Program MBG Tingkatkan Ekonomi Desa

Baca Juga

Oleh: Samantha Rashid *)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah bukan sekadar inisiatif untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi di pedesaan. Dengan alokasi dana yang semakin besar, program ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih mandiri di tingkat desa, sekaligus mengurangi kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menekankan bahwa dengan adanya program MBG, anggaran dana desa mengalami peningkatan signifikan. Jika sebelumnya dana desa rata-rata berada di angka Rp1,1 miliar per tahun, maka kini dengan adanya program ini, jumlah tersebut bisa meningkat hingga Rp 6-8 miliar per desa. Peningkatan ini secara langsung membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih merata karena perputaran dana akan lebih besar di desa-desa. Ia juga menambahkan bahwa program ini berkontribusi pada efisiensi ekonomi di tingkat desa, memungkinkan masyarakat setempat untuk memaksimalkan potensi yang ada.

Tantangan utama dari program ini bukan terletak pada pendanaan, melainkan pada pengelolaan yang optimal. Untuk itu, pemerintah telah berdiskusi dengan berbagai pihak, termasuk Rockefeller Foundation, guna mencari model yang paling tepat dalam menjalankan program ini. Dengan berkaca pada pengalaman negara lain seperti Korea Selatan dan India, MBG diharapkan mampu menjadi program yang berkelanjutan dan efektif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah pun telah melakukan berbagai upaya agar program ini dapat berjalan secara optimal. Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo mengungkap bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memutuskan untuk menambah anggaran MBG sebesar Rp100 triliun. Dengan tambahan tersebut, total anggaran MBG tahun ini menjadi Rp171 triliun. Menurut perhitungan yang dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dengan anggaran awal Rp71 triliun yang diperkirakan akan habis pada Oktober mendatang, pertumbuhan ekonomi dapat meningkat sebesar 0,83 persen.

Dengan tambahan anggaran yang baru, pertumbuhan ekonomi diprediksi mencapai angka 2 persen. Ini menunjukkan bahwa program MBG bukan hanya bermanfaat dalam hal ketahanan pangan, tetapi juga menjadi stimulus besar bagi perekonomian nasional. Program ini dipandang sebagai langkah nyata dalam mempercepat pemerataan ekonomi dengan mendorong produksi dalam negeri, khususnya dari sektor pertanian dan peternakan yang akan memasok kebutuhan makanan bagi program ini.

Selain itu, pelaksanaan program MBG turut mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi yang lebih inklusif di pedesaan. Dengan meningkatnya kebutuhan pangan untuk mendukung program ini, desa-desa yang sebelumnya hanya menjadi konsumen kini bertransformasi menjadi produsen yang aktif dalam rantai pasok nasional. Perubahan ini bukan hanya mengurangi ketergantungan terhadap distribusi dari kota, tetapi juga menambah lapangan kerja bagi masyarakat lokal.

Sebagai contoh, dampak program ini telah dirasakan oleh pelaku usaha di tingkat desa di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kepala Dinas Perindustrian NTB, Nuryanti, menjelaskan bahwa program MBG menciptakan permintaan tinggi terhadap berbagai bahan pangan yang diproduksi masyarakat desa. Dari sektor pertanian hingga peternakan, program ini memberikan kesempatan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta Industri Kecil Menengah (IKM) untuk terlibat dalam rantai pasok bahan makanan bergizi.

Dengan adanya kebutuhan harian yang besar akan telur, ayam, sayuran, dan komoditas lainnya, pelaku usaha di desa memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan kapasitas produksi mereka. Selain meningkatkan permintaan, program ini juga memberikan dorongan bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas serta daya saing produk lokal. Di NTB, misalnya, Balai Kemasan NTB telah disiapkan untuk membantu UMKM dalam mengemas bumbu dapur sehat dengan tampilan yang lebih menarik. Dengan demikian, produk-produk desa tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan program MBG, tetapi juga bisa diperkenalkan ke pasar yang lebih luas. Langkah ini sejalan dengan strategi pemerintah untuk mengembangkan industri lokal agar memiliki daya saing tinggi.

Pelaksanaan program ini tentu memerlukan waktu dan berbagai penyesuaian. Namun, optimisme pemerintah tetap tinggi dalam memastikan keberhasilannya. Banyak pihak mengajak seluruh masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung MBG, karena program ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha. Dengan adanya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, UMKM, dan masyarakat luas, program ini akan mampu membawa perubahan yang signifikan, baik dalam aspek kesehatan maupun ekonomi.

Sebagai simbol komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, MBG tidak hanya memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan makanan bergizi, tetapi juga membuka peluang besar bagi penguatan ekonomi desa. Dengan aliran dana yang lebih besar, keterlibatan UMKM dan IKM yang semakin luas, serta strategi pengelolaan yang lebih matang, program ini akan menjadi salah satu tonggak penting dalam membangun kemandirian ekonomi desa dan pemerataan kesejahteraan di seluruh negeri. Keberlanjutan program ini akan sangat bergantung pada bagaimana seluruh elemen bangsa dapat bersatu dalam mewujudkan visi besar pemerintah untuk menciptakan Indonesia yang lebih sejahtera.

*) Pemerhati Ekonomi Desa dari Pancasila Madani Institute

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini