Nyesek! Wanita Ditipu Rp 19 Juta, Pacar LDR-nya Ternyata Teman Sendiri

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Buat Kamu yang menjalani hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR) sebainya Kamu harus hati-hati ya! Apalagi, pacar Kamu selalu menolak diajak video call atau ketemuan. Bisa jadi Kamu jadi korban penipuan lho.

Seperti kisah hubungan LDR yang baru-baru ini viral di media sosial. Seorang wanita ditipu hingga belasan juta oleh temannya sendiri yang ternyata selama ini adalah sosok dibalik pacar LDRnya.

Kisah ini dibagikan Twitter @AdiKaGuna pada Minggu 19 April 2020. Ia merupakan teman dari korban penipuan tersebut.

BACA JUGA: LDR-an dengan Cewek Taiwan, Jelang Nikah Pas Dilihat Ternyata Zonk!

Pada postingan yang telah disukai 24 ribu lebih itu mengungkapkan bahwa teman @AdiKaGuna telah menjalin hubungan asmara jarak jauh selama tiga tahun dan ditipu hingga kehilangan uang Rp 19 juta.

“HATI HATI KALAU PACARAN LDR!! Apalagi kalo ga pernah video call. Mau share cerita dari seorang teman yang sedang mengalami nasib buruk, semoga jadi pelajaran untuk kita agar berhati-hati dalam menjalin hubungan,” tulis @AdiKaGuna.

Dalam postingan itu, @AdiKaGuna mengunggah beberapa curhatan temannya di Insta Story yang ditipu. Wanita yang identitasnya ini ingin disembunyikan mengaku menjalin hubungan dengan seseorang bernama Evan Pranata selama 3 tahun.

“Si Evan ini mengaku tinggal dan kuliah di Jakarta. Banyak banget alasan setiap diajak ketemu, mulai dari lagi ada masalah keluarga, nggak punya duit, lagi ada masalah karena nabrak orang, sakit keras, dll,” cerita wanita tersebut.

“Di sini aku masih kayak yang ‘oh ini aku ada uang biar aku aja yang susulin’, tapi lagi-lagi selalu ada alasan,” imbuhnya.

Selama pacaran, setiap kali si pacar bercerita sedang kesusahan, ia pun masih percaya jdan kerap membantu. Wanita ini pun merasa bodoh karena selama tiga tahun dibohongi oleh pacarnya.

BACA JUGA: Sering Main Game Bareng, Wanita Ini Rela Cerai dan Pacaran dengan Sahabat Anaknya

Ia bilang kalau selalu transfer dalam jumlah yang besar. Setelah dihitung-hitung totalnya lebih dari Rp 19 juta karena ia juga memberikan smartphone.

“Kesusahan dalam artian ‘aku nabrak orang’, cerita yang sekedar cerita tapi butuh uang. Dan aku sebagai pacar yang kebetulan punya tabungan, aku benar-benar pinjemin dia uang, dan itu selalu terjadi karena alasan mau ketemu tapi nggak ada duit. Aku selalu transfer uang dengan nominal besar, sampe aku juga kaget banget ternyata setelah semua resi dikumpulin nominalnya gede banget. Yang keitung 19 juta plus 1 iPhone 6 S,” jelasnya.

Wanita ini memilih untuk memutuskan hubungannya karena sudah terlalu lelah. Tapi, sang pacar selalu mengganggunya, bahkan teman-teman dan keluarganya diganggu.

Hingga akhirnya, wanita ini mengetahui kenyataan pahit bahwa selama ini yang menjadi Evan, adalah temannya sendiri yaitu Renti Nurzatika. Ia pun merasa hancur karena telah ditipu oleh Renti yang berpura-pura menjadi Evan.

“Hancur banget hati aku ternyata teman yang aku anggap baik ya Allah ?,” ujarnya.

Wanita ini kemudian mengumpulkan resi pengeluaran yang telah ia berikan untuk Evan, ternyata Renti. Ia minta agar uang tersebut bisa kembali. Namun, setelah tiga bulan tak ada niat baik dari Renti, wanita ini memilih jalur hukum dengan melapor polisi.

So, buat Kamu yang menjalani hubungan LDR hati-hati ya gaes!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Membantah Narasi Pesimis Barisan Oposisi, Publik Makin Optimistis pada Pemerintahan Prabowo

Oleh: Ardiansyah Pratama, Pengamat Politik dan Kebijakan PublikNarasi pesimisme yang belakangan digaungkan oleh kelompok yang menamakan diri BarisanOposisi Indonesia (BOI) patut diuji secara kritis. Di tengah derasnya tudingan terhadap kinerjapemerintahan Prabowo Subianto, fakta-fakta empiris justru menunjukkan arah yang berbeda: penguatan sistem tata kelola negara terus berjalan, dan fondasi ekonomi nasional tetap kokoh. Dalam konteks ini, publik semakin rasional dalam memilah antara kritik konstruktif dan opiniyang tidak berbasis data.Salah satu indikator penting dari keseriusan pemerintah dalam membangun tata kelola yang bersih adalah penguatan reformasi antikorupsi berbasis sistem. Kolaborasi antara KomisiPemberantasan Korupsi dan Arsip Nasional Republik Indonesia menjadi contoh konkretbagaimana pencegahan korupsi tidak lagi hanya mengandalkan pendekatan penindakan, melainkan diperkuat melalui sistem administrasi yang transparan dan akuntabel.Ketua KPK Setyo Budiyanto disebut memandang pengelolaan arsip sebagai fondasi pentingdalam membangun sistem pengawasan yang kredibel. Ia menekankan bahwa digitalisasi danautomasi dokumen menjadi agenda strategis ke depan, meski tetap dihadapkan pada kebutuhanmenjaga dokumen fisik untuk kepentingan pembuktian hukum. Dengan demikian, reformasiyang dijalankan dinilai menyentuh aspek fundamental, bukan sekadar formalitas kelembagaan.Di sisi lain, Kepala ANRI Mego Pinandito menggarisbawahi bahwa kualitas kearsipan nasionalmemiliki korelasi erat dengan efektivitas pengawasan dan potensi risiko korupsi. Ia menilaipenurunan indeks pengawasan kearsipan nasional harus dijadikan momentum evaluasi untukmemperkuat sistem pengawasan berbasis data. Dalam pandangannya, intervensi melaluiMonitoring Controlling Surveillance for Prevention (MCSP) perlu didorong agar tidak hanyaberorientasi administratif, tetapi juga mampu menciptakan integrasi sistem lintas lembaga.Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap kekurangan, melainkan menjadikannya sebagai pijakan untuk perbaikan berkelanjutan. Di sinilah letakperbedaan mendasar antara kritik berbasis data dan kritik yang cenderung membangun persepsinegatif tanpa landasan kuat. Narasi yang dibangun BOI, menurut sejumlah pengamat, justrumengabaikan dinamika perbaikan yang sedang berlangsung.Lebih jauh, transformasi sistem melalui integrasi teknologi seperti aplikasi SRIKANDI menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun interoperabilitas data. Hal ini pentinguntuk memastikan bahwa setiap proses administrasi dapat ditelusuri secara transparan, sekaligusmeminimalkan celah korupsi. Kolaborasi lintas lembaga yang mencakup peningkatan kapasitassumber daya manusia hingga kemungkinan pertukaran pegawai juga menegaskan bahwareformasi dilakukan secara menyeluruh.Tidak hanya pada aspek tata kelola, bantahan terhadap narasi pesimisme BOI juga terlihat jelasdalam sektor ekonomi. Klaim pelemahan ekonomi yang digaungkan tidak sejalan dengan data resmi yang menunjukkan stabilitas makroekonomi Indonesia. Inflasi yang terkendali, defisitanggaran yang tetap terjaga, serta rasio utang terhadap PDB yang relatif rendah menjadiindikator bahwa ekonomi nasional berada dalam kondisi sehat.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa disebut menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan danBelanja Negara (APBN) tetap dalam kondisi kuat dan kredibel di tengah dinamika global. Iamemandang strategi pengelolaan kas yang proaktif, termasuk penempatan dana pemerintah di sektor perbankan, mampu menjaga likuiditas sekaligus mendorong aktivitas ekonomi. Kebijakantersebut dinilai sebagai bentuk kehadiran negara dalam menjaga stabilitas ekonomi dan daya belimasyarakat.Dari perspektif global, Chief Economist IQI Global Shan Saeed juga menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap solid. Ia melihat stabilitas makroekonomi, disiplin fiskal, sertakonsistensi kebijakan sebagai faktor utama yang menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengahtekanan global. Bahkan, kinerja Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi turut memperkuatkeyakinan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.Data investasi yang terus tumbuh serta peningkatan penyerapan tenaga kerja semakinmemperkuat optimisme tersebut. Realisasi investasi yang tinggi menunjukkan bahwakepercayaan investor terhadap Indonesia tetap terjaga....
- Advertisement -

Baca berita yang ini