Daebak! McDonald’s Untung Rp32 Triliun Berkat BTS Meal

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Menu viral dari restoran cepat saji McDonald’s, BTS Meal memang patut diacungi jempol. Menu yang merupakan kolaborasi dengan boyband BTS itu sukses meraup keuntungan fantastis untuk McDonald, yakni 32 triliun Rupiah.

Dilansir CNBC, Kamis 29 Juli 2021, McDonald’s mencatat keuntungan di kuartal-II 2021 mencapai 2,22 miliar Dolas AS atau 32,1 triliun Rupiah secara global. Perolehan itu naik pesat dibanding sebelumnya yakni 1,54 miliar Dolar AS.

Lebih lanjut, penjualan bersih McDonald’s naik 57 persen menjadi 5,89 miliar Dolar AS, atau setara dengan 85,3 triliun Rupiah. Pencapaian ini melampaui ekspektasi dari 5,6 miliar Dolar AS atau setara dengan 81,1 triliun Rupiah.

Penjualan McDonald’s secara global juga diketahui melonjak sebesar 40,5 persen dari tahun sebelumnya. Hal ini merupakan imbas dari viralnya menu BTS Meal yang langsung diserbu para fans, ARMY.

Demam BTS Meal sempat membuat antrean yang mengular panjang di outlet McDonald’s. Saking ramainya, beberapa outlet terpaksa harus ditutup karena melanggar protokol kesehatan.

BTS Meal pertama kali rilis di Indonesia pada 9 Juni 2021 lalu. Menu yang terdiri dari sembilan potong nugget ayam, kentang goreng, saus, minuman dan paper bag itu langsung diserbu para ARMY di hari pertama penjualannya.

Di Indonesia, menu BTS Meal pun membawa berkah. Para ARMY sempat mendonasikan sejumlah uang hingga ratusan juta Rupiah untuk diberikan pada driver ojek online yang berjasa untuk mengorder menu tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini