5 Potret Gita Savitri Ini Buktikan Dirinya Mirip Kim Ji Won, Setuju?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Buat Kamu yang doyan nonton YouTube pastinya tahu dong dengan sosok Gita Savitri. Gita adalah kreator konten video YouTube, blogger, dan pemengaruh media sosial.

Gita lahir di Palembang 27 Juli 1992. Yups, hari ini dia ulang tahun yang ke-28 tahun. Selamat ulang tahun Gita!

Bagi yang suka nonton konten yang dibuat Gita, ia memang kerap membagikan opininya tentang berbagai isu di Indonesia maupun dunia dengan bahasan ala anak muda. Jadi emang keren banget dan Insya Allah ada faedahnya deh buat yang nonton.

BACA JUGA: Viral! Video Kelakuan Anak Kucing Curi Uang Segepok dari Kasir

Seiring dengan kepopulerannya, Gita Savitri juga pernah disebut-sebut mirip aktris Korea Selatan. Ia disebut mirip dengan Kim Ji Won, artis yang membintangi film ‘Descendants of The Sun’.

Beneran mirip gak sih? 5 potret Gita Savitri ini buktikan dirinya mirip Kim Ji Won:

1. Lihat deh, mirip Kim Ji Won kan?

Gita Savitri (Foto: Instagram/@gitasav)

2. Meski dilihat dari samping, Gita tetap mirip Kim Ji Won.

Gita Savitri (Foto: Instagram/@gitasav)

3. Gita disebut-sebut Kim Ji Won versi berhijab.

Gita Savitri (Foto: Instagram/@gitasav)

4. Menurut Kamu yang bikin Gita mirip dengan Kim Ji Won apanya sih?

Gita Savitri (Foto: Instagram/@gitasav)

5. Gaya Gita Savitri gak kalah keren dari Kim Ji Won.

Gita Savitri (Foto: Instagram/@gitasav)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini