Berdampak Buruk, Ini 6 Cara Kurangi Kebiasaan Anak Mengemut Makanan

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Tidak sedikit ibu yang kesulitan menghadapi anak yang lama sekali makannya. Bukannya langsung mengunyah, anak justru hanya mengemutnya sesaat setelah makanan masuk ke mulut.

Kebanyakan anak usia dini justru memiliki kebiasaan mengemut makanan. Penyebab kebiasaan tersebut bisa jadi karena belum mengerti cara mengunyah yang benar dalam masa transisi dari makanan cair ke makanan padat, atau bisa juga karena anak makan sambil bermain sehingga lupa mengunyah.

Kebiasaan mengemut makananan ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan anak. Seperti gigi yang lebih mudah rusak, serta risiko infeksi gigi dan gusi. Dengan begitu, anak akan kekurangan gizi penting yan gdibutuhkan dalam proses tumbuh dan kembangnya.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya? Berikut beberapa tips agar anak mengurangi kebiasaannya mengemut makanan:

1. Ajari mengunyah yang benar

Peran orangtua sangat penting dalam mengurangi kebiasaan buruk anak yang satu ini. Orangtua harus memberi contoh pada anak bagimana cara mengunyah yang benar secara bertahap.

Mulai dari membuka mulut, menggerakkan rahang untuk mengunyah, hingga menelan makanannya. Orangtua juga harus menjelaskan bahwa makanan harus dikunyah sampai halus dahulu sebelum ditelan.

2. Variasikan menu

Awal mula munculnya kebiasaan anak mengemut makanan, bisa saja karena ia bosan dengan makanannya. Bukan hanya lauk pauknya saja, melainkan juga makanan utamanya seperti nasi.

Orangtua, khususnya ibu, bisa mengganti nasi dengan macaroni, spageti, atau roti. Sesekali, orangtua juga membiarkan anak untuk memilih sendiri jenis makanan yang ia sukai agar anak semangat untuk mengonsumsinya.

3. Hentikan kebiasaan menghisap dot

Menghisap dot bisa membuat anak terbiasa mengemut makanan. Ada baiknya pengurangan pemberian dot dilakukan secara bertahap.

Jangan lupa jelaskan pada anak dengan bahasa yang halus dan mudah dimengerti, mengapa kebiasaan tersebut harus dibatasi.

4. Ciptakan waktu makan yang menyenangkan

Hindari memberi makan anak sambil menonton televisi atau saat sedang bermain. Kurangi juga mengajak anak mengobrol selagi makan agar anak bisa fokus untuk mengunyah.

Biasakan juga untuk makan bersama di meja makan dengan anggota keluarga yang lain. Dengan begitu anak tidak merasa bosan jika dibandingkan makan berdua dengan ibu yang menyuapinya.

Oh iya, jangan mencubit atau memukul anak jika ia kedapatan mengemut makanannya. Hal ini bisa membuat trauma, atau justru membuat anak lebih lama memproses makanannya.

5. Waktu makan yang tak lebih dari 30 menit

Jangan membiarkan anak makan dengan waktu yang terlalu lama, karena makanan akan teroksidasi dan terkontaminasi sehingga rasa dan bentuknya bisa berubah.

Sangat disarankan untuk menyelesaikannya paling lama 30 menit, dengan catatan jangan paksa anak untuk menghabiskan makanannya karena dapat membuatnya trauma. Selain itu, Si Kecil akan merasa bahwa waktu makan adalah waktu yang menakutkan baginya.

Berikan porsi makan yang kecil untuk buah hati dalam frekuensi yang sering (small frequent feeding), daripada porsi besar tetapi dipaksa untuk menghabiskannya hingga lebih dari 30 menit.

6. Makan dulu sebelum main

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, membiarkan anak makan sambil bermain akan membuatnya tidak fokus dan lupa untuk mengunyah. Pisahkan waktu antara waktu makan dan bermain. (Dinda)

Berita Terbaru

Trauma Healing, Upaya Strategis Negara Pulihkan Generasi Pascabencana Sumatra

Oleh : Nancy Dora  Bencana ekologis yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Aceh kembali menegaskanbahwa dampak kebencanaan tidak berhenti pada kerusakan fisik dan kerugian material. Di balikrumah yang runtuh, jalan yang terputus, dan fasilitas umum yang rusak, terdapat luka psikis yang jauh lebih dalam, terutama pada anak-anak sebagai kelompok paling rentan. Dalam konteks ini, trauma healing bukan sekadar program pelengkap pascabencana, melainkan menjadi upayastrategis negara untuk memulihkan dan melindungi masa depan generasi terdampak. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa anak-anak mencakup sekitar sepertiga dari total pengungsi pascabencana di Sumatra dan Aceh. Kondisi tersebut menempatkan mereka padasituasi krisis berlapis, mulai dari kehilangan rasa aman, keterputusan akses pendidikan, hinggatekanan psikologis akibat pengalaman traumatis. Wakil Ketua Komisi Perlindungan AnakIndonesia (KPAI), Jasra Putra, menegaskan bahwa pemulihan mental dan sosial anak harusditempatkan sebagai prioritas utama dalam penanganan bencana, karena trauma yang tidaktertangani berpotensi menghambat perkembangan kognitif dan emosional anak dalam jangkapanjang. Pendekatan trauma healing yang didorong KPAI menempatkan anak bukan hanya sebagaikorban, tetapi sebagai subjek pemulihan yang aktif. Melalui konsep eco-healing, anak-anakdiajak berinteraksi kembali dengan lingkungan secara positif. Pendekatan ini menggabungkanpemulihan psikologis dengan edukasi ekologi, sehingga anak tidak tumbuh dengan rasa takutterhadap alam, melainkan dengan kesadaran untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Dalampraktiknya, material sisa bencana dimanfaatkan sebagai sarana ekspresi kreatif, seperti karya seniatau fasilitas belajar sederhana, yang membantu anak memaknai ulang pengalaman traumatissecara konstruktif. Lebih jauh, eco-healing juga diarahkan untuk membangun resiliensi jangka panjang denganmengintegrasikan kearifan lokal. Pelibatan tokoh adat seperti Ninik Mamak di Sumatra Barat dan Tuha Peuet di...
- Advertisement -

Baca berita yang ini