Bikin Jomblo Iri! Jesse Choi Pamer Foto Cium Kening Maudy Ayunda

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kabar pernikahan Maudy Ayunda dengan pria kebangsaan Korea Selatan Jesse Choi masih menjadi buah bibir yang manis.

Pernikahan yang digelar secara tertutup itu lantas menimbulkan banyak pertanyaan dan menggugah rasa penasaran netizen.

Namun, baru-baru ini Maudy Ayunda pun mulai berani untuk memamerkan Jesse Choi di laman media sosial Instagramnya.

Setelah Maudy Ayunda, Jesse pun ikut-ikutan memamerkan foto romantic dirinya dengan istrinya.

Laman sosial media Instagram Jesse yang sebelumnya terkunci kini sudah beralih ke publik, dan pada laman media sosial Instagramnya pun Ia mengunggah sebuah foto romantis dengan Maudy Ayunda.

Dalam postingan tersebut terlihat Jesse yang sedang mencium kening Maudy seraya memeluk satu sama lain.

Tidak hanya fotonya yang bikin jomblo iri, pria yang berkewarganegaraan Amerika itu pun menuliskan caption yang romantis pada postingan tersebut.

“Aku tidak pernah ingin berhenti membuat kenangan denganmu,” tulisnya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Jesse Choi (@jessechoi_)

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih atas antusias netizen Indonesia yang ikut berbahagia atas pernikahannya dengan Maudy.

“Saya tidak pernah mengharapkan semua rasa ingin tahu dan energi positif dari kalian. Tapi hal itu membuatku senang melihat kalian semua seolah bisa merasakan cinta saya yang besar untuk Maudy. Terima kasih atas dukungannya,” imbuhnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini