Coachella Cabut Semua Peraturan Prokes untuk Para Pengunjungnya

Baca Juga

MATA INDONESIA, LOS ANGELES – Festival musik Coachella dan Stagecoach baru saja membuat pengumuman besar tentang acara mereka yang akan datang.

Melansir dari Just Jared, kedua penyelenggara festival musik ini mengungkapkan bahwa mereka mencabut semua pembatasan soal Covid-19 untuk acara mereka. Kedua acara ini akan berlangsung pada akhir tahun 2022 yang berlokasikan di California.

Maka, semua pengunjung tak perlu divaksinasi, tes antigen atau PCR, atau pemakaian masker untuk menghadiri festival tersebut.

Kabar ini diumumkan melalui cuitan Stagecoach dan situs resmi Coachella. Namun berdasarkan keterangan dari situs resmi Coachella telah diperingatkan bahwa ‘tak ada jaminan, tersurat, maupun tersirat, mereka yang hadir ke festival tak akan terpapar Covid-19’.

Seperti dalam peraturan kota California untuk acara di luar ruangan, antara lain festival musik ini tak perlu bukti vaksinasi penuh atau hasil tes Covid negatif sebelum masuk walau sangat disarankan.

Tentu hal tersebut memicu kontroversi. Beberapa ada yang mendukung, sedangkan sebagian lainnya menentangnya.

Sementara itu, Coachella Music Festival 2022 akan berlangsung pada 15-17 April dan 22-24 April 2022. Sedangkan Stagecoach 2022 akan berlangsung pada 29 April hingga 1 Mei 2022.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini