Digigit Laba-laba Berbisa, Bibir Perempuan Ini Jontor Parah

Baca Juga

MATA INDONESIA, VIRGINIA – Seorang perempuan di Virginia, Amerika Serikat (AS) mengira bahwa dia akan mati setelah bibirnya digigit oleh laba-laba pertapa cokelat atau berbisa.

Ialah Sherri Maddox yang sedang dalam perjalanan dengan menggunakan perahu kayak selama 10 jam menyusuri Sungai Staunton ketika dia digigit seekor laba-laba. Tetapi, awalnya dia tidak menyadari betapa seriusnya gigitan itu.

Ketika masih terasa sakit keesokan harinya, Maddox mencari antibiotic. Yang membuatnya terkejut adalah area bibirnya yang digigit menjadi sangat bengkak dan segera menjadi jelas bahwa masalahnya serius.

“Saya hampir berusia 50 tahun dan saya sudah mengambang di Sungai Staunton sejak saya bisa berenang, ketika saya berusia 6 tahun,” kata Maddox kepada Fox News.

“Saya hanya berdoa saya tidak akan mati karena saya mendengar cerita horor dan Anda melihat di internet dan melihat semua hal ini,” sambungnya.

Pada satu titik, Maddox mengatakan kepada Fox News, dia berhalusinasi, tidak menyadari bahwa dia telah dipindahkan dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Alih-alih membayangkan dia masih di rumah.

“Saya mengira itu karena obat penghilang rasa sakit yang mereka berikan kepada saya, tetapi saya mendengar dari beberapa orang yang berbeda bahwa itulah yang dilakukan oleh racun laba-laba,” ucapnya.

Setelah dirawat di rumah sakit, dokter menyadari bahwa gigitan itu pasti berasal dari laba-laba pertapa coklat, yang juga dikenal sebagai ‘laba-laba biola’ karena tanda berbentuk instrumen di tubuhnya. Laba-laba pertapa coklat termasuk di antara sejumlah kecil laba-laba berbisa di AS.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG dan Komitmen Pemerintah dalam Transparansi Anggaran Jaminan Gizi Berkualitas

Oleh: Dhita Karuniawati )* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah terus diperkuat dari sisitata kelola anggaran agar pelaksanaannya berjalan transparan, akuntabel, dan tepatsasaran. Pemerintah menegaskan bahwa setiap komponen pembiayaan dalamprogram ini telah diatur secara ketat dan harus mengikuti standar yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa manfaat program benar-benar dirasakanoleh masyarakat, terutama anak-anak sebagai penerima utama program. Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalampelaksanaan MBG menegaskan bahwa anggaran untuk bahan makanan dalamprogram tersebut telah ditentukan secara jelas. Besaran anggaran tersebut beradapada kisaran Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi makanan, bukan Rp15.000 sepertiyang sempat beredar di masyarakat. Kebijakan ini ditetapkan agar penyedia makanandapat memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang bagi para penerima manfaat tanpamengabaikan prinsip efisiensi anggaran negara. Wakil Kepala Badan Bidang Komunikasi dan Investigasi BGN, Nanik S. Deyang, mengatakan bahwa angka Rp13.000–Rp15.000 yang muncul di beberapa sumber tidakmurni untuk bahan makanan, melainkan sudah termasuk biaya operasional, insentifmitra pelaksana, serta kebutuhan pendukung lain. BGN menegaskan bahwa semua penerima manfaat tetap akan memperoleh makananyang bergizi dan aman dikonsumsi. Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib mengawasi kualitas bahan makanan, memastikan menu sesuai standar gizi yang ditetapkan. Nanik mengatakan Program MBG tetap memperhatikan kelompok prioritas seperti ibuhamil, ibu menyusui, dan balita usia 6–59 bulan. Kualitas makanan menjadi prioritasutama agar tujuan gizi masyarakat tercapai secara optimal. Masyarakat juga diberikan ruang untuk melaporkan dugaan penyimpangan dalam menu MBG. BGN memastikan setiap laporan akan ditindaklanjuti sesuai prosedur yang berlaku, demi menjaga transparansi dan akuntabilitas program. Dengan penegasan ini, BGN berharap publik memahami bahwa anggaran untuk bahanmakanan MBG tetap sesuai aturan Rp8.000–Rp10.000, dan setiap penerima manfaattetap memperoleh makanan bergizi tanpa mengurangi kualitas. Selain pengaturan standar anggaran, pemerintah juga memperkuat aspek transparansimelalui pengembangan sistem pelaporan keuangan yang terintegrasi. Upaya inidilakukan untuk memastikan bahwa seluruh proses pengelolaan dana dalam program MBG dapat dipantau dan diaudit dengan lebih mudah. Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Kementerian Keuangan(Kemenkeu) meluncurkan E-Learning Penyusunan Laporan Keuangan pada SatuanPelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta Aplikasi Pelaporan Keuangan SPPG. Hal itusesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang perbendaharaan negaradan peraturan menteri keuangan nomor 168/ PMK.05/ 2015 sttd. PMK 173/PMK.05/2016 dan PMK...
- Advertisement -

Baca berita yang ini