Indonesia Bangkit, Indonesia Bebas Sampah Makanan

Baca Juga

MATA INDONESIA, – Hai teman, apakah kamu pernah membuang makanan? Ketika membeli makanan dan akhirnya tidak habis lalu makanan dibuang. Atau ketika makan di rumah makan/restoran bahkan di perjamuan pesta, adakah nasi, lauk, sayur yang tersisa di piring? Dengan berbagai alasan sehingga makanan tidak dihabiskan. Ntah karena sudah kenyang, bosan dengan makanannya, makanan sudah basi atau bahkan makanan yang tidak enak. Jadilah sampah makanan.

Ketika kecil, jika makananku tidak habis maka mamaku akan mengatakan :

“Ayo,,dihabiskan nasinya. Kalau gak dihabiskan nanti nasinya nangis lho.”

Kalimat tersebut akhirnya membuatku menghabiskan makananku. Suka tidak suka walaupun sudah kenyang, ditelan saja. Bahkan sekarang setelah menjadi ibu, kalimat tersebut pun sering kukatakan kepada anakku ketika dia enggan menghabiskan makanannya. Mungkin teman-teman juga mengalami hal yang sama denganku.

Jika diamati, proses tidak menghabiskan makanan/ food waste  sudah terjadi dari generasi ke generasi. Seolah-olah tidak menghabiskan makanan/food waste adalah hal yang biasa. Setiap rumah, restoran, tempat hajatan dan pesta selalu ada sampah makanan.

Karena kebiasaan tidak menghabiskan makanan/food waste, Indonesia mendapat peringkat kedua sebagai produsen sampah makanan terbesar di dunia setelah Arab Saudi. Berdasarkan survei, di Indonesia terdapat sekitar 13 juta ton sisa makanan setiap tahunnya, dan jika dirata-ratakan setiap orang membuang sampah makanan sekitar 300 kg setiap tahunnya.

Wow, banyak sekali ya makanan yang terbuang setiap tahunnya.

Kebiasaan menyisakan makanan/food waste harus diubah. Karena berdampak negatif bagi lingkungan, dan merugikan makhluk hidup termasuk manusia. Sampah sisa makanan merupakan sampah organik yang bisa terurai, namun sampah dapat menyebabkan polusi air, udara, bahkan banjir.

Selain itu gas karbondioksida dan gas metana dari sampah makanan juga mengakibatkan efek rumah kaca yang menimbulkan pemanasan global. Gas metana dari sampah diyakini 25 kali lebih membahayakan daripada karbondioksida. Salah satu contoh bencana dari gas metana yaitu terjadinya ledakan gas metana di TPA leuwigajah Cimahi pada tahun 2005 dan menimbulkan korban jiwa.

Bau yang tidak sedap dari sampah makanan juga dapat mengganggu aktivitas dan sumber penyebaran penyakit. Kebayang gak bagaimana jika setiap hari mencium aroma tidak sedap dari sampah? Bisa-bisa pusing dan mual terus.

Setiap kita tentu tidak ingin merasakan dampak negatifnya. Solusi dari keadaan tersebut adalah mengubah kebiasaan membuang makanan / food waste dan pengelolaan sampah yang benar.

Mengubah kebiasaan memang bukanlah sesuatu yang mudah semudah membalikkan telapak tangan. Kebiasaan terbentuk dari kegiatan yang dilakukan secara terus menerus. Perlu edukasi dan sosialisasi dimulai dari lingkup terkecil yaitu dari rumah. Sedari dini menanamkan konsep dan perilaku yang benar tentang makanan.

Dimulai dari aku, dimulai dari kita, dimulai dari rumah:

  1. Save the food (Ambil—makan–habiskan)

Ketika membeli ataupun mengambil makanan, terkadang kita sering lapar mata. Semua mau diambil, namun tidak mengukur kapasitas perut. Dimulai sejak dini dalam keluarga untuk menghabiskan makanan yang diambil dan mengambil sesuai porsi masing-masing.

  1. Memasak sesuai kebutuhan

“Masak banyak dengan masak sedikit capeknya sama.” Kata-kata itu pernah dilontarkan seorang teman kepadaku.  Beliau memasak makanan lebih banyak agar tidak repot memasak untuk beberapa hari. Jadi makanan disimpan di kulkas agar tahan lama. Namun, walaupun tahan lama akhirnya temanku pun bosan dengan makanan tersebut dan membeli makanan lainnya. Sehingga makanan yang disimpan di kulkas akhirnya terbuang.

  1. Membuat list/catatan belanja

Sebelum berbelanja, perlu mencatat segala sesuatu yang dibutuhkan. Sehingga ketika berbelanja tidak kalap dan lapar mata. Tidak terpengaruh dengan embel-embel diskon/promo. Hanya membeli yang dibutuhkan sehingga tidak terjadi penumpukan stok bahan makanan.

  1. Memperhatikan ketahanan bahan makanan

Mengetahui ketahanan bahan pangan serta teknik penyimpanannya. Untuk bahan makanan dalam kemasan perlu diperhatikan tanggal kadaluarsa yang tercantum, apakah makanan tersebut masih layak untuk dikonsumsi atau tidak. Buah-buahan, sayuran memiliki masa kesegaran dan ketahanannya masing-masing. Jika mengetahui ketahanan bahan makanan dan bagaimana penyimpanannya bisa mengurangi sampah makanan.

  1. Sisa makanan untuk hewan ternak

Jika terdapat sisa makanan bisa memberikan kepada hewan peliharaan seperti anjing, kucing, ayam dll.

  1. Mengolah kembali sampah sisa makanan.

Memang tidak semua sampah sisa makanan bisa diolah. Namun ada beberapa yang masih bisa diolah dan bermanfaat. Berikut beberapa contoh pengolahan sisa makanan.

  • Limbah makanan menjadi kompos
  • Bahan bakar biogas. Sampah makanan diolah kembali menjadi biogas sebagai energi baru yang dapat membantu mengurangi emisi gas karbon.
  • Mengolah kembali bahan makanan yang masih baik menjadi jenis makanan baru. Misalnya pembuatan Infused water dari kulit buah, membuat nasi goreng dari sisa nasi yang tidak habis, dll.

Mengurangi dan mengolah sampah makanan, menghasilkan banyak manfaat diantaranya : mengurangi dampak iklim buruk dan efek rumah kaca, meningkatkan perekonomian dengan terciptanya lapangan kerja baru (recycle,reuse dan remanufacture) seperti usaha pembuatan kompos dan biogas bahkan untuk kerajinan tangan.  Selain itu juga membentuk gaya hidup hemat.

Edukasi gaya hidup minim sampah makanan perlu disosialisasikan ke seluruh lapisan masyarakat. Dimulai dari rumah dan keluarga.

Lingkunganku sehat, Indonesiaku bersih,

Indonesia bangkit, Indonesia bebas sampah makanan.

Penulis: Andriana rumintang

Instagram:  @andrianarumintang

40 KOMENTAR

  1. Setuju,,,memang merubah kebiasaan tidak mudah dan perlu waktu,,,,,tapi bukan berarti tidak mungkin bila dilakukan konsisten,,,,yuk mulai kesadaran akan waste management dari keluarga sendiri 🙂

  2. Gak nyangka kalo Indonesia penyumbang sampah terbesar dunia no 2.Makasih banget dengan artikel ini mengingatkan kita kalo kita masih sering bergaya hidup boros.Semoga kita bisa mengelola bahan yg tersisa ataupun sampah menjadi hal yg bermanfaat sehingga membantu pengurangan sampah

  3. Benar sekali, saya juga selalu mengedukasi serta mengingatkan anak dan diri sendiri setiap akan mengambil makanan, kalau mau mengambil makanan, ambil sedikit kalau kurang bisa ditambah kemudian agar makanan tidak bersisa.

  4. Yes.. Sejak covid19 membuat saya dan keluarga jarang keluar rumah, saya menghabiskan hobby menanam dan berkebun, utk penghematan dan sekaligus mengurangi sampah, saya membuat kompos pupuk tanaman dari sisa2 sampah dapur, mulai dr kulit buah2an, kulit wortel, kulit bawang, kulit jahe dsj, termasuk air cucian beras menjadi bahan2 pembuatan pupuk organik utk tanaman2 kesayangan. Saya juga sudah menshare ke orang2 terdekat yg juga hobby bertanam supaya dapat melakukan hal yg sama. Jadi tulisan ini, benar2 akan menginspirasi lebih banyak orang untuk ikut menyelamatkan bumi ini dari sampah2 yg ada. Terimakasih tulisannya kak Andriana, tulisan mu indah seindah wajahmu ?

  5. Wow…tulisan yang sangat bagus dan menginspirasi. Yuk kita mulai berubah mulai dari saat ini. Jangan buat lagi sampah makanan setiap hari. Peduli diri dan peduli negeri.

  6. Mari kita mulai sadar dan bijak dlm pengolahan sampah sisa makanan.. Dimulai dari keluarga masyrkat lingkungan dan lingkup trbesar,,
    Dengan membaca artikel ini smoga bs mengispirasi?

  7. Artikel nya sangat baik… Menimbulkan kesadaran kembali untuk peduli dalam pengolahan sampah agar lebih bermanfaat. Dan harus dimulai dr diri sendiri ?. Smoga menang ya kak?

  8. Setujuu sama artikel ini…ambil secukup dan seperlu nya dan habiskan..hilangkan kebiasan food waste selain mubazir juga bisa merusak lingkungan karna limbah nya tidak di olah dengan benar

    Semangat teruss menulis artikel lainny kaaakk ???

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini