Nagita Slavina Keguguran usai Pulang Jalan-jalan, Begini Ceritanya

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Baru-baru ini kabar Nagita Slavina yang sedang hamil pun menjadi sorotan publik. Potongan video yang memperlihatkan Nagita tertidur dan celetukan sang suami, Raffi Ahmad yang menyebut Nagita telat datang bulan pun viral di media sosial.

Banyak orang mendoakan agar pasangan selebritas itu segera dikaruniai anak kedua setelah perjalanan mereka ke luar negeri. Sempat memberi tahu bahwa Nagita sudah telat tiga hari, ternyata Raffi sudah menduga kalau Nagita sedang mengandung sejak mereka berada di Jepang.

“Aku sudah feeling (Nagita hamil), kayaknya jadi. Tapi aku enggak pengin bikin kamu ge-er, ya sudah santai saja dulu,” kata Raffi dikutip Sabtu 29 Februari 2020 dari YouTube Rans Entertainment.

Gigi, sapaan akrab Nagita pun sebenarnya sudah curiga dirinya sedang berbadan dua karena selama ini tidak pernah terlambat datang bulan. Nagita sempat membuat janji dengan dokter untuk memeriksakan kehamilan setelah mencoba dengan alat uji kehamilan mandiri dan hasilnya positif.

Namun sayang, sebelum hari yang ditentukan untuk bertemu dengan dokter, Gigi justru mengalami keguguran. Ia sempat mengalami flek saat ia buang air kecil di toilet.

Tak ingin menduga-duga dan memastikan kondisinya, akhirnya Gigi tetap ke dokter. Setelah memeriksa ke dokter, ternyata Nagita sudah hamil satu bulan, tetapi mengalami keguguran.

“Aku lagi syuting acara talkshow, Gigi telepon aku nangis-nangis,” kata Raffi Ahmad.

Menurut Nagita, memang bukan takdirnya saat ini Tuhan memberikan adik untuk Rafathar. Selain itu, keguguran itu juga diduga terjadi karena Nagita kelelahan setelah pulang dari luar negeri.

“Ya banyaklah faktornya. Kata dokternya kecapekan,” ujar Gigi. Nagita dan Raffi Ahmad mengaku sangat sedih. Mereka akan berdoa dan berusaha lagi agar kembali mendapat momongan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ekonom Ajak Mahasiswa Sikapi Isu Ekonomi Secara Objektif

Oleh : Aditia Rahman )*Perkembangan ekonomi nasional selalu menjadi perhatian publik karena berkaitan langsungdengan kehidupan masyarakat. Perubahan harga bahan bakar minyak (BBM), inflasi, investasi, hingga nilai tukar rupiah sering kali memunculkan berbagai respons, terutama di kalangan mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan. Namun, di tengah derasnya arus informasi digital, berbagai isu ekonomi tidak jarang dipersepsikansecara emosional dan dipengaruhi narasi yang belum tentu didukung fakta. Oleh karena itu, mahasiswa perlu membangun tradisi berpikir objektif agar mampu memahami setiapkebijakan ekonomi secara utuh, berdasarkan data, teori, dan kepentingan nasional.Objektivitas menjadi modal penting dalam menjaga kualitas diskursus publik. Mahasiswamemiliki peran strategis sebagai kelompok yang tidak hanya kritis, tetapi juga mampumenghadirkan analisis yang rasional. Kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakanbagian dari demokrasi yang sehat, tetapi kritik tersebut akan lebih bermakna apabiladisampaikan berdasarkan pemahaman menyeluruh terhadap kondisi ekonomi nasionalmaupun tantangan global yang sedang dihadapi Indonesia.Salah satu isu yang kerap menjadi perhatian masyarakat adalah penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Perubahan harga tersebut sering kali memicu reaksi yang cukup besar, sementaraketika harga mengalami penurunan, respons publik cenderung tidak sebesar saat terjadikenaikan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya membangun literasi ekonomi agar masyarakat memahami bahwa perubahan harga komoditas merupakan bagian darimekanisme ekonomi yang dipengaruhi banyak faktor.Ekonom Konstitusi, Defiyan Cori berpandangan bahwa naik dan turunnya harga komoditasmerupakan sesuatu yang wajar dalam teori ekonomi karena dipengaruhi keseimbangan antarapermintaan dan penawaran. Menurutnya, harga BBM nonsubsidi di Indonesia juga tidakdapat dilepaskan dari perkembangan harga minyak mentah dunia, terlebih produksi minyaknasional belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kondisi geopolitikinternasional yang memengaruhi pasar energi global turut memberikan tekanan terhadapharga minyak sehingga penyesuaian harga menjadi bagian dari mekanisme yang lazimterjadi.Pandangan tersebut memberikan perspektif bahwa kebijakan energi tidak dapat dilihat secarasederhana. Pemerintah harus mempertimbangkan berbagai aspek secara bersamaan, mulaidari keberlanjutan pasokan energi, kesehatan fiskal negara, hingga perlindungan terhadapdaya beli masyarakat. Dalam situasi ekonomi global yang dinamis, menjaga keseimbangantersebut merupakan tantangan yang tidak ringan.Pemerintah selama ini juga menunjukkan komitmennya untuk tetap melindungi masyarakatmelalui kebijakan subsidi energi. BBM bersubsidi tetap dipertahankan agar masyarakat yang berhak memperoleh perlindungan dari gejolak harga internasional. Sementara itu, harga BBM nonsubsidi mengikuti ketentuan yang berlaku dengan tetap mempertimbangkan kondisiekonomi nasional. Kebijakan tersebut mencerminkan upaya pemerintah menjagakeseimbangan antara mekanisme pasar dan tanggung jawab negara dalam memenuhi amanatkonstitusi.Ekonom Konstitusi, Defiyan Cori juga menilai harga Pertamax dan Pertamax Green saat inimasih belum sepenuhnya mengikuti harga keekonomian. Menurutnya, pemerintah melaluiKementerian Energi...
- Advertisement -

Baca berita yang ini