Ekspor Produk Lokal Makin Moncer di Tengah Pandemi

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Kegiatan ekspor tanah air khususnya produk lokal di masa pandemic makin moncer. Hal ini dibuktikan dengan dikirimnya satu juta liter produk Reduktan Herbisida “Weed Solut-ion” ke Malaysia dari Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa 30 November 2021.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Didi Sumedi mengatakan, upaya yang dilakukan tersebut, sebagai bentuk dukungan terhadap produk inovasi anak bangsa. Sehingga, muncul produk serupa lainnya karya anak bangsa yang memiliki kualitas ekspor seperti produk di atas.  

“Pelepasan ekspor herbisida ini merupakan salah satu bentuk dukungan dari Kemendag terhadap produk inovasi anak bangsa,” katanya.

Dengan dukungan ini, kata dia, mampu meningkatkan inovasi dari para pelaku usaha dalam negeri untuk membuat produk dengan nilai tambah yang tinggi. Maksudnya, produk yang sudah diolah dari mentah menjadi produk akhir. 

Hal ini sangat penting, dalam menggairahkan perekonomian dalam negeri dalam beberapa waktu ke depan yang sedang merangkak naik di berbagai sektor, termasuk dalam ekspor. 

“Dengan mengekspor produk akhir tidak hanya sekedar bahan baku atau bahan mentah, sehingga nilai tambah yang didapatkan sangat tinggi,” katanya.

Diketahui, Produk Reduktan Herbisida merupakan campuran pembasmi hama yang dapat mengurangi penggunaan pestisida hingga 50 persen sehingga memperkecil residu dan ramah lingkungan. 

Reduktan herbisida merupakan inovasi produk lokal yang tercipta dari kekayaan biodiversitas Kabupaten Banyuwangi, Indonesia, yang dapat berkontribusi terhadap pertanian yang berkelanjutan. Kegiatan ini juga merupakan tindak lanjut dari pelepasan ekspor pada bulan Maret 2021 untuk produk  reduktan herbisida ke Malaysia sebanyak 20 ton.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Evaluasi MBG sebagai Kunci Keberlanjutan Kebijakan Gizi Nasional

Oleh: Alexander Royce*) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategispemerintah yang dirancang untuk menjawab tantangan mendasar pembangunansumber daya manusia Indonesia. Di tengah bonus demografi dan masih adanyapersoalan gizi, stunting, serta ketimpangan akses pangan, MBG hadir bukan sekadarsebagai program bantuan sosial, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitasgenerasi masa depan. Karena itu, keseriusan pemerintah dalam mengevaluasipelaksanaan MBG patut diapresiasi dan didukung secara konstruktif oleh seluruhpemangku kepentingan. Dalam berbagai kesempatan, pemerintah menegaskan bahwa MBG bukan program yang berjalan tanpa pengawasan. Evaluasi berkala menjadi kunci agar manfaatnyatepat sasaran, berkelanjutan, dan benar-benar berdampak. Menteri Koordinator BidangPangan Zulkifli Hasan, misalnya, menekankan pentingnya evaluasi berbasis data akuratuntuk memastikan bahwa penerima manfaat MBG benar-benar mereka yang membutuhkan. Menurutnya, ketepatan data penerima menjadi fondasi utamakeberhasilan program, karena kesalahan sasaran akan berujung pada inefisiensianggaran dan melemahnya kepercayaan publik. Penekanan pada akurasi data inimenunjukkan bahwa pemerintah tidak ingin MBG sekadar terlihat besar dari sisianggaran, tetapi juga kuat dari sisi tata kelola. Pendekatan berbasis data tersebut relevan dengan kondisi terkini, di mana pemerintahterus melakukan pemutakhiran Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) sertasinkronisasi dengan data sektoral lainnya. Dengan cara ini, MBG diharapkan mampumenjangkau kelompok rentan, termasuk anak sekolah dan keluarga berpenghasilanrendah, secara lebih presisi. Keseriusan ini mencerminkan pola pikir pemerintah yang adaptif dan terbuka terhadap perbaikan, bukan defensif terhadap kritik. Di sisi lain, aspek kesehatan dan keamanan pangan juga menjadi perhatian utama. Wakil...
- Advertisement -

Baca berita yang ini