Benarkah Hitler Punya Pasukan Manusia Serigala di Perang Dunia II?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Beberapa bulan jelang berakhirnya Perang Dunia II, pasukan Sekutu bersama dengan Krasnaya Armiya (tentara merah) milik Uni Soviet, berhasil memukul mundur pasukan Nazi Jerman di berbagai wilayah.

Kondisi itu pun membuat pemimpin tertinggi Nazi, Adolf Hitler, dan para pejabat senior prihatin. Mereka berupaya mencari jalan terakhir untuk bisa menyelamatkan pasukan yang tersisa.

Dalam rapat rahasia yang dilaksanakan oleh Hitler dan para petinggi Nazi, tercipta dua gerakan yang diberi nama ‘Manusia Serigala’, meliputi kelompok tentara paramiliter resmi dan pejuang partisan Ad hoc.

Propaganda yang disebarkan oleh Hitler dan anak buahnya kala itu berhasil memberikan serangkaian teror dan melemahkan semangat tentara Sekutu. Sejak awal perang, diketahui Hitler telah memainkan peran sebagai ahli propaganda dengan melakukan penggabungan cerita rakyat Jerman dan legenda okultisme (kepercayaan terhadap hal-hal supernatural seperti ilmu sihir) untuk melengkapi ‘performa’ Nazi saat itu.

Dalam Hitler’s Monsters, sebuah buku karya Sejarawan Eric Kurlander tentang Nazi dan hal-hal supernatural di sekitarnya, Eric menggambarkan kronologi naiknya popularitas Hitler saat dia mengeksploitasi ketertarikan publik Jerman terhadap okultisme dan paganisme.

Karya Eric itu memperlihatkan sebuah kebudayaan yang menolak mentah-mentah sains dan memilih mengimani border science yang mengakar erat pada kepercayaan yang dipegang. Border science adalah istilah yang digunakan oleh kaum okultis untuk menyebut cabang-cabang ilmu seperti parapsikologi, astrologi dan ilmu perbintangan yang mendadak terkenal di masa pemerintahan Hitler.

Pilihan mengimani itu memungkinkan Hitler dan petinggi Jerman lainnya mengukuhkan kepercayaan mereka terhadap superioritas ras tertentu sebagai sebuah mitologi. Dikutip dari Smithsonian Magazine, di antara pesona mitologi yang disajikan Hitler adalah ‘Manusia Serigala’.

Eric menulis, “Berdasarkan para pakar folklor Jerman abad ke-19 dan awal abad 20, manusia serigala mewakili bentuk kecacatan, namun dengan cara yang sangat tepat meskipun bengis, berkaitan dengan hutan, darah dan tanah.”

Terminologi ‘Manusia Serigala’ dimaksudkan Eric sebagai perwakilan dari kekuatan dan kemurnian Jerman dalam melawan penyusup.

Pada awalnya, penggambaran ‘Manusia Serigala’ yang dilakukan oleh Hitler begitu sukses. Hitler berulang kali mengulang citra ‘Manusia Serigala’, mulai dari nama salah satu markasnya, ‘Wolf’s Lair’ (Sarang Serigala) sampai ‘Operation Werewolf’ (Operasi Manusia Serigala) pada Oktober 1944.

Operasi ‘Manusia Serigala’ itu dilakukan untuk menyusupkan Letnan SS Nazi Adolf Prützmann dan Otto Skorzeny ke kamp-kamp Sekutu dan menyabotase jalur pasokan menggunakan tim tentara paramiliter.

Sebelumnya, Skorzeny pernah melakukan operasi serupa pada tahun 1943 dan berhasil memimpin sebuah kelompok kecil untuk menyelamatkan Benito Mussolini dari penjara di Italia.

Operasi ‘Manusia Serigala’ diketahui bertujuan bukan untuk memenangkan perang, melainkan untuk misi rahasia seperti gerilya atau penyusupan.

Menurut Sejarawan Perry Biddiscombe dalam Werwolf! The History of the National Socialist Guerrilla Movement 1944-1946, Hitler hanya ingin menunda musuh masuk untuk memungkinkan penyelesaian politik yang menguntungkan pihak Jerman.

Kendati pada akhirnya kalah, salah satu upaya dengan citra makhluk mitologi itu pernah sempat berhasil. Bahkan, pada tahun 1945, siaran radio nasional Jerman menyerukan untuk semua warga sipil bergabung dalam gerakan ‘Manusia Serigala’ melawan pasukan Sekutu. Sebab itu, Amerika Serikat (AS) sempat dibuat kelimpungan.

Di satu sisi, media dan militer AS percaya bahwa ‘Manusia Serigala’ Jerman bukan mitos dan menganggap serius ancaman pejuang partisan, sementara di sisi lain, Jenderal AS George Patton mengklaim bahwa ancaman manusia serigala dan pembunuhan adalah omong kosong.

Jenderal George Patton
Jenderal George Patton

Sementara itu, sebuah laporan intelijen AS pada Mei 1945 menegaskan bahwa Organisasi Serigala bukanlah mitos.

Sejarawan Stephen Fritz dalam bukunya, Endkampf: Soldiers, Civilians, and the Death of the Third Reich menulis, beberapa otoritas AS melihat para pejuang gerilya sebagai salah satu ancaman terbesar bagi keamanan baik di Zona Pendudukan Amerika maupun Sekutu.

Meskipun dapat dikatakan berhasil untuk melemahkan Sekutu, propaganda ‘Manusia Serigala’ nyatanya tidak bisa membuat Nazi keluar dari krisis, di mana persediaan militer Nazi semakin lama semakin menipis yang menimbulkan kekacauan di dalam pasukan. Namun, ‘Manusia Serigala’ masih terus beroperasi sampai tahun 1947 dengan perkiraan ribuan korban tewas.

Reporter: Safira Ginanisa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini