Masalah Kesehatan Serius yang Membidik Generasi Milenial

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Di setiap generasi, pasti muncul masalah kesehatan. Termasuk di era generasi milenial, masalah kesehatan bukan hanya sekedar fisik, tapi juga menyangkut kejiwaan yang kompleks.

Setidaknya ada 5 masalah kesehatan paling umum menyerang generasi milenial, seperti berikut ini:

1. Obesitas

Jauh sebelum generasi milenial tumbuh, obesitas sudah dianggap sebagai ancaman masa depan. Ternyata benar, obesitas atau berat badan berlebih sudah menjangkit. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2014 menyebut 1,5 miliar orang di dunia mengalami obesitas dan akan meningkat hingga 22 persen pada 2045, mengutip boldsky.com.

2. Gangguan Mental

Sekitar 7 persen penduduk bumi yang berusia antara 20 sampai 29 tahun pada 2017 mengalami depresi akut. Dalam kelompok usia yang sama, 9 persen lainnya mengalami gangguan kecemasan dan panik. Untuk penyembuhan gejala gangguan mental, 28 persen generasi milenial tercatat menggunakan obat antidepresan.

3. Stroke

Kebiasaan jarang olahraga dan terlalu nyaman di depan latop atau gadget adalah sebab-sebab utama masalah kardiovaskular seperti stroke. Generasi milenial yang punya kebiasaan buruk ini jumlahnya tak sedikit. Terbukti, dalam penelitian yang dipublikasikan JAMA Neurologi, pasien stroke iskemik berusia 18 sampai 34 tahun telah meningkat 50 persen sejak tahun 2003 hingga 2012.

4. Diabetes

Efek lanjutan dari obesitas biasanya adalah diabetes dan penyakit jantung. Khusus diabetes, kadar gula yang tidak terkontrol dari makanan favorit generasi milenial seperti makanan cepat saji, minuman bersoda dan cemilan manis adalah penyebab utamanya.

5. Anti Sosial

Masalah ini termasuk dalam jenis gangguan mental. Generasi milenial menjadi menjauh dari kehidupan sosial yang harmonis karena sibuk dengan urusan pribadinya di depan laptop atau gadget. Generasi ini lebih menyukai kegiatan melihat dunia dari balik kamar karena kemudahan akses melalui internet, seperti dikutip dari bolde.com.

Berita Terbaru

Negara Membuka Dialog dan Mendengar Aspirasi Mahasiswa

*) Oleh: M. Farhan Akbar Demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari terselenggaranya pemilihan umumyang bebas dan adil, tetapi juga dari kemampuan negara membangun komunikasiyang terbuka dengan masyarakat. Dalam konteks tersebut, mahasiswa memiliki posisistrategis sebagai kelompok intelektual yang kerap menyuarakan kritik, gagasan, sekaligus solusi terhadap berbagai persoalan bangsa. Kehadiran ruang dialog yang setara antara pemerintah dan mahasiswa menjadi indikator penting bahwa demokrasiberjalan secara substantif, bukan sekadar prosedural. Oleh karena itu, komitmenpemerintah untuk terus membuka ruang komunikasi patut dipandang sebagai langkahyang memperkuat kualitas tata kelola pemerintahan sekaligus memperkokohkepercayaan publik.Berbagai capaian pembangunan yang terus diupayakan pemerintah, mulai daripenguatan ketahanan pangan, hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga program pemberdayaanekonomi masyarakat, membutuhkan dukungan situasi yang aman dan kondusif. Karena itu, sinergi antara pemerintah, mahasiswa, akademisi, dan masyarakatmenjadi modal penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalan secaraoptimal dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.Lebih lanjut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa setiap aspirasi memilikinilai yang sama, baik berasal dari akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat di daerah terpencil. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak dapatdilepaskan dari partisipasi publik yang inklusif. Negara yang kuat bukanlah negara yang menutup diri terhadap kritik, melainkan negara yang mampu mendengarpersoalan, mengakui kekurangan, serta menjadikan masukan masyarakat sebagaidasar penyempurnaan kebijakan. Pendekatan seperti ini mencerminkankepemimpinan yang adaptif karena menempatkan dialog sebagai instrumen untukmenghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.Selanjutnya, keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa menunjukkanadanya perubahan paradigma dalam hubungan antara negara dan masyarakat sipil. Mahasiswa tidak lagi diposisikan semata sebagai kelompok penekan, tetapi sebagaimitra strategis dalam proses pembangunan nasional. Melalui komunikasi yang terbuka, berbagai kritik dapat diterjemahkan menjadi bahan evaluasi, sedangkanberbagai gagasan dapat diolah menjadi rekomendasi kebijakan yang konstruktif. Pendekatan kolaboratif seperti ini memperkuat legitimasi kebijakan sekaligusmemperkecil potensi polarisasi yang sering muncul akibat minimnya komunikasiantara pemerintah dan publik.Pandangan tersebut diperkuat oleh Direktur Eksekutif Kata Rakyat, Alwan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini