Catat, Pulau Galang Diandalkan Pemerintah Jokowi Hadapi Penyebaran Corona

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pulau Galang dilirik Pemerintah Jokowi untuk mengantisipasi penyebaran virus corona Covid-19 di luar Cina. Jika negara-negara seperti Korea Selatan dan Jepang melakukan lockdown seperti di Cina, maka Indonesia akan menempatkannya di Pulau Galang tersebut.

“Kita berharap tidak ada lockdown lagi,” ujar Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto seperti dikutip Kamis 5 Maret 2020.

Saat ini, Korea Selatan negara dengan kasus terinfeksi Covid-19 paling banyak di luar Cina.

Berdasarkan data worldometer, tercatat 5.766 kasus terinfeksi virus tersebut. Sedangkan korban meninggal dunia 35 orang sedangkan yang sembuh total mencapai 88 orang.

Sedangkan di Jepang terdapat 331 kasus terinfeksi dengan korban meninggal 6 orang dan yang sembuh total 43 orang.

Sementara di Singapura terdapat 112 kasus terinfeksi tanpa data korban meninggal dunia. Sedangkan yang sembuh total 79 orang.

Maka, kemungkinan terbesar negara yang akan melakukan lockdown adalah Korea Selatan. Menurut Yuri, ada 5.000 WNI di Korea Selatan sekarang, sehingga Indonesia harus siap jika negeri ginseng itu mendadak melakukan lockdown, bukan karena ingin membangun rumah sakit khusus pasien corona.

Dipilihnya Pulau Galang karena ada fasilitas kesehatan yang sudah lama tidak digunakan di sana sejak para pengungsi Vietnam meninggal lokasi tersebut.

Kondisinya sekarang memang tidak terpelihara. Hampir sebagian besar stukturnya masih ada tapi tidak mungkin dipakai karema atapnya ada yang hilang serta beberapa bagian bangunan rusak.

Presiden Jokowi mengusulkan hal tersebut karena untuk digunakan lagi hanya memerlukan renovasi singkat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Danantara, PSEL, dan Masa Depan Pengelolaan Sampah Indonesia

*) Oleh: Citra Ningrum OktaviaPemerintah tengah menghadapi salah satu tantangan paling mendesak dalampembangunan nasional, yakni darurat sampah perkotaan yang selama bertahun-tahun berjalan tanpa penyelesaian menyeluruh. Timbunan sampah yang terusmeningkat tidak lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan, melainkan telahmenjadi ancaman serius bagi kesehatan publik, kualitas ekosistem, hingga ketahananenergi nasional. Di tengah situasi tersebut, langkah pemerintah menggandengDanantara Indonesia untuk mempercepat pembangunan fasilitas PengolahanSampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan keputusan strategis yang menunjukkan keberanian negara keluar dari pola lama pengelolaan sampah yang stagnan. Penandatanganan nota kesepahaman pembangunan PSEL di enam lokasibersama 13 pemerintah daerah menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak lagi bekerjadengan pendekatan parsial, tetapi mulai membangun sistem pengelolaan sampahyang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang.Lebih jauh, penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentangpercepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrikmemperlihatkan adanya keseriusan politik pemerintah dalam membenahi tata kelolasampah nasional. Menko Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa regulasitersebut telah mendorong langkah konkret pemerintah pusat dan daerah untukbergerak lebih cepat dalam pembangunan PSEL. Target pembangunan sedikitnya 25 lokasi PSEL dalam dua hingga tiga tahun ke depan bukan hanya ambisi administratif, melainkan kebutuhan nyata untuk mengatasi kedaruratan sampah di puluhankabupaten dan kota. Selama ini, banyak proyek pengolahan sampah tersendat akibatbirokrasi panjang, lemahnya koordinasi antarlembaga, dan ketidakjelasan pembagiankewenangan. Karena itu, penyederhanaan prosedur serta pembagian peran yang jelas antara pemerintah, Danantara, dan pihak-pihak terkait menjadi fondasi pentingagar proyek strategis ini tidak kembali terjebak pada pola lamban yang merugikanmasyarakat.Selain itu, keterlibatan Danantara Indonesia memberi dimensi baru dalampembiayaan dan tata kelola proyek infrastruktur lingkungan di Indonesia. Selama ini, pengelolaan sampah kerap dipandang sebagai sektor yang minim nilai ekonomisehingga tidak menarik bagi investor besar. Padahal, di berbagai negara maju, pengolahan sampah telah berkembang menjadi industri energi hijau yang bernilaitinggi dan berkelanjutan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini