Deretan Artis yang Gemar Thrifting!

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kalangan selebriti memang identik dengan style dan fashion yang kekinian. Barang-barang yang digunakan dapat dikatakan mewah dan branded yang nilainya tinggi.

Untuk memiliki barang-barang tersebut cukup menguras isi dompet. Namun, untuk tampil menggunakan barang branded, ternyata tak melulu mengeluarkan budget besar. Pasalnya, kamu juga dapat berhemat dengan melakukan thrifting.

Membeli pakaian bekas atau trifhting bisa dijadikan alternatif untuk tampil dengan style dan fashion kekinian. Barang yang dijual pun beragam mulai dari gaya pakaian modern hingga vintage.

Thrifting atau nge-thrift tindakan berbelanja di sebuah toko barang bekas, pasar loak, garage sale, atau toko dari organisasi amal. Tujuannya untuk menemukan barang-barang yang menarik dengan harga yang murah.

Barang yang dijual di pasar tersebut masih dalam keadaan baik dan berkualitas. Membeli barang bekas banyak digemari oleh banyak orang, karena harga yang ditawarkan jauh lebih rendah.

Bahkan sejumlah selebriti juga suka membeli barang bekas antara lain yang pertama, Aming merupakan artis komedi di sebuah acara. Ia pernah membeli pakaian bekas di pasar Gedebage, Bandung.

Pasar ini menjual barang-barang bekas yang menghadirkan kebutuhan fashion dari brand-brand terkenal di dunia. Pasar ini, mengalami kejayaan sekitar tahun 2000-an. Setelah itu, banyak artis yang meluangkan waktunya untuk belanja di pasar Gedebage tersebut.

Kedua, Rayi Putra adalah seorang penyanyi RAP dari grup musik RAN. Rayi ini pernah tampil dengan baju hasil dari thriftingan onlinenya.

Ia membeli sebuah kemeja flannel longsleeve dengan warna yang pop-up. Personil RAN ini memadukan gaya baju dan bawahannya dengan sneaker Nike Air Skylon yang berwarna putih. Dengan penampilan seperti itu, terlihat sangat cocok menggunakan gaya busana tersebut.

Ketiga, Anne Hathaway adalah seorang aktris asal Amerika Serikat. Wanita cantik ini pernah berburu baju bekas di pasar loak. Ia membeli barang tersebut, lalu dipadukan agar menjadi terlihat stylish. Penampilan menggunakan pakaian bekas yang ia beli, terlihat di beberapa acara TV bahkan di karpet merah.

Keempat, Shareffa Danish salah satu aktris Indonesia, ia dijuluki ratunya film horror Indonesia. Shareffa ini sangat fashionable, ia senang sekali belanja barang bekas.

Saat berwisata ke Bangkok, ia mengunjungi pasar yang menjual barang bekas untuk membeli tas. Ia lebih mementingkan kualitas dibandingkan dengan merek. Shareffa Danish ini bukan tipe orang yang gemar membeli barang bermerek yang mahal.

Kelima, Cindercella adalah seorang konten creator yang menyajikan konten tutorial make-up yang unik dan menarik. Ternyata, ia sering menggunakan pakaian hasil thrifting dengan warna pop-up.

Cindercella seperti mendapatkan harta karun, ia menggunakan sweater vintage Yves Saint Laurent yang merupakan salah satu high luxury brand dari Paris. Artinya dengan thrifting pun, barang yang memiliki nilai tinggi bisa didapatkan dengan harga rendah.

Reporter: Azizah Putri Octavina

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini