Netizen Berasumsi Buku Terbitan Jessica Eks SNSD ‘Bright’ akan Picu Banyak Kontroversi

Baca Juga

MATA INDONESIA, SEOUL – Baru-baru ini Jessica Jung mantan anggota SNSD atau Girl Generations ini mengumumkan akan merilis buku keduanya. Namun pendistribusiannya menimbulkan banyak kecurigaan netizen.

Melansir dari Allkpop, sebagian besar netizen mengritik novel Jessica Jung yang berjudul ‘Bright’ karena mengambil keuntungan dari nama SNSD. Selain itu juga menampilkan dirinya sebagai korban, meski telah menerima sorotan signifikan saat promosi sebagai anggota grup.

Melalui forum komunitas online, netizen berpendapat bahwa mantan anggota SNSD ini memanfaatkan keadaan. Dengan menerbitkan buku sekuelnya itu yang bertepatan dengan kabar SNSD akan comeback setelah lima tahun hiatus.

Sebab pada September 2021, Jessica terlilit hutang atas perusahaan fesyennya ‘Blanc & Eclare’. Sehingga menambah lebih banyak skeptisme seputar masalah ini.

Terutama, dalam bukunya itu menampilkan karakter yang disamakan dengan member SNSD. Konon ceritanya berdasarkan peristiwa nyata Jessica Jung.

Sementara itu, SNSD dikabarkan akan comeback pada Agustus 2022 mendatang.

Gimana menurut kalian?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini