Usai Resmi Bercerai, Dewi Perssik Beri Sindiran Keras: Jangan Pencitraan Sok Sedih

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Dewi Perssik dan Angga Wijaya telah resmi berecerai pada 1 Agustus 2022 lalu.

Usai resmi bercerai pedangdut tersebut langsung melontarkan sindiran yang diduga untuk Angga Wijaya melalui laman media sosial Instagramnya.

“Sudah sudah… jangan pencitraan sok sedih terus… dipodcast-podcast orang, jadi bintang tamu sana sini, nanti kebuka semua…bingung ntar cari giginya karena gak bisa nyengir,” tulisnya.

Selain memberikan sindiran, Dewi Perssik pun memberikan pesan kepada orang yang disindirnya untuk segera taubat dan mencari uang secara halal.

“Taubat aja biar barokah hidupnya zheyeng…cari duit yang halal, jgn suka nyunat yang bukan miliknya. Jgn bangga dipuja-puja padahal tuti…tukang tipu muslihat,” ucapnya.

Diakhir unggahannya, Dewi Perssik pun mengungkapkan rasa syukurnya lantaran keburukan seseorang yang disindirnya telah terbuka.

“Alhamdulillah kebuka satu persatu dan Allah begitu sangat sayang terhadapku…trimakasih ya Allah… alhamdulillah….MERDEKA #bukanperempuanBodoh #semakindiamsemakinasikpencitraan,” tutupnya.

Dalam unggahannya tersebut pedangdut kelahiran Jember, Jawa Timur itu mendapatkan sangat banyak semangat dari kerabat dan netizen.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Dewi Perssik (@dewiperssik9)

“Semangat mami, pasti ada jalan yang lebih baik untuk mami,” tulis netizen.

“Semangat bahagia ya kak,” tambah netizen.

“Alhamdulillah becik ketitik olo ketoro mih. Bismillah lebih sukses sehat dan selalu dalam lindungan dan Ridho Alloh dlm setiap langkah baik nya miih,” sahut netizen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG dan Komitmen Pemerintah dalam Transparansi Anggaran Jaminan Gizi Berkualitas

Oleh: Dhita Karuniawati )* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah terus diperkuat dari sisitata kelola anggaran agar pelaksanaannya berjalan transparan, akuntabel, dan tepatsasaran. Pemerintah menegaskan bahwa setiap komponen pembiayaan dalamprogram ini telah diatur secara ketat dan harus mengikuti standar yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa manfaat program benar-benar dirasakanoleh masyarakat, terutama anak-anak sebagai penerima utama program. Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalampelaksanaan MBG menegaskan bahwa anggaran untuk bahan makanan dalamprogram tersebut telah ditentukan secara jelas. Besaran anggaran tersebut beradapada kisaran Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi makanan, bukan Rp15.000 sepertiyang sempat beredar di masyarakat. Kebijakan ini ditetapkan agar penyedia makanandapat memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang bagi para penerima manfaat tanpamengabaikan prinsip efisiensi anggaran negara. Wakil Kepala Badan Bidang Komunikasi dan Investigasi BGN, Nanik S. Deyang, mengatakan bahwa angka Rp13.000–Rp15.000 yang muncul di beberapa sumber tidakmurni untuk bahan makanan, melainkan sudah termasuk biaya operasional, insentifmitra pelaksana, serta kebutuhan pendukung lain. BGN menegaskan bahwa semua penerima manfaat tetap akan memperoleh makananyang bergizi dan aman dikonsumsi. Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib mengawasi kualitas bahan makanan, memastikan menu sesuai standar gizi yang ditetapkan. Nanik mengatakan Program MBG tetap memperhatikan kelompok prioritas seperti ibuhamil, ibu menyusui, dan balita usia 6–59 bulan. Kualitas makanan menjadi prioritasutama agar tujuan gizi masyarakat tercapai secara optimal. Masyarakat juga diberikan ruang untuk melaporkan dugaan penyimpangan dalam menu MBG. BGN memastikan setiap laporan akan ditindaklanjuti sesuai prosedur yang berlaku, demi menjaga transparansi dan akuntabilitas program. Dengan penegasan ini, BGN berharap publik memahami bahwa anggaran untuk bahanmakanan MBG tetap sesuai aturan Rp8.000–Rp10.000, dan setiap penerima manfaattetap memperoleh makanan bergizi tanpa mengurangi kualitas. Selain pengaturan standar anggaran, pemerintah juga memperkuat aspek transparansimelalui pengembangan sistem pelaporan keuangan yang terintegrasi. Upaya inidilakukan untuk memastikan bahwa seluruh proses pengelolaan dana dalam program MBG dapat dipantau dan diaudit dengan lebih mudah. Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Kementerian Keuangan(Kemenkeu) meluncurkan E-Learning Penyusunan Laporan Keuangan pada SatuanPelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta Aplikasi Pelaporan Keuangan SPPG. Hal itusesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang perbendaharaan negaradan peraturan menteri keuangan nomor 168/ PMK.05/ 2015 sttd. PMK 173/PMK.05/2016 dan PMK...
- Advertisement -

Baca berita yang ini