Mengenal Lebih Dekat Cansino, Vaksin Baru untuk Covid-19

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Semakin hari, ada banyak pilihan jenis vaksin untuk mengatasi Covid-19. Kali ini muncul lagi dengan nama Cansino.

Vaksin Cansino sudah mendapat izin penggunaan darurat dari BPOM. Vaksin baru ini hanya perlu sekali suntikan untuk memberikan pertahanan terhadap infeksi virus corona. Sebelumnya sudah ada vaksin Sinovac, Sinopharm, Pfizer, AstraZeneca, Johnson & Johson, dan Sputnik.

Vaksin Cansino, atau Ad5-nCoV, adalah vaksin vektor virus rekombinan baru yang diklaim ampuh untuk mencegah infeksi dari virus corona. Vaksin yang berasal dari China ini hanya membutuhkan satu dosis dan setelahnya mampu memberikan perlindungan dengan basis adenovirus.

Vaksin ini menggunakan rekayasa genetika dengan adenovirus tipe 5 yang rusak akibat replikasi sebagai vektor untuk menunjukkan adanya protein spike dari SARS-CoV-2.

Dikutip dari Halodoc, Jumat 10 September 2021, vaksin Cansino merupakan jenis Ad5 baru yang pertama diuji pada manusia. Metodenya menggunakan virus flu biasa yang dilemahkan untuk mengirimkan materi genetik yang dapat menandakan protein spike SARS-CoV-2 ke sel tubuh.

Sel-sel ini kemudian menghasilkan protein spike dan berpindah ke kelenjar getah bening, tempat sistem imunitas menciptakan kekebalan yang akan mengenali protein tersebut dan melawan virus corona.

Pada 25 Februari silam, perusahaan produsen vaksin ini mengumumkan data analisis sementara uji klinis fase III sebesar 65,28 persen. Hal ini juga termasuk dalam mencegah semua penyakit COVID-19 yang bergejala 28 hari setelah vaksinasi dosis tunggal dan 68,83 persen untuk cegah semua penyakit COVID-19 yang bergejala 14 hari setelah satu suntikan diberikan.

Selain itu, vaksin Ad5-nCoV memiliki efikasi sebesar 90,07 persen dalam mencegah penyakit parah 28 hari setelah pemberian vaksin tunggal dan 95,47 persen dalam mencegah penyakit parah 14 hari setelah suntikan. Hasil uji klinis fase-3 dilakukan di Pakistan, Meksiko, Rusia, Chili, dan Argentina yang telah mendaftarkan lebih dari 4.000 peserta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Refocusing Anggaran MBG Makin Berpihak pada Kerentanan

Oleh: Alexander Royce*)Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki babak baru. Setelah lebih dari satutahun berjalan dan menjangkau jutaan penerima manfaat di berbagai daerah, pemerintah kini melakukan refocusing atau penajaman sasaran program. Langkahtersebut bukan sekadar upaya efisiensi anggaran, melainkan bagian dari strategi untukmemastikan setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar memberikan dampakmaksimal terhadap perbaikan gizi masyarakat, khususnya kelompok yang paling rentan.Di tengah tantangan fiskal global, tekanan ekonomi internasional, serta kebutuhanpembangunan di berbagai sektor, pemerintah memilih pendekatan yang lebih terukur. Fokus tidak lagi semata-mata pada besarnya jumlah penerima manfaat, tetapi padakualitas intervensi dan ketepatan sasaran. Pendekatan ini menunjukkan bahwapemerintah tidak sedang mengurangi komitmen terhadap pembangunan sumber dayamanusia, melainkan memperkuat efektivitas program agar hasilnya lebih nyata.Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, menjadi figur yang pertama kali menjelaskan arah kebijakan baru tersebut. Menurutnya, pemerintah telah memutuskanuntuk menggeser orientasi program dari mengejar kuantitas menuju peningkatankualitas pelaksanaan. Dalam berbagai kesempatan, Nanik menegaskan bahwa BGN tidak lagi menjadikan target puluhan juta penerima sebagai satu-satunya ukurankeberhasilan program. Sebaliknya, perhatian diarahkan pada kelompok yang paling membutuhkan intervensi gizi, terutama masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, danterluar (3T), wilayah dengan prevalensi stunting tinggi, serta kelompok rentan lainnya. Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah sedang membenahi tata kelola program melaluirefocusing penerima manfaat, optimalisasi dapur yang sudah ada, moratorium pembangunan dapur baru, serta pencarian sumber pendanaan alternatif agar bebanAPBN dapat lebih terkendali. Langkah tersebut diyakini dapat menghasilkanpenghematan yang signifikan sekaligus meningkatkan kualitas layanan gizi yang diterima masyarakat.Lebih jauh, Nanik menilai bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukanoleh jumlah paket makanan yang dibagikan setiap hari. Yang jauh lebih penting adalahsejauh mana program mampu menurunkan angka stunting, memperbaiki status gizianak, serta meningkatkan kualitas kesehatan ibu hamil dan kelompok rentan. Karenaitu, pemerintah memilih untuk mengarahkan sumber daya pada wilayah yang selama inijustru belum banyak tersentuh layanan gizi. Pendekatan tersebut sejalan denganarahan Presiden agar manfaat program dapat lebih dahulu dirasakan oleh masyarakatyang menghadapi kerentanan paling tinggi. Setelah arah kebijakan tersebut dijelaskan oleh Kepala BGN, Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari kemudian memberikan gambaran lebih rinci mengenai implementasirefocusing yang sedang disiapkan pemerintah. Menurut Agustina, BGN saat inimelakukan berbagai simulasi untuk memastikan bahwa indikator keberhasilan program dapat dicapai secara lebih efektif dan spesifik. Evaluasi dilakukan terhadap komposisipenerima manfaat agar intervensi gizi benar-benar menyasar kelompok yang memilikikebutuhan paling besar. Ia menjelaskan bahwa pemerintah sedang menelaah kembalicakupan penerima manfaat yang sebelumnya dirancang sangat luas, sehingga program dapat menjadi lebih tepat sasaran dan berkelanjutan dalam jangka panjang.Agustina juga menekankan bahwa proses penyesuaian tersebut merupakan bagiannormal dari perencanaan anggaran pemerintah. Dengan mempertimbangkan efektivitasprogram dan kondisi fiskal negara, pemerintah berupaya memastikan bahwa setiapalokasi anggaran memberikan manfaat yang optimal. Dalam berbagai pembahasananggaran tahun 2027, BGN mengkaji kemungkinan pengurangan penerima manfaatyang dinilai tidak lagi menjadi prioritas utama, sehingga ruang fiskal dapat difokuskankepada kelompok yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi. Pendekatan inimenunjukkan bahwa pemerintah tidak mengurangi perhatian terhadap isu gizi, melainkan memperkuat ketepatan sasaran kebijakan.Pandangan tersebut mendapat dukungan dari kalangan pasar dan pelaku ekonomi. Head of Research Kiwoom Sekuritas,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini