Eskalasi Konflik Papua dan Pentingnya Jurnalisme Perdamaian

Baca Juga

MATA INDONESIA, – Memasuki tahun 2021, konflik di Papua terus mengalami eskalasi atau terjadi peningkatan konflik di Papua. Semenjak awal tahun Januari 2021 hingga di akhir bulan April 2021 terjadi banyak kasus penembakan yang telah menghilangkan banyak nyawa manusia. Konflik bersenjata terus terjadi dan bahkan konflik ini terjadi begitu cepat, beberapa tindakan kekerasan dan penembakan juga dilakukan yang menyebabkan warga sipil tidak berdosa menjadi korban jiwa.

Konflik bersenjata menjadi ancaman nyata di Papua saat ini, jika tidak ada upaya genjatan senjata yang dilakukan maka konflik bersenjata akan terus terjadi dan korban akan terus berjatuhan.

Salah satu yang menjadi penting untuk diperhatikan dalam mencegah penyebarluasan informasi konflik adalah teknologi, melalui penggunaan jaringan internet yang begitu masif. Jika kita perhatikan didalam penelitian yang dilakukan we are social bekerja sama dengan Houtsuite maka terlihat bahwa populasi Indonesia mencapai 272,1 Juta jiwa, sedangkan pengguna internet di Indonesia mencapai 175,4 Juta, dan pengguna media sosial mencapai 160 juta. Sedangkan data yang disajikan oleh tekno.kompas.co menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia saat ini adalah 202 juta jiwa dengan pengguna aktif internet sebanyak 170 juta. Media sosial menjadi sangat tren saat ini.

Dari pengguna internet yang sangat tinggi dengan kecenderungan pengguna internet Indonesia khusunya penggunaan media sosial yang adalah anak muda maka anak muda sangat rentan untuk menjadi korban didalam framing media yang salah. Secara spesifik di Papua yang penduduk aslinya hanya 2 jutaan, yang terbagi lagi dengan jumlah anak, anak muda/i,dan orang tua.

Dalam diagram yang dibuat oleh APJII  tersebut dapat dilihat bahwa penetrasi pertumbuhan internet tertinggi ada di pulau Jawa dan yang terendah ada di Maluku dan Papua. Namun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Papua maka setiap pertumbuhan penggunaan internet di Papua sangat berpengaruh terhadap Papua sendiri.

Pada tahun 2018 dan 2019-2020 telah terjadi peningkatan penggunaan internet di Papua dari 2.640.160 menjadi 2.901.936 sedangkan di Papua Barat dari angka 564.840 menjadi 722.700. Pertumbuhan ini sejalan dengan kebutuhan Internet di Papua pada masa Covid-19 yang mewajibkan sekolah dan kerja dilakukan secara daring serta pembangunan 9 stasiun penguat sinyal (BTS/Base Tranceiver Station) di beberapa daerah di Papua oleh Kemkominfo melalu Badan Aksesibilitas Teknologi Informasi.

Berdasarkan data tersebut maka dapat penulis sampaikan bahwa Media memiliki peran penting di dalam penyebaran informasi. saat ini media pemberitaan turut mengalami pertumbuhan di Indonesia termasuk di Papua. Pertumbuhan media pemberitaan di Papua ini menjadi hal yang harus diperhatikan bagi Lembaga terkait, karena dalam pengamatan penulis, banyak media pemberitaan yang dibuat untuk membagikan informasi konflik di Papua dengan framing yang tidak seimbang, salah penempatan informasi, bahkan hanya menunjukan sisi konflik tanpa membagikan sisi damai dibeberapa daerah.

Selain itu, dengan perkembangan teknologi saat ini, dapat dikatakan bahwa kita memasuki era yang sangat mudah dimana semua dapat kita akses dengan gratis dan tanpa batasan. Hal ini telah digambarkan oleh Peter Diamandis didalam buku Abundance yang menyebutkan bahwa “The Future Is Better than You Think” dan semua era itu sedang terjadi saat ini kirim pesan dan telepon gratis (Whatsaap), kirim surat gratis (Email), Desain Grafis (Canva), Buku Gratis (pdfdrive.net), rapat, pertemuan lainnya(zoom). Semua hal dapat diakses dengan sangat mudah. Jika kemudahan ini kemudian disalahgunakan maka akan menjadi ancaman yang besar, mengingat saat ini setiap orang bisa menjadi “pembuat berita dan penerima berita tanpa batasan”.

Dengan demikian penulis menyampaikan penting untuk diperhatikan tentang jurnaslime perdamaian di Papua, khususnya bagi portal berita utama yang banyak membagikan informasi tentang kondisi di Papua. Dapat dikatakan bahwa media elektronik, media cetak, media online di Papua saat ini menjadi media pembagi informasi dari daerah konflik sehingga harus lebih sensitif.

Media massa yang membagikan informasi di Papua dapat kita ibaratkan sebagai pedang bermata 2. Di satu sisi jika informasi berisi informasi toleransi, memberikan solusi penyelesaian konflik, menunjukan sisi damai, memberikan pesan perdamaian maka media massa akan menjadi pembawa damai dan meredam konflik. Disisi lain jika media massa memberikan informasi konflik, yang mengandung kebencian dan kekerasan, menyebarkan foto korban kasus kekerasan, menggambarkan darah, menghadirkan narasumber yang emosional, maka media masa hanya akan menambah konflik berkepanjangan di Papua.

Media dapat kita gambarkan sebagai akselerator konflik, jika kita ibaratkan maka peningkatan konflik di Papua dapat disebabkan oleh angin panas yang ditiupkan ke kepada rumput kering(masyarakat papua) yang siap terbakar kapan saja. Sebaliknya, jika media menjadi angin sejuk yang meniup rumput kering ataupun rumput basah maka eskalasi konflik tidak akan terjadi karena rumput tidak akan terbakar.

Jurnalisme Perdamaian menjadi salah satu kunci untuk meredam konflik di Papua. Jurnalisme damai ini dapat dikatakan sebagai salah cara untuk memframing sebuah pemberitaan lebih luas, seimbang, dan akurat. Agar fokus tidak hanya pada konflik tetapi bagaimana solusi penyelesaian konflik melalui pemilihan redaksi yang bersifat damai.

Menurut Johan Galtung, didalam jurnalisme perdamaian terdapat empat orientasi yaitu orientasi perdamaian, orientasi kebenaran, orientasi golongan masyarakat dan orientasi penyelesaian. Orientasi tersebut harus diperhatikan didalam setiap pemberitaan yang dilakukan. Agar orientasi dari jurnalis tidak disebutkan sebagai triger konflik. Jurnalisme Damai akan melihat konflik sebagai sebuah persoalan yang harus diselesaikan, bukan melihat konflik sebagai sebuah konten untuk diviralkan. Sehingga setiap pemberitaan yang dilakukan harus diarahkan pada penyampaian informasi yang lebih mengarah pada perdamaian.

Konflik yang terus terjadi di Papua ditambah dengan penggunaan internet yang terus meningkat di Papua mengharuskan adanya kepekaan bagi semua pembuat berita tentang jurnalisme damai. Baik pembuat berita dengan portal resmi maupun pembuat berita yang hanya dituliskan di status media sosial seperti Facebook, Whatsaap, Instagram, Twitter dll harus menjadi bagian dari pembawa damai. Agar Konflik tidak berkepanjangan dan merugikan kepentingan masyarakat umum.

Kita harus ingat bahwa satu kalimat kebencian atau intoleransi yang kita bagikan di media massa atau media sosial hari ini bisa membunuh satu generasi, tetapi satu kalimat tentang perdamaian dapat melukiskan senyum untuk anak cucu kita nanti.

Penulis: Steve Rick Elson Mara, S.H., M.Han

(Alumni Damai dan Resolusi Konflik Universitas Pertahanan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG dan Pentingnya Kolaborasi Pentahelix untuk Desa

Oleh : Nancy Dora Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjadi salah satu agenda strategis pemerintahdalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang sehat, produktif, dan berkualitas. Program ini tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnyaanak-anak dan kelompok rentan, tetapi juga memiliki dampak yang jauh lebih luas terhadappembangunan ekonomi desa, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan kelembagaan lokal. Karena itu, keberhasilan MBG tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah semata, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan melalui pendekatanpentahelix.Konsep pentahelix menempatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakatsebagai unsur utama yang saling bersinergi dalam menyelesaikan persoalan pembangunan. Dalam konteks MBG, pendekatan tersebut menjadi sangat relevan mengingat cakupan program yang besar, melibatkan jutaan penerima manfaat dan ribuan desa di seluruh Indonesia. Pelaksanaan yang efektif memerlukan dukungan lintas sektor agar manfaat yang dihasilkan dapatdirasakan secara merata.Dukungan sepuluh asosiasi desa terhadap program MBG dan Koperasi Desa Merah Putihmenunjukkan bahwa pemerintah desa memandang program tersebut sebagai peluang besar bagipeningkatan kesejahteraan masyarakat. Keterlibatan desa bukan hanya sebagai lokasipelaksanaan program, melainkan sebagai pelaku utama yang menjalankan rantai ekonomi di tingkat lokal. Desa dapat menjadi produsen bahan pangan, pengelola distribusi, hingga penyediatenaga kerja yang dibutuhkan dalam operasional program.Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menyampaikan bahwa MBG berpotensi melahirkan berbagai desa tematik berdasarkan komoditas unggulan lokal seperti desajagung, desa melon, desa beras, desa ikan nila, hingga sentra peternakan ayam petelur. Menurutnya, keterlibatan Badan Usaha Milik Desa sebagai mitra Badan Gizi Nasional akanmemperkuat ekonomi lokal dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di pedesaan.Konsep desa tematik tersebut merupakan langkah strategis dalam mendorong kemandirianekonomi desa. Selama ini, banyak desa hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah dengannilai tambah yang terbatas. Melalui MBG, komoditas lokal memperoleh pasar yang jelas danberkelanjutan sehingga petani, peternak, dan pelaku usaha desa memperoleh kepastian usaha. Kondisi tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasar luar sekaligus meningkatkanpendapatan masyarakat.Selain itu, kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di desa juga memberikan dampak sosialyang signifikan. Setiap unit pelayanan diperkirakan mampu menyerap puluhan tenaga kerjalokal. Kesempatan kerja tersebut sangat penting dalam mengurangi pengangguran di pedesaan, terutama bagi generasi muda yang selama ini cenderung berpindah ke kota karena terbatasnyalapangan pekerjaan di daerah asal.Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menilai bahwa program MBG memiliki dampak pengganda yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, dana yang mengalir ke daerah akan mendorong pemerataan ekonomi dan menciptakan aktivitasekonomi baru di tingkat akar rumput. Ia juga optimistis bahwa pelaksanaan program akansemakin baik dalam enam bulan hingga satu tahun mendatang seiring dengan berbagaipenyempurnaan yang dilakukan pemerintah.Pandangan tersebut menunjukkan bahwa MBG bukan semata program bantuan sosial, melainkaninstrumen pembangunan ekonomi yang memiliki efek berantai. Ketika anggaran pemerintahmasuk ke desa melalui pembelian bahan pangan, pembayaran tenaga kerja, dan operasionallayanan gizi, maka daya beli masyarakat meningkat. Aktivitas ekonomi desa pun bergerak lebihdinamis.Namun demikian, pelaksanaan program berskala besar tentu tidak terlepas dari berbagaitantangan. Distribusi, kesiapan sumber daya manusia, kualitas pelayanan, pengawasan, danefisiensi anggaran menjadi sejumlah aspek yang harus terus diperbaiki. Kritik dan masukan yang konstruktif perlu dipandang sebagai bagian dari proses penyempurnaan kebijakan, bukan sebagaialasan untuk menghentikan program yang memiliki tujuan mulia.Di sinilah pentingnya kolaborasi pentahelix. Pemerintah bertugas menyusun regulasi danmemastikan keberlanjutan program. Akademisi dapat memberikan kajian dan evaluasi berbasisdata. Dunia usaha mendukung rantai pasok dan investasi. Media berperan menyebarkaninformasi yang objektif dan edukatif. Sementara masyarakat menjadi pelaksana sekaliguspengawas di tingkat akar rumput.Media massa memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas informasi mengenai MBG. Penyampaian informasi yang berimbang dapat mencegah munculnya disinformasi danmemperkuat kepercayaan publik terhadap program. Di sisi lain, media juga dapat menjadisaluran aspirasi masyarakat sehingga berbagai persoalan di lapangan dapat segera diketahui dandiperbaiki.Ke depan, keberhasilan MBG akan sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh elemen bangsadalam menjaga semangat gotong royong dan kolaborasi. Desa harus ditempatkan sebagai pusatpembangunan yang mampu menghasilkan pangan, menciptakan lapangan kerja, danmeningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan pentahelix menjadi fondasi penting agar program tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi benar-benar menghadirkan manfaatnyata.MBG pada akhirnya merupakan investasi jangka panjang bagi Indonesia. Program inimembangun generasi yang sehat sekaligus memperkuat fondasi ekonomi desa. Dengandukungan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini