Ada Moon Ga Young, 5 Seleb Korsel Ini Punya Keahlian Bahasa yang Unik

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Beberapa idola dan aktor Korea Selatan nampaknya diberkati dengan keterampilan dalam berbagai bahasa. Menguasai bahasa asing tentunya jadi keuntungan tersendiri.

Bagi, publik figur Korea Selatan, bahasa tersebut bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan para fans global. Uniknya, beberapa dari mereka mampu berbicara bahasa yang agak tidak umum di industri hiburan Korea.

Siapa saja mereka? Cekidot!

1. Moon Gayoung

Aktris Moon Gayoung lahir di Karlsruhe, Jerman, dan tinggal di sana selama 10 tahun sebelum pindah bersama keluarganya ke Korea Selatan. Dia bahkan bisa berkomunikasi dengan seorang pelanggan Jerman dalam sebuah episode ‘Foodvengers.’

2. Sandara Park

Sandara Park, juga dikenal sebagai Dara, lahir di Korea Selatan tetapi pindah ke Filipina bersama keluarganya ketika dia berusia 10 tahun. Dia merasa kesepian di Filipina karena dia tidak tahu bahasanya, jadi dia bekerja sangat keras untuk menyempurnakan keterampilan Tagalog-nya. Ia bahkan memulai debutnya sebagai aktris dan penyanyi di Filipina sebelum pindah kembali ke Korea Selatan.

3. Seo Yea Ji

Aktris Seo Yea Ji merasa tidak aman dengan suaranya yang dalam ketika dia masih muda, tetapi menemukan kepercayaan baru pada seberapa cocok bahasa Spanyol dengan suaranya. Dia kuliah di Complutense University of Madrid di Spanyol dan mengambil jurusan jurnalisme, di mana dia menjadi fasih dalam bahasanya.

4. YangYang WayV

YangYang dari WayV lahir di Taiwan tetapi tinggal di Düsseldorf, Jerman selama sebagian besar masa remajanya. Dia bersekolah di sekolah internasional di Neuss, Jerman selama 6 tahun, di mana dia bisa fasih berbahasa Jerman dan Inggris.

5. Howon W24

Howon dari grup W24 lahir di Chili dan menghabiskan 19 tahun pertama hidupnya tinggal di Chili, Venezuela, dan Peru. Dia juga fasih berbahasa Korea dan Inggris.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini