Prokes Tetap Jalan Meski Sudah Divaksin? Ini Alasannya

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Menjalankan protokol kesehatan (prokes) dengan memakai masker dan menjaga jarak harus tetap dilakukan meski sudah mendapat vaksinasi Covid-19. Terutama bila berada di ruang publik dengan kondisi pertemuan sedang dan besar.

Dokter Speasialis Menular Kristin Englund, MD menegaskan bahwa orang yang sudah divaksinasi tetap harus menghindari interaksi langsung terutama dengan orang yang tidak divaksinasi.

“Orang yang divaksinasi penuh tetap harus menghindari kontak langsung dengan orang yang tidak divaksinasi,” kata Kristin.

Meski demikian, orang yang telah divaksinasi penuh bisa menghadiri pertemuan kecil di dalam ruangan tanpa masker dengan orang lain yang juga sudah divaksinasi penuh.

Selain itu, orang yang sudah divaksinasi penuh bisa mengadakan pertemuan kecil dengan orang lain dari satu rumah tangga yang tidak divaksinasi. Dengan syarat, tidak ada satu pun di dalam rumahnya yang dianggap memiliki resiko tinggi.

Kendati demikian data awal memang menunjukkan kemungkinan adanya penurunan penularan di antara orang-orang yang divaksinasi.

Namun masih banyak yang harus dipelajari tentang seberapa efektif vaksin terhadap varian Covid-19 dan apakah vaksin tersebur mencegah orang menyebarkan virus atau tidak.

Maka tindakan pencegahan yang baik adalah dengan mengenakan masker, menjaga jarak, dan mengamati tindakan pencegahan saat kita tidak merasa yakin pada kinerja vaksin.

Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa seseorang yang sudah mendapatkan vaksin bukan berarti bisa hidup normal seperti sebelum pandemi. Alasannya, vaksin tidak serta merta menghindarkan dari penularan virus Covid-19 , selain kita juga perlu menjaga keselamatan orang lain dengan menjalankan prokes dengan disiplin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini