Catat Gaes! Kebiasaan Ini Bikin Kamu Gagal Diet

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Menurunkan berat badan memang bukan perkara mudah. Berbagai upaya dilakukan demi mendapatkan tubuh yang ideal.

Namun dalam prosesnya, program diet acapkali gagal. Terlebih jika tidak diiringi dengan motivasi yang kuat dan target yang jelas. Ada saja cobaan yang bisa menghalangi program dietmu berjalan sempurna.

Sebenarnya, ada faktor yang menentukan keberhasilan diet. Kunci sukses menurunkan dan menjaga berat badan bukan hanya seberapa banyak makan yang masuk ke dalam perut, melainkan juga bergantung pada kebiasaan yang dilakukan setiap hari.

Nah, Kamu perlu tahu bahwa ada beberapa kebiasaan yang justru bisa menggagalkan program dietmu.

Berikut kebiasaan yang membuat gagal diet dan sebaiknya dihindari agar program menurunkan berat badanmu tak sia-sia. Yuk simak!

1. Jarang Minum

Kesibukan yang melanda terkadang membuatmu lupa dengan asupan air putih. Padahal anjuran minum air dua liter per hari dapat membantu mencerna makanan dan menyerap lemak dalam tubuh.

Bagi kamu yang sedang menjalankan program diet, cobalah minum sebelum makan untuk ‘mengelabui’ perut sehingga cepat kenyang dan terhindar dari keinginan makan lebih banyak.

Tapi, juga tidak disarankan untuk minum terlalu banyak air karena dapat menyebabkan keracunan air yang bisa menyebabkan kematian pada kasus ekstrem. Kamu bisa konsumsi susu rendah lemak atau jus buah tanpa gula (bukan kemasan) sebagai selingan minum air putih.

2. Lupa Sarapan

Hayo, siapa yang masih lupa sarapan setiap pagi? Pasti alasannya terlalu sibuk dan terburu-buru sehingga melupakan makan pagi ini.

Padahal, sering melupakan sarapan merupakan kebiasaan buruk yang bisa menghambat program dietmu loh! Sebab, saat makan siang kamu akan merasakan lapar yang teramat sangat. Berbeda jika saat pagi hari kamu sarapan terlebih dahulu.

Bagi yang menjalankan program diet, sebaiknya tetap mengisi perut di pagi hari walau sekadar makan buah, sereal, atau sebutir telur rebus. Sesuai anjuran program diet, sarapan dapat membantu menurunkan berat badan dan mencegah kalap makan di siang hari.

3. Malas Olahraga

Untuk menurunkan berat badan, gak cuma persoalan mengurangi asupan. Kamu perlu aktif bergerak, salah satunya berolahraga.

Seringkali masyarakat menginginkan badan yang ideal namun malas berolahraga. Padahal, olahraga tersebut bisa membakar setidaknya 500 kalori per sesi.

Pilihlah olahraga yang mempercepat pembakaran kalori seperti jogging, latihan angkat beban, hingga senam (gym). Bahkan, memilih berjalan kaki ke kantor atau ke pasar juga membantu menurunkan berat badan loh!

4. Kurang Lama Mengunyah

Kebiasaan yang faktanya bisa menghambat program dietmu ialah kurang lama mengunyah. Mengunyah makanan terkesan hal yang sepele dan seringkali diabaikan banyak orang, termasuk yang sedang diet.

Namun, para ahli menyarankan untuk mengunyah makanan sekitar 30 kali hingga makanan benar-benar lumat sebelum masuk ke saluran pencernaan. Sebab, apabila makanan semakin cepat masuk ke dalam perut bisa membuat tubuh sulit mencerna.

Kunyahlah makananmu sampai tidak ada gumpalan dan jangan terburu-buru. Pasalnya, aktivitas tersebut dapat meningkatkan pembakaran selama prosea cerna hingga 10 kalori.

5. Target Tak Realistis

Satu lagi kebiasaan yang dapat merusak program dietmu ialah target yang tidak realistis. Banyak orang yang ingin menurunkan berat badan mereka dengan drastis, namun menginginkannya dalam waktu singkat.

Keinginan tersebut akan berimbas pada pola makan dan gaya hidup yang terlalu ketat dan menyiksa. Alhasil, kamu jadi merasa terbebani dan program dietmu jadi berantakan.

Buatlah dietmu jadi kegiatan yang santai dan menyenangkan. Tak perlu menargetkan penurunan berat badan yang terlalu muluk-muluk, agar program dietmu bisa bertahan dan berjalan dengan efektif.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini