Remaja di LA Ngaku Jadi Korban Pemerkosaan Kris Wu

Baca Juga

MATA INDONESIA, BEIJING – Kasus dugaan pemerkosaan yang dilakukan Kris Wu masih terus berlanjut. Kini, muncul seorang remaja dari Kris Wu asal Los Angel yang juga mengaku sebagai korban mantan anggota EXO itu.

Wanita itu menceritakan kisahnya yang dimulai saat dia menghadiri salah satu pesta minumnya. Dia mengatakan kepada pengacaranya Jing Wang dari Kingswood Law, California, bahwa sudah menjadi rahasia umum bagaimana dia “memilih selir” di antara siswa internasional.

Dilansir dari KoreaBoo pada Senin 9 Agustus 2021, erduga korban mengaku melihat ini secara langsung ketika dia diundang oleh asisten Kris untuk menghadiri sebuah pertemuan. Sebelum para gadis bisa memasuki venue, mereka diminta untuk menyerahkan ponsel mereka untuk mencegah foto dan video direkam.

Selama pesta, semua orang bergantian menyanyi gaya bebas. Suasana dilaporkan canggung dan para peserta memegang apa yang tampak seperti narkoba atau viagra.

Terduga korban mengatakan bahwa dia terlalu banyak minum dan jatuh pingsan. Dia baru menyadari bahwa dia melakukan hubungan seksual dengan Kris setelah itu.

Terduga korban menyatakan bahwa dia diam karena takut diserang oleh publik. Du Meizhu, yang pertama memecah kebisuannya tentang sejarah Kris Wu, menerima komentar kebencian atas tindakannya yang disebut “pelacur” dan diperas oleh para penggemarnya.

Apalagi korban mengaku takut tidak ditanggapi dengan serius mengingat saat kejadian ia tidak cukup sadar dan tidak menyimpan banyak barang bukti untuk melindungi dirinya.

Tim pengacara Jing Wang saat ini sedang mengevaluasi situasi remaja Los Angeles. Jika ditentukan bahwa ada kebenaran dalam ceritanya, mereka akan mewakilinya dalam membawa kasus terhadap Kris.

Dia juga bersedia untuk mewakili lebih banyak korban di pengadilan dan mendorong mereka untuk berani berdiri. Mengingat Kris mengunjungi Los Angeles berkali-kali di masa lalu untuk fanmeeting dan promosi, serta dilihat oleh penggemar di beberapa restoran Cina, kemungkinan akan ada lebih banyak korban adalah tinggi.

Jing Wang menunjukkan bahwa hukum di Amerika Serikat berbeda dengan hukum di Tiongkok. Di AS, ada dua aspek yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, jika korban belum berusia 18 tahun, bahkan jika seks itu suka sama suka, pihak yang berhubungan seks dengan anak di bawah umur dianggap telah melakukan pemerkosaan berdasarkan Bagian 261 KUHP California dan dapat menghadapi hukuman 11 tahun penjara pada setiap menghitung. Kedua, jika korban berusia 18 tahun ke atas, setiap hitungan diancam hukuman penjara hingga 8 tahun.

Selain tuntutan pidana, para korban dapat mencari kompensasi di bawah hukum perdata. Jing Wang menunjukkan bahwa untuk mengambil tindakan dalam hukum perdata, seseorang tidak perlu dinyatakan bersalah berdasarkan hukum pidana. Padahal, tidak perlu ada kejahatan yang dilakukan berdasarkan hukum pidana.

Gugatan perdata dapat diajukan selama penggugat berhubungan seks dengan tergugat tanpa persetujuan mereka. Jing Wang menyatakan bahwa beratnya putusan untuk gugatan perdata tergantung pada perbedaan usia antara tergugat dan penggugat. Selain itu, penggugat dapat meminta kompensasi untuk hal-hal seperti perawatan medis, bantuan psikologis, dan kehilangan upah.

Menyusul tuduhan pemerkosaan, Kris saat ini ditahan oleh polisi di Beijing. Citra publiknya juga memburuk, terbukti dengan akun media sosialnya yang memiliki jutaan pengikut yang diturunkan. Baca kronologi lengkap dari apa yang terjadi di artikel di bawah ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Evaluasi Berkala Koperasi Desa Jadi Kunci Keberlanjutan Program Pemberdayaan Ekonomi

Oleh: Firly Tsaqila )*Komitmen pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi desa terusdiwujudkan melalui pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan MerahPutih sebagai instrumen strategis pemberdayaan masyarakat. Koperasi Desa dirancang bukan sekadar menjadi wadah aktivitasekonomi lokal, melainkan sebagai infrastruktur ekonomi nasional yang mampu memperluas akses masyarakat desa terhadap layanan usaha, distribusi kebutuhan pokok, pembiayaan produktif, hingga penguatankesejahteraan berbasis komunitas. Sehingga evaluasi berkala menjadi elemen penting agar implementasiprogram berjalan tepat sasaran, adaptif terhadap tantangan lapangan, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan.Langkah cepat Kementerian Koperasi dalam merespons berbagaimasukan masyarakat menunjukkan keseriusan pemerintah menjagakualitas pelaksanaan program ini. Berbagai sorotan yang muncul di ruangpublik dipandang sebagai bentuk partisipasi konstruktif yang justrumemperkuat proses pembenahan. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menilai perhatian masyarakatterhadap kondisi dan kesiapan Kopdes Merah Putih merupakan bagiandari pengawasan publik yang sangat dibutuhkan untuk memastikanprogram berkembang sesuai tujuan awal.Menurut Ferry, setiap laporan, masukan, dan perhatian masyarakatmenjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kementerian untukmelakukan koreksi secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa pemerintahmemandang keterlibatan publik sebagai bagian dari mekanismepengawasan yang memperkuat akuntabilitas tata kelola. Denganketerbukaan terhadap kritik, pemerintah menunjukkan pendekatan adaptifdalam memastikan program ini terus mengalami penyempurnaan.Pendekatan evaluatif ini penting karena skala program Kopdes MerahPutih sangat luas dan menyentuh langsung berbagai aspek kehidupanekonomi desa. Pemerintah tidak menempatkan evaluasi sebagai responsatas persoalan semata, melainkan sebagai instrumen manajemen modern yang memungkinkan setiap kelemahan terdeteksi lebih awal untuk segeradiperbaiki. Dengan demikian, proses pembenahan dapat dilakukan secarasistematis tanpa mengganggu tujuan besar pembangunan ekonomi desa.Ferry juga menekankan bahwa pemerintah akan terus menyelaraskankoordinasi lintas lembaga agar evaluasi yang dilakukan menghasilkanlangkah perbaikan konkret. Kolaborasi antara kementerian, pengelola koperasi, dan masyarakat diyakini menjadi kunci agar setiap temuanlapangan dapat segera ditindaklanjuti secara efektif. Pendekatan inimencerminkan keseriusan pemerintah membangun tata kelola koperasiyang terbuka dan responsif.Di sisi lain, penguatan evaluasi juga tampak dari keterlibatan berbagaiinstitusi pendukung. Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mempertegas peran pengawasan distribusi obat danpangan dalam ekosistem Kopdes Merah Putih. Kehadiran BPOM memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspekkelembagaan koperasi, tetapi juga memastikan kualitas layanan dankeamanan produk yang sampai kepada masyarakat desa.BPOM menyiapkan sistem pengawasan yang menjangkau hingga level desa, termasuk melalui pelibatan puluhan ribu kader terlatih. Langkah inimenjadi bukti bahwa evaluasi program dilakukan secara terintegrasidengan penguatan kapasitas pengawasan di lapangan. Pemerintahmemahami bahwa keberlanjutan koperasi tidak dapat dilepaskan dariterjaminnya standar mutu, keamanan, dan keandalan distribusi produk.Kepala BPOM menilai pengawasan distribusi obat dan pangan di koperasidesa membutuhkan mekanisme yang presisi karena cakupan wilayahyang luas menuntut sistem kendali yang kuat. Oleh sebab itu, pemerintahterus merancang skema baru agar distribusi tetap terkendali sekaligusmenjangkau masyarakat secara merata. Upaya ini memperlihatkanorientasi evaluasi yang tidak berhenti pada identifikasi masalah, melainkan diarahkan pada inovasi kebijakan.Pandangan mengenai pentingnya evaluasi berkala juga diperkuat ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli. Ia menilai bahwa pengawasanberlapis sangat diperlukan mengingat fungsi Kopdes Merah Putihmencakup aspek komersial, sosial, hingga layanan distribusi strategis. Menurutnya, pembagian peran pengawasan lintas lembaga akanmemperkuat akuntabilitas sekaligus meminimalkan potensipenyimpangan.Dipo menekankan pentingnya audit independen secara berkala sebagaiinstrumen untuk mendeteksi potensi moral hazard sejak dini. Ia jugamemandang bahwa tata kelola internal yang kuat harus ditopang olehrekrutmen pengelola profesional yang tetap berbasis komunitas lokal. Keterlibatan warga desa dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memilikisehingga keberlanjutan koperasi terjaga secara alamiah.Pandangan Dipo sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan evaluasi sebagai fondasi penguatan kelembagaan. Pemerintah memahami bahwa keberhasilan program tidak cukup diukurdari jumlah koperasi yang terbentuk, tetapi dari kualitas operasional, efektivitas layanan, dan dampak nyata terhadap kesejahteraanmasyarakat.Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi simpul distribusi hasilpertanian, penyalur barang strategis, penyedia layanan keuangan, hinggapenggerak aktivitas ekonomi produktif di tingkat akar rumput. Denganperan sebesar itu, evaluasi berkala menjadi syarat mutlak agar setiapfungsi berjalan optimal.Melalui keterbukaan terhadap masukan, sinergi lintas lembaga, sertapenguatan pengawasan berjenjang, pemerintah menunjukkan keseriusanmenjaga keberlanjutan program ini. Evaluasi yang konsisten bukanlahtanda kelemahan, melainkan bukti hadirnya tata kelola modern yang mengedepankan perbaikan berkelanjutan demi memastikan KopdesMerah Putih benar-benar menjadi motor penggerak pemberdayaanekonomi desa di masa depan.*) Pengamat Ekonomi Desa
- Advertisement -

Baca berita yang ini