Dapat Rating Tinggi, ‘Hospital Playlist 2’ Justru Dinilai ‘Membosankan’

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Drama ‘Hospital Playlist 2’ sudah masuk paruh kedua penayangan. Meski awalnya drama ini sangat ditunggu-tunggu, ternyata banyak K-Netz yang berpendapat di musim kedua ini drama tvN itu semakin “membosankan”.

Khususnya, dalam episode terbaru drama yang tayang pada 5 Agustus 2021. Netizen berpendapat cerita tampak lebih fokus hanya pada satu karakter utama.

Sejak awal, ‘Hospital Playlist’ telah menekankan bahwa ada lima karakter utama. Mereka adalah Ik Jun (Jo Jung Suk), Jung Won (Yoo Yeon Seok), Jun Wan (Jung Kyung Ho), Seok Hyung (Kim Dae Myung), dan Song Hwa (Jeon Mi Do). Drama berpusat di sekitar kehidupan masing-masing dari lima teman ini.

Sebelumnya, tim produksi drama berkomentar, “Seperti yang dilakukan ‘Hospital Playlist’ di Musim 1, kami akan menceritakan kisah sehari-hari tetapi dengan kehangatan dan ketulusan yang lebih besar, jadi harap menantikannya.”

Namun nampaknya ini tidak sesuai dengan ekspektasi K-Netz. Netizen berkata:

“Penulis perlu melakukan sesuatu tentang gaya bercerita mereka… musim ini sangat membosankan.”

“Saya tidak benar-benar memiliki karakter atau pasangan favorit, saya hanya menontonnya untuk ceritanya, dan saya kecewa karena mereka terlalu banyak memainkan aspek romansa.”

“Untuk beberapa alasan musim 2 lebih ngeri dan rasanya seperti memaksa pemirsa untuk fokus pada ‘pelajaran’ atau ‘pengambilan’ tertentu.”

“Secara pribadi, saya telah melihat ini di banyak produksi Shin Won Ho. Ketika karakter belum berkencan, ceritanya entah bagaimana menyenangkan dan mengasyikkan. Tapi begitu mereka mulai berkencan, itu menjadi membosankan.”

“Pasangan itu tidak benar-benar merasakannya… Aku hanya ingin kalian semua melakukan pekerjaanmu.”

“Ya, saya ingat menunggu sepanjang minggu untuk menonton satu episode selama musim 1, saat ini saya tidak menontonnya pada hari Kamis lagi, saya tidak terlalu menantikannya.”

“Saya pikir itu seharusnya menjadi drama tentang kehidupan di dalam rumah sakit … bukan kisah cinta.”

“Maaf, tapi pasangan Gyeo Wool & Jung Won sangat membosankan.”

“Ceritanya tidak ada kemajuan… seperti sudah setengah jalan di musim kedua, tapi kemana cerita itu pergi? Tidak kemana-mana…”

“Maksudku, sepertinya cerita Jun Wan dan Suk Hyeong akan diceritakan lebih banyak di babak kedua.”

Sementara itu, menurut Nielsen Korea, siaran ‘Hospital Playlist 2’ pada 5 Agustus mencatat rating pemirsa rata-rata 10,6 persen. Ini berada di kisaran yang sama dengan rata-rata rating penonton episode pertama drama yang tayang pada 17 Juni lalu, yaitu 10,0 persen. Bisa dibilang cukup tinggi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Evaluasi Berkala Koperasi Desa Jadi Kunci Keberlanjutan Program Pemberdayaan Ekonomi

Oleh: Firly Tsaqila )*Komitmen pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi desa terusdiwujudkan melalui pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan MerahPutih sebagai instrumen strategis pemberdayaan masyarakat. Koperasi Desa dirancang bukan sekadar menjadi wadah aktivitasekonomi lokal, melainkan sebagai infrastruktur ekonomi nasional yang mampu memperluas akses masyarakat desa terhadap layanan usaha, distribusi kebutuhan pokok, pembiayaan produktif, hingga penguatankesejahteraan berbasis komunitas. Sehingga evaluasi berkala menjadi elemen penting agar implementasiprogram berjalan tepat sasaran, adaptif terhadap tantangan lapangan, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan.Langkah cepat Kementerian Koperasi dalam merespons berbagaimasukan masyarakat menunjukkan keseriusan pemerintah menjagakualitas pelaksanaan program ini. Berbagai sorotan yang muncul di ruangpublik dipandang sebagai bentuk partisipasi konstruktif yang justrumemperkuat proses pembenahan. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menilai perhatian masyarakatterhadap kondisi dan kesiapan Kopdes Merah Putih merupakan bagiandari pengawasan publik yang sangat dibutuhkan untuk memastikanprogram berkembang sesuai tujuan awal.Menurut Ferry, setiap laporan, masukan, dan perhatian masyarakatmenjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kementerian untukmelakukan koreksi secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa pemerintahmemandang keterlibatan publik sebagai bagian dari mekanismepengawasan yang memperkuat akuntabilitas tata kelola. Denganketerbukaan terhadap kritik, pemerintah menunjukkan pendekatan adaptifdalam memastikan program ini terus mengalami penyempurnaan.Pendekatan evaluatif ini penting karena skala program Kopdes MerahPutih sangat luas dan menyentuh langsung berbagai aspek kehidupanekonomi desa. Pemerintah tidak menempatkan evaluasi sebagai responsatas persoalan semata, melainkan sebagai instrumen manajemen modern yang memungkinkan setiap kelemahan terdeteksi lebih awal untuk segeradiperbaiki. Dengan demikian, proses pembenahan dapat dilakukan secarasistematis tanpa mengganggu tujuan besar pembangunan ekonomi desa.Ferry juga menekankan bahwa pemerintah akan terus menyelaraskankoordinasi lintas lembaga agar evaluasi yang dilakukan menghasilkanlangkah perbaikan konkret. Kolaborasi antara kementerian, pengelola koperasi, dan masyarakat diyakini menjadi kunci agar setiap temuanlapangan dapat segera ditindaklanjuti secara efektif. Pendekatan inimencerminkan keseriusan pemerintah membangun tata kelola koperasiyang terbuka dan responsif.Di sisi lain, penguatan evaluasi juga tampak dari keterlibatan berbagaiinstitusi pendukung. Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mempertegas peran pengawasan distribusi obat danpangan dalam ekosistem Kopdes Merah Putih. Kehadiran BPOM memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspekkelembagaan koperasi, tetapi juga memastikan kualitas layanan dankeamanan produk yang sampai kepada masyarakat desa.BPOM menyiapkan sistem pengawasan yang menjangkau hingga level desa, termasuk melalui pelibatan puluhan ribu kader terlatih. Langkah inimenjadi bukti bahwa evaluasi program dilakukan secara terintegrasidengan penguatan kapasitas pengawasan di lapangan. Pemerintahmemahami bahwa keberlanjutan koperasi tidak dapat dilepaskan dariterjaminnya standar mutu, keamanan, dan keandalan distribusi produk.Kepala BPOM menilai pengawasan distribusi obat dan pangan di koperasidesa membutuhkan mekanisme yang presisi karena cakupan wilayahyang luas menuntut sistem kendali yang kuat. Oleh sebab itu, pemerintahterus merancang skema baru agar distribusi tetap terkendali sekaligusmenjangkau masyarakat secara merata. Upaya ini memperlihatkanorientasi evaluasi yang tidak berhenti pada identifikasi masalah, melainkan diarahkan pada inovasi kebijakan.Pandangan mengenai pentingnya evaluasi berkala juga diperkuat ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli. Ia menilai bahwa pengawasanberlapis sangat diperlukan mengingat fungsi Kopdes Merah Putihmencakup aspek komersial, sosial, hingga layanan distribusi strategis. Menurutnya, pembagian peran pengawasan lintas lembaga akanmemperkuat akuntabilitas sekaligus meminimalkan potensipenyimpangan.Dipo menekankan pentingnya audit independen secara berkala sebagaiinstrumen untuk mendeteksi potensi moral hazard sejak dini. Ia jugamemandang bahwa tata kelola internal yang kuat harus ditopang olehrekrutmen pengelola profesional yang tetap berbasis komunitas lokal. Keterlibatan warga desa dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memilikisehingga keberlanjutan koperasi terjaga secara alamiah.Pandangan Dipo sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan evaluasi sebagai fondasi penguatan kelembagaan. Pemerintah memahami bahwa keberhasilan program tidak cukup diukurdari jumlah koperasi yang terbentuk, tetapi dari kualitas operasional, efektivitas layanan, dan dampak nyata terhadap kesejahteraanmasyarakat.Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi simpul distribusi hasilpertanian, penyalur barang strategis, penyedia layanan keuangan, hinggapenggerak aktivitas ekonomi produktif di tingkat akar rumput. Denganperan sebesar itu, evaluasi berkala menjadi syarat mutlak agar setiapfungsi berjalan optimal.Melalui keterbukaan terhadap masukan, sinergi lintas lembaga, sertapenguatan pengawasan berjenjang, pemerintah menunjukkan keseriusanmenjaga keberlanjutan program ini. Evaluasi yang konsisten bukanlahtanda kelemahan, melainkan bukti hadirnya tata kelola modern yang mengedepankan perbaikan berkelanjutan demi memastikan KopdesMerah Putih benar-benar menjadi motor penggerak pemberdayaanekonomi desa di masa depan.*) Pengamat Ekonomi Desa
- Advertisement -

Baca berita yang ini