Runtuhnya Kerajaan Go Joseon

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kerajaan pertama di Semenanjung Korea yang didasarkan pada kebudayaan perunggu adalah Kerajaan Go Joseon.

Ketua Go Joseon disebut sebagai Dan Gun Wanggun yang menurut catatan kitab sejarah Samguk Yusa merupakan anak Tuhan Hwan-Woong yang mendirikan Kerajaan Go Joseon pada tahun 2333 SM.

Catatan sejarah ini melukiskan bahwa raja adalah keturunan Tuhan yang memiliki martabat dan kewibawaan besar sebagai pemimpin politik sekaligus pemimpin agama.

Pembentukan kerajaan itu merupakan pembentukan negara patriaki berdasarkan penyatuan masyarakat klan. Pada tahap awal, Go Joseon berkembang di daerah Liaoning, Cina (sekarang) dan mulai merebut kekuasaan pada abad ke-6 SM. Kerajaan itu kemudian muncul sebagai pusat kekuatan di bagian Timur, bahkan pada abad ke-4 SM berhasil memenangkan perebutan hegemoni dengan Kerajaan Yan, Cina.

Sekitar abad ke-4 SM, bangsa Korea mulai menggunakan kebudayaan besi. Pada saat itu Dataran Cina sedang mengalami kekacauan yang timbul akibat perebutan kekuasaan antara berbagai kerajaan. Kekacauan itu kemudian mendorong nenek moyang bangsa Korea yang bermukim di bagian barat laut Dataran Cina terpaksa pindah ke Go Joseon.

Wiman yang merupakan seorang pejabat Kerajaan Yan, Cina, memimpin pengungsi Korea yang berjumlah lebih dari 1.000 orang ke Go Joseon. Raja Jun dari Go Joseon kemudian mengangkat Wiman sebagai pengawal kerajaan dan memperbolehkannya bermukim dan menguasai daerah barat Go Joseon dalam rangka mempertahankan garis perbatasan dengan Kerajaan Han, Cina, yaitu sebelum Yan.

Go Joseon kemudian menjadi kerajaan utama yang kuat di wilayah Manchuria sehingga memunculkan perselisihan antara Go Joseon dengan dinasti Han yang lebih dulu menyatukan Cina menjadi wilayah kekaisaran yang besar.

Tahun 194 SM, Wiman memanfaatkan perang Go Joseon dan Han untuk merebut kekuasaan dan berhasil menaklukan raja Jun. Setelah itu Go Joseon terus berkembang melalui usaha perluasan wilayah.

Akan tetapi, kekalahan dalam menghadapi agresi Kerajaan Han yang terus berlangsung selama setahun menyebabkan Kerajaan Go Joseon runtuh tahun 108 SM setelah sebelumnya ibukota Wanggomsong (sekarang Pyeongyang, ibukota Korea Utara) jatuh ke tangan kerajaan Han.

Go Joseon kemudian diinvasi oleh sebanyak 5,000 pasukan Han yang merebut ibukotanya. Dinasti Han mendirikan 4 buah koloni di wilayah Go Joseon.

Sebuah teori dari Joseon Sangosa menyebutkan bahwa Go Joseon mengalami perpecahan tahun 300 SM dan secara perlahan kehilangan kendali atas wilayah teritorinya.

Peninggalan dari kerajaan Go Joseon berupa bukti arkeologi. Para arkeolog menemukan sejumlah besar artefak dan situs tempat tinggal suku Yemaek, yang dikenal sebagai suku kuno yang muncul pada masa Go Joseon. Suku ini diketahui mengusahakan pertanian sejak tahun 4,000 SM.

Salah satu temuan yang terkenal adalah palawijaya setengah terbakar yang ditemukan di Pyeongyang, yang merupakan ibukota terakhir kerajaan Go Joseon.

Perkembangan pertanian dan permukiman di Semenanjung Korea dan Manchuria menyebabkan penyatuan berbagai suku dan pendirian sejumlah negara kuno. Hal itu berjalan seiring dengan pengenalan teknik membuat peralatan perunggu antara tahun 2,000 SM – 1,500 SM. Legenda mengenai pendirian Go Joseon dapat diinterpretasikan melalui proses sejarah tersebut.

Reporter: Sheila Permatasari

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini