Kim Do Wan Merasa Nyaman Jadi Kekasih Kang Han Na di “My Roommate Is A Gumiho”

Baca Juga

MATA INDONESIA, SEOUL – Aktor Kim Do Wan berhasil mencuri perhatian penggemar drama Korea usai tampil di drama “My Roommate Is a Gumiho”. Cowok yang memiliki senyum manis ini berhasil membuat cewek-cewek jatuh cinta padanya.

Baru-baru ini Kim Do Wan pun melakukan wawancara terkait dramanya yang baru saja berakhir itu. Ia pun menceritakan kesannya berperan sebagai Do Jae Jin.

Dalam wawancara tersebut, Kim Do Wan berkata, “Saya banyak berpikir tentang bagaimana menggambarkan kepolosan hati Do Jae Jin yang murni. Saya berbicara banyak dengan sutradara dan penulis tentang itu. Ada saat-saat di lokasi syuting ketika saya bingung, tetapi sutradara membantu saya membuatnya lebih murni dan lebih polos.”

“Saya pikir kejujurannya adalah sifat terbaiknya. Daripada menghitung hal-hal di kepalanya, dia memiliki keberanian untuk berbicara langsung tentang perasaannya,” lanjutnya.

Dia menambahkan, “Saya pikir dia sekitar 50 persen mirip dengan saya. Dia sangat cerdas dan ceria dan jujur ​​dan memiliki banyak kelucuan padanya. Saya sangat pemalu, jadi saya tidak bisa mengekspresikan emosi saya secara langsung seperti dia.”

“Tapi saat aku bersama orang-orang yang sangat dekat denganku, sisi diriku yang mirip dengannya muncul. Kami berdua mencoba jujur ​​ketika mengekspresikan diri, dan kami berdua memiliki ketakutan dalam hal cinta. Dia memiliki kebiasaan minum tertentu yang tidak saya miliki, dan dia banyak menangis sementara saya tidak.”

Selain itu, Kim Do Wan juga berbicara tentang chemistry-nya bersama dengan Kang Han Na. Keduanya dipersatukan kembali, yang kini sebagai pasangan kekasih, setelah sebelumnya pernah bekerja sama dalam drama “Start-Up.”

Dia berkata, “Ketika kami pertama kali bertemu di ‘Start-Up,’ kami senang mendengar casting satu sama lain. Saya merasa sangat nyaman bekerja dengannya. Saya sangat bergantung padanya dan saya tidak memiliki kekhawatiran khusus. Setiap kali kami bertemu.”

“Kami akan membahas apa yang ingin kami lakukan untuk adegan berikutnya, dan ketika kami bertemu satu sama lain di lokasi syuting, kami akan langsung membahas bagaimana membuat adegan itu lebih menyenangkan tanpa mempersiapkan terlebih dahulu. Karena semua itu, menurutku Kang Han Na adalah orang yang sangat bisa diandalkan,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, “Saya tidak merasakan tekanan untuk beralih dari bermain saingan menjadi kekasih. Di ‘Start-Up,’ karakter kami selalu bermusuhan, tetapi mereka menjadi ramah menjelang akhir. Karena kami sudah dekat dari ‘Start-Up,’ lebih mudah untuk syuting dengannya untuk kedua kalinya.”

Ditanya tentang bagaimana menurutnya romansa karakter mereka akan berakhir, dia berkata, “Saya pikir Jae Jin akan menjadi lebih dewasa seiring bertambahnya usia, dan Hye Sun akan belajar lebih banyak tentang dunia, dan keduanya akan memiliki hubungan yang bahagia. Mereka adalah pasangan yang dibuat di surga. Saya 100 persen puas dengan endingnya. Karena itu adalah proyek pra-produksi, saya menonton drama dari sudut pandang penonton. Ending mereka terasa sangat hangat bagiku, jadi aku harap para penonton juga puas dengannya.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini