Pemanasan Global Ancam Eksistensi Komodo? Ini Faktanya

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pemanasan global dan perubahan iklim dinilai berpotensi mengancam kehidupan hewan langka seperti komodo. Hal ini tidak lepas dari ketidakmampuan hewan tersebut hidup di daratan yang lebih tinggi di atas 700 meter di atas permukaan laut.

Pemanasan global yang mengakibatkan kenaikan air laut diperkirakan bisa membuat habitat asli komodo menyusut dan menyebabkan hewan itu punah. Menurut Union for Conservation of Nature (IUCN) yang mengemukakan bahwa kenaikan permukaan air akan berdampak pada 30 persen habitat kadal dalam 45 tahun ke depan.

Bahkan, IUCN memindahkan komodo dari daftar spesies rentan ke daftar spesies yang terancam punah di dunia. Adapun perubahan status tersebut pertama kali terjadi dalam lebih dari dua dekade terakhir. Makalah yang diuji secara bersama-sama pada tahun lalu menyimpulkan bahwa pemanasan global akan mempengaruhi kelangsungan hidup komodo. Maka, dari laporan tersebut, tindakan konservasi harus segera dilakukan untuk menghindari potensi kepunahan komodo.

Mengutip dari Independent, meski subpopulasi di Taman Nasional Komodo masih stabil dan terlindungi dengan baik, habitatnya di pulau Flores diyakini telah menyusut lebih dari 40 persen antara 1970-an sampai 2000-an.

Direktur Konservasi di Zoological Society of London (ZSL), Dr Andrew Terry menegaskan bahwa kepunahan komodo akibat perubahan iklim ini merupakan hal yang menakutkan.

“Gagasan bahwa hewan prasejarah ini telah bergerak satu langkah lebih dekat ke kepunahan sebagian karena perubahan iklim sangat menakutkan, dan seruan lebih lanjut agar alam ditempatkan di jantung semua pengambilan keputusan pada malam COP26 di Glasgow,” kata Terry, dikutip dari France24.

Adapun, komodo bisa tumbuh hingga ukuran tiga meter dengan rentang usia mencapai 30 hingga 50 tahun. Komodo jantan rata-rata memiliki berat hingga 90 kilogram sedangkan betina memiliki berat hingga 70 kilogram.

Makanan yang bisa dimakan meliputi kelelawar buah, babi, rusa, kerbau secara utuh, termasuk kuku dan tulang. Air liurnya mengandung bisa dan bisa membuat tekanan darah mangsanya tiba-tiba turun dan mencegah darahnya membeku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini