Mengaku Mengidap Mastitis, Ria Ricis Semangat Sembuh Karena Dukungan Teuku Ryan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kabar tidak sedap datang dari YouTuber Ria Ricis yang mengaku mengidap penyakit mastitis.

Mastitis sendiri merupakan peradangan pada jaringan payudara. Kondisi ini kerap dialami oleh ibu menyusui sehingga mengganggu proses pemberian ASI.

Sempat enggan mengungkapkan kepada publik, hal itu akhirnya diungkapkan langung melalui kanal YouTube-nya.

“Aku kira itu kayak bengkak seperti biasa. Karena aku udah pijit laktasi itu sudah hampir tiga sampai empat kali,” ujarnya.

“Dan sebelumnya itu katanya memang hanya bengkak biasa bukan mastitis, Alhamdulillah banget,” sambungnya.

Namun, setelah melakukan pijat laktasi selama tiga hari berturut-turut, bengkak pada payudara Ria Ricis tidak kunjung membaik.

Ia pun mulai merasakan nyeri pada payudaranya hingga akhirnya memutuskan untuk memeriksakannya ke dokter laktasi.

“Pas dicek wak aku dibilang katanya ternyata ‘ini mastitis Bu Ricis’. Diperiksa, dikasih obat anti biotik segala macem, dimassage lagi,” ungkapnya.

Kendati demikian, Ria Ricis sangat bersemangat untuk sembuh karena mendapatkan dukungan dari sang suami

“Alhamdulillah, suami aku support banget, suami aku tuh yang bener-bener ‘sayang semangat pasti sembuh, sayang tahu kan ada aku, ada Moana yang selalu tungguin kamu,” tuturnya.

Kini, Ria Ricis pun telah sembuh dari mastitis setelah diberi antibiotic dan jalani pijat laktasi sebanyak dua kali.

“Akhirnya dua kali pijat berturut-turut aku sembuh, dan sampai hari ini aku bener-bener bersyukur, Alhamdulillah, terima kasih sama tubuh aku karena bisa kerja sama dengan baik walaupun dalam keadaan lemah juga tubuh aku masih bisa melayani suami dan anak,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini