Bangkitkan Harry Roesli, dari Tribute hingga Rilis Ulang “Philosophy Gang”

Baca Juga

MATA INDONESIA, BANDUNG – Sejumlah orang dan anak muda yang masih mengetahui musisi Harry Roesli mencoba membangkitkan karya-karyanya untuk dikenali warga milenial kita sehingga mereka tahu bahwa Indonesia pernah memiliki seorang jenius musik.

Tercatat baru dua kali acara “Tribute to Harry Roesli” diselenggarakan di Bandung. Pertama sekitar 2013 dan kedua tiga tahun lalu.

Anggota Wachdach Band yang pernah ‘mondok’ di Supratman 57 Bandung, Erland Effendy, mengaku cukup terkesan ketika mengikuti acara tersebut.

Saat berbincang dengan Mata Indonesia, dia masih bisa merasakan kehebatan musik ciptaan sahabatnya Harry Roesli yang bisa disebut maju pada zamannya.

Erland mengaku saat bermain di acara yang diselenggarakan di Bumi Sangkuriang tersebut, mengaku terkesima dengan karya sahabatnya itu yang bisa menciptakan harmoni dengan kemasan kekinian.

Saat berbincang dengan Mata Indonesia, dia menjelaskan bahwa musik Harry Roesli yang orginal tidak hilang tetapi justru diramu dengan bunyi-bunyian dari alat musik era milenial.

“Ternyata musik Harry Roesli original jika digabungkan dengan sound baru masa kini justru bisa menghasilkan komposisi yang luar biasa,” ujar Erland.

Artinya, musik Harry Roesli yang dahulu sering dianggap “lieuer” ataqu memusingkan untuk orang pada masa itu, justru bisa terdengar enak di masa kini.

Hal itu pula yang mendorong Rendi Pratama dari LaMunai Records untuk memproduksi dan merilis ulang album Harry Roesli terutama “Philosophy Gang.”

Rendi adalah salah satu anak muda yang terkesan dengan “Philosophy Gang.” Sebab, pemuda 30 tahun itu sering mendengarkan lagu “Malaria” yang diputar pedagang piringan hitam atau Vinyl di Cikapundung, Bandung saat dia masih kuliah.

Saat itu dia ditawari membelinya dengan harga Rp 150 ribu saja, namun Rendi menolaknya. Setelah beberapa tahun kemudian Rendi mendengarkan “Don’t Talk about Freedom” baru disadari kualitas musisi bangsa sendiri tidak kalah dengan komposisi Frank Zappa.

Akhirnya dia memutuskan mencari uang dengan menjual koleksi piringan vinylnya. Setelah uang terkumpul dia pun berpikir untuk memproduksi ulang “Philosophy Gang” karena saat dia berjualan vinyl ada yang berada menukar album tersebut dengan uang Rp 4 juta dan peminatnya pun banyak.

Atas restu keluarga almarhum, terutama izin dari Ibu Kania Perdani Kandiman, istri Harry Roesli dan “keluarga” lainnya Rendi merilis ulang “Philosophy Gang,” Jumat 17 Maret 2017.

Anak muda pun mengantre untuk mendapatkan produksi ulang album milestone Harry Roesli tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini