Tak Ada Penjemputan, Tiba di Jakarta Presiden Jokowi Langsung Karantina Tiga Hari

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tiba dari lawatannya ke tiga negara, Jumat 5 November 2021, Presiden Jokowi tidak dijemput pejabat dan rombongan di Bandara Soekarno-Hatta, sebab langsung menjalani karantina.

Hal itu diungkapkan Kepala Sekeretariat Presiden Heru Budi Hartono yang menjelaskan presiden mematuhi aturan bagi setiap warga negara Indonesia yang baru pulang dari perjalanan manca negaranya.

Melalui akun media sosialnya, Presiden Jokowi menyatakan langsung ke Istana Bogor untuk melakukan karantina mandiri selama 3X24 jam.

“Seusai lawatan kerja sepekan di luar negeri, saya pulang dan tiba di Tanah Air, pagi ini. Sesuai dengan aturan protokol kesehatan perjalanan internasional yang berlaku, maka mulai hari ini saya menjalani karantina mandiri selama 3×24 jam di kompleks Istana Bogor,” ujar Presiden Jokowi.

Selama menjalani karantina, Presiden Jokowi akan tinggal di tempat terpisah dari keluarganya yang ada di Wisma Bayurini.

Hal tersebut juga dibenarkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selaku Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Letjen Ganip Warsito.

Dia menegaskan pejabat setingkat menteri ke atas memang diberikan diskresi untuk melaksanakan karantina mandiri.

Ganip menjelaskan, meski Presiden melaksanakan karantina mandiri, tetap diwajibkan tes PCR setibanya di tempat karantina, wajib menggunakan masker dan menghindari kegiatan tatap muka, serta melakukan tes PCR di hari ketiga.

Mengenai lamanya karantina, Ganip mengatakan bahwa sesuai Surat Edaran Nomor 20 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), maka pelaku perjalanan internasional yang sudah menerima vaksin dosis lengkap diwajibkan melaksanakan karantina selama 3 x 24 jam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini