Mau Hidup Mewah ala James Bond? Siapkan Dana Rp1,1 Miliar

Baca Juga

MATA INDONESIA, LONDON – Penggemar James Bond bisa merasakan libuan mewah bertema 007 dengan biaya 80 ribu Dolar AS atau sekitar 1,1 miliar Rupiah. Apa saja yang didapat?

Fans James Bond sedang menantikan perilisan film ‘No Time to Die’, yang selalu mengalami penundaan karena pandemi Covid-19. Rencananya, film ini akan diputar perdana pada 30 September 2021 di London.

Daniel Craig akan memerankan tokoh agen 007 untuk terakhir kalinya di ‘No Time to Die’ setelah 15 tahun berperan sebagai James Bond atau menjadi yang terlama melewati catatan Roger Moore.

Sebelum menonton ‘No Time to Die’, fans James Bond bisa merasakan pengalaman hidup sepeti agen 007 di kehidupan nyata. Tamandare Travel dan Uber Alles Travel akan mengadakan perjalanan sekali seumur hidup untuk 50 orang. Liburan ini akan berlangsung musim gugur ini dan menelan biaya 80 ribu Dolar AS per orang. Demikian dikutip dari Screen Rant, Kamis 26 Agustus 2021.

Dengan harga yang sangat mahal itu, nantinya setiap peserta akan terbang dengan jet pribadi ke beberapa lokasi, termasuk London, Edinburgh, Milan, Danau Como, dan banyak lagi. Liburan di Eropa akan berlangsung selama 21 hari dan dimulai dengan tiket ke pemutaran perdana ‘No Time to Die’ di London pada 30 September.

Perjalanan mewah ini akan mencakup kegiatan utama yang menyaingi gaya hidup James Bond dalam film. Fans James Bond akan bersantap di puncak Menara London. Kemudian, mereka akan memerankan kembali adegan aksi (dengan senjata paintball) dalam pertempuran yang berakhir dengan pelarian helikopter, kejar-kejaran mobil, dan pengejaran perahu.

Perjalanan termasuk makan di restoran berbintang Michelin, pengalaman berkendara mewah, dan menginap di beberapa hotel paling terkenal di Eropa. Kru film juga akan mengabadikan seluruh perjalanan, penuh dengan kejutan dan pengalaman nyata langsung dari film James Bond.

Tidak ada cara yang lebih baik untuk merayakan film James Bond ke-25 selain liburan mewah. 50 orang yang beruntung bisa merasakan semua itu jika mereka mampu membayar 80 ribu Dolar AS.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Minyakita dan Strategi Pemerintah Menjaga Keseimbangan Pasar

Oleh : Antonius UtomoMinyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi minyak goreng yang tinggi, stabilitas harga dan ketersediaan produk inimenjadi perhatian utama pemerintah. Dalam konteks tersebut, program Minyakita hadir sebagaiinstrumen strategis untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau sekaligus menjaga keberlangsungan industri sawit dan minyakgoreng nasional.Sejak diperkenalkan sebagai minyak goreng rakyat, Minyakita dirancang untuk menjadi solusiatas fluktuasi harga minyak goreng yang kerap terjadi akibat dinamika pasar global maupundomestik. Keberadaan Minyakita tidak hanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat, tetapijuga menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan keseimbangan antara kepentingankonsumen, produsen, distributor, dan pelaku usaha di seluruh rantai pasok. Dengan demikian, Minyakita menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasionalyang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.Kementerian Perdagangan bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus memperkuatmekanisme distribusi agar Minyakita dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebihefektif. Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN pangan seperti Bulog dan ID Food, guna memperluas jaringan distribusi dan memperkuatpengawasan terhadap penyaluran minyak goreng rakyat. Langkah ini menjadi bagian daristrategi besar pemerintah untuk memastikan bahwa manfaat program Minyakita dapatdirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai daerah.Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak semata-mata dilakukan melaluipenetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi juga melalui pembenahan tata niaga dan rantaidistribusi. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaan harga di tingkat konsumen sering kali dipengaruhi oleh hambatan distribusi, biaya logistik, dan keterbatasan pasokan di wilayah tertentu....
- Advertisement -

Baca berita yang ini