Dituduh Suka Ambil Uang Dewi Perssik Tanpa Izin, Begini Tanggapan Angga Wijaya

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Dewi Perssik menuding Angga Wijaya sering mengambil uang miliknya tanpa izin. Tudingan yang dibantah langsung Angg Wijaya.

Dalam pernyataannya, Dewi mengaku sering kehilangan uang selama menjalan pernikahan dengan Angga Wijaya.

“Kami itu berantem masalah keuangan terus,” ujar Dewi.

Dewi menuding Angga kerap mengambil uangnya tanpa izin.

“Bukan masalah aku yang tidak bersyukur dapat dia, tapi uang hilang mulu. Begitupun YouTube, kemarin ketemu ketahuan beberapa uang,” katanya.

“Kalau jadi istri uangnya diambil terus gimana. Sedekah mandiri namanya, mengambil uang sendiri tanpa izin,” ucapnya.

Angga membantah tudingan Dewi Perssik. Dia pun menjelaskan secara detail apa yang sebenarnya terjadi.

“Gini, biasanya kalau kita manajer-manajer itu bilangnya bukan menjual ya, beri harga ke klien,” katanya.

“Misal mbak Dewi pasang tarif Rp150 juta, terus saya naikin jadi Rp170 juta. Berarti yang Rp20 juta kan punyaku. Nah yang Rp150 juta tetap aku berikan. Aku cuma ambil fee-nya aja,” ujarnya.

“Saat itu aku melakukan hal itu karena ingin mendapat untung, untuk pegangan aku saja selama di Jakarta. Kalau mbak Dewi tidak berkenan, ya aku kembalikan. Itu pun sudah dikembalikan juga,” ungkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini