor-humor yang menggelitik dan menghibur. Selain itu, kisahnya juga bisa buat kalian meneteskan air mata karena kisahnya yang menghangatkan hati.

Film ‘Laal Singh Chaddha’ dijadwalkan tayang pada 12 Agustus 2022.

Film: Laal Singh Chaddha
Genre: Komedi, Drama, Keluarga
Sutradara: Advait Chandan
Pemain: Aamir Khan, Kareena Kapoor, Mona Singh, Naga Chaitanya, Manav Vij
Durasi: 2 jam 39 menit

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini