Jay B GOT7 Akui Alami Depresi, Jadi Lebih Baik usai Jalani Terapi

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Leader GOT7, Jay B mengungkapkan bahwa dia telah didiagnosis secara klinis dengan depresi. Hal ini diungkapkannya saat wawancara dengan majalah ARENA.

Jay B mengungkapkan memiliki obat untuk depresi dan gangguan panik di tasnya, yang dia perlihatkan kepada penggemar dalam pesan “What’s in my bag?” video. Ia kemudian ditanya kapan dirinya menderita depresi.

Menurut Jay B, awalnya dia tidak sadar dia mengalami depresi. Sebaliknya, dia mengira pikirannya lebih lemah dari yang lain dan itu akan berlalu. Namun, setelah menjalani pemeriksaan, ia menerima diagnosisnya dan ternyata ia mengalami depresi.

Selama pemeriksaan, Jay B ditanya bagaimana dia hidup tanpa datang ke psikiater, dan dia dengan jujur ​​mengungkapkan bahwa dia adalah orang yang sedih dan tertekan. Jay B kemudian diberi tahu bahwa meskipun dia bukan tipe yang menunjukkan perasaannya, depresinya berada pada kondisi di mana dia membutuhkan perawatan.

Sekarang setelah dia minum obat dan menjalani terapi, dia merasa jauh lebih baik. Jay B kemudian mendapat pujian atas keberaniannya.

Lebih lanjut, Jay B mengungkapkan bahwa ia menjadi lebih jeli terhadap orang-orang di sekitarnya setelah ia didiagnosis. Ia menjadi sadar bahwa ada orang di sekitarnya yang malu akan depresi mereka dan berusaha menyembunyikannya.

“Saya hanya ingin mengatakannya,” Jay B mengaku. “Meskipun tidak begitu mencolok, depresi adalah penyakit yang sangat umum namun sangat berbahaya. Penyakit mental juga merupakan penyakit. Jika salah satu penggemar saya atau siapa saja yang membaca wawancara ini merasa tertekan, saya berharap mereka tidak akan malu dan mengatasi penyakitnya saat menjalani perawatan.”

“Itu bukan sesuatu yang memalukan, dan tidak perlu menyembunyikannya. Juga, saya tidak bisa berbohong tentang barang-barang di tas saya sementara ‘Apa yang ada di tas saya?’ video, bukan? Saya berharap semua orang bisa berbohong,” lanjutnya.

Menanggapi pernyataan Jay B yang mengklaim dia ingin jujur ​​tentang kesehatan mentalnya, Majalah ARENA bertanya apakah dia buruk dalam berbohong. Jay B mengungkapkan bahwa dia bukan pembohong yang baik dan lebih suka tidak berbicara jika harus berbohong.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Minyakita dan Strategi Pemerintah Menjaga Keseimbangan Pasar

Oleh : Antonius UtomoMinyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi minyak goreng yang tinggi, stabilitas harga dan ketersediaan produk inimenjadi perhatian utama pemerintah. Dalam konteks tersebut, program Minyakita hadir sebagaiinstrumen strategis untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau sekaligus menjaga keberlangsungan industri sawit dan minyakgoreng nasional.Sejak diperkenalkan sebagai minyak goreng rakyat, Minyakita dirancang untuk menjadi solusiatas fluktuasi harga minyak goreng yang kerap terjadi akibat dinamika pasar global maupundomestik. Keberadaan Minyakita tidak hanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat, tetapijuga menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan keseimbangan antara kepentingankonsumen, produsen, distributor, dan pelaku usaha di seluruh rantai pasok. Dengan demikian, Minyakita menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasionalyang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.Kementerian Perdagangan bersama berbagai pemangku kepentingan juga terus memperkuatmekanisme distribusi agar Minyakita dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebihefektif. Dalam pelaksanaannya, pemerintah melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN pangan seperti Bulog dan ID Food, guna memperluas jaringan distribusi dan memperkuatpengawasan terhadap penyaluran minyak goreng rakyat. Langkah ini menjadi bagian daristrategi besar pemerintah untuk memastikan bahwa manfaat program Minyakita dapatdirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai daerah.Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak semata-mata dilakukan melaluipenetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi juga melalui pembenahan tata niaga dan rantaidistribusi. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaan harga di tingkat konsumen sering kali dipengaruhi oleh hambatan distribusi, biaya logistik, dan keterbatasan pasokan di wilayah tertentu....
- Advertisement -

Baca berita yang ini