Selain Jenius, Albert Einstein Juga Punya Sisi Gelap Seperti Ini

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Siapa yang tak kenal dengan Albert Einstein, seorang Ilmuwan dan bahkan seniman yang dikenal jenius oleh warga dunia.

Ketenarannya hingga kini setelah dia berhasil mengembangkan Teori Relativitas khusus dan umum untuk memetakan struktur skala besar alam semesta. Berkat penemuan hebatnya itu Einstein dianugerahi Nobel Fisika tahun 1921.

Namun, di samping kejeniusannya itu, Einsten memiliki sisi gelap yang tak ingin diketahui banyak orang seperti berikut;

Memiliki Anak di Luar Nikah
Pada surat pribadi Einstein yang kini telah terungkap, tertulis ia memiliki anak tidak sah secara hukum dengan teman sekelasnya Mileva Maric. Ia bertemu dan mengenal Mileva saat kuliah di Politeknik Zurich.

Menurut surat pribadi Einstein, Mileva melahirkan seorang putri di rumah orang tuanya di Novi Sad pada tahun 1902. Saat itu, Einsten berada di Bern, Swiss.

Anak itu diberi nama Lieserl. Sayang nasib Lieserl tidak diketahui dan diyakini anak tersebut diadopsi sebuah keluarga.

Namun, ada sumber lain yang mengatakan Lieserl mengalami gangguan mental dan meninggal karena infeksi. Tidak ada catatan mengenai Einstein bertemu dengan anak perempuannya itu sampai akhir hayatnya.

Berpisah dengan Mileva dan Bikin Kontrak Aneh
Setelah melahirkan Lieserl, Mileva kembali ke Swiss dan menikah dengan Einstein pada Januari 1903. Setahun berikutnya mereka dikarunai seorang putra yang diberi nama Hans dan disusul dengan putra berikutnya yang diberi nama Eduard.

Pada tahun 1912, Einstein menjadi dekat dengan sepupunya yang bernama Elsa Lowenthal, seorang janda yang memiliki dua anak perempuan bernama Ilse dan Margot.

Lalu, terjadilah perselingkuhan yang diketahui Mileva. Setelah mengetahui hubungan terlarang suaminya, Mileva malah diancam diceraikan oleh Einstein.

Mencoba menyelesaikan masalah hubungan keduanya, Einstein kemudian membuat kontrak aneh untuk Mileva jika ia tidak ingin berpisah darinya.

Menurut dokumen yang dirilis 1987, kontrak tersebut berisi, Mileva diminta memastikan pakaian suaminya itu disimpan dengan baik. Selain itu, Einstein harus dilayani dengan diberi makan tiga kali sehari yang diantar ke kamarnya secara teratur.

Ia juga diperintahkan untuk selalu menjaga rumah, khususnya ruangan kerja agar selalu bersih dan rapih. Selain itu Mileva juga diminta untuk tidak lagi memiliki hubungan selayaknya suami-istri seperti ditemani lelaki, baik di rumah maupun saat bepergian.

Einstein juga menuntut untuk memiliki kendali lebih di berbagai situasi. Misalnya, dia bisa membungkam istrinya kapan pun dia mau dan mengusir istrinya dari ruang belajarnya.

Anehnya, Mileva menyetujui tuntutan Einstein, setidaknya untuk sementara waktu. Namun, 3 bulan setelah mereka pindah ke Berlin, Mileva dan dua anaknya kembali ke Zurich.

Akhirnya pada tahun 1919, Einstein dan Mileva resmi bercerai secara permanen. Di tahun yang sama Einstein kemudian menikah dengan Elsa.

Seorang Playboy
Tak berakhir di situ, kabarnya Einstein terlibat sejumlah skandal perselingkuhan saat setelah menikah dengan Elsa Lowenthal. Bahkan Einstein juga mempertimbangkan menikahi salah satu anak perempuan Elsa, namun putri tirinya tersebut menolak karena ia mencintai Einstein sebagai seorang ayah.

Setelah menikah dengan Elsa, Einstein diketahui berselingkuh dengan sekretarisnya, Betty Neumann. Dalam surat yang dirilis pada hari Senin oleh Universitas Ibrani di Yerusalem, Einstein mengungkapkan enam wanita yang menghabiskan waktu dengannya, beberapa di antaranya diidentifikasi bernama Estella, Ethel, Toni dan Margarita.

Lainnya hanya disebut dengan inisial, seperti M. dan L. Ia juga mengungkapkan bahwa dari semua wanita, ia sebenarnya hanya terikat pada Mrs. L, yang menurutnya sama sekali tidak berbahaya dan sopan.

Tidak berhubungan baik dengan anaknya
Setelah bercerai, hubungan Einstein dengan putra tertuanya Hans Albert, berubah menjadi dingin. Einstein menentang calon pengantin Hans dengan cara yang begitu brutal.

Saat itu tahun 1927, dan Hans yang berusia 23 tahun jatuh cinta dengan seorang wanita yang lebih tua darinya, namun bagi Einstein wanita pilihan Hans tidak menarik.

Dia mengutuk serikat pekerja, bersumpah bahwa pengantin wanita Hans adalah wanita licik yang memangsa putranya. Namun pada akhirnya Hans tetap menikahi perempuan pilihannya itu.

Einstein pun memohon kepada Hans untuk tidak memiliki anak, karena bagi Einstein setelahnya hanya akan terjadi perceraian yang tak terhindarkan.

Sisi lain yang tidak menyenangkan dari karakter Einstein dalam hubungannya dengan anak-anaknya adalah saat Einstein mendapat pujian karena mendonasikan uang hadiah Nobel kepada Mileva dan kedua anaknya. Namun, saat Eduard (anak bungsunya) didiagnosis menderita skizofrenia di usia 20 tahun, Einstein malah bereaksi ngeri dengan mentelantarkannya di Institusi Psikiatri pada 1932.

Setahun berikutnya, Einstein dan Elsa melarikan diri dari kebangkitan Nazi Jerman dan pindah ke AS, meninggalkan Eduard yang tidak pernah dilihatnya lagi.

Setelah mengetahui Elsa sakit jantung dan ginjal, Einstein tampak tidak peduli. Bahkan saat Elsa tengah sekarat, Einstein masih sibuk dengan pekerjaan fisikanya.

Einstein berharap jika pekerjaannya dapat membantu istrinya melewati masa sulit. Elsa akhirnya meninggal pada 1936 dan Einstein hidup sendirian setelahnya. (Dhelana Unggul Parastri)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Mendukung Instensifikasi Respons Dini Menekan Dampak PHK terhadap Masyarakat

*) Oleh : Prinsa AlisaDinamika perekonomian global yang masih diwarnai ketidakpastian memberikantantangan tersendiri bagi dunia usaha dan sektor ketenagakerjaan di Indonesia. Dalam situasi tersebut, pemerintah terus menunjukkan komitmennya untuk melindungimasyarakat melalui berbagai langkah strategis guna mengantisipasi dan meminimalkan dampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Upaya intensifikasirespons dini yang dilakukan pemerintah patut mendapatkan dukungan dari seluruhelemen masyarakat karena menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonominasional sekaligus melindungi kesejahteraan para pekerja dan keluarganya.Langkah respons dini yang diperkuat pemerintah menunjukkan adanya kesadaranbahwa potensi PHK harus diantisipasi sebelum berkembang menjadi permasalahansosial dan ekonomi yang lebih besar. Melalui pemantauan kondisi industri secaraberkelanjutan, penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, sertakomunikasi yang lebih intensif dengan pelaku usaha, pemerintah berupayamendeteksi berbagai potensi risiko sejak awal. Pendekatan ini menjadi penting karenapenanganan yang cepat dan tepat dapat mengurangi dampak yang dirasakan oleh pekerja maupun sektor usaha.Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Dirjen PHI dan Jamsos) Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (KemnakerRI), Indah Anggoro Putri menjelaskan pemerintah terus mendorong berbagaikebijakan yang bertujuan menjaga keberlangsungan dunia usaha agar tetap mampumempertahankan tenaga kerjanya. Berbagai insentif, kemudahan berusaha, hinggaupaya menjaga iklim investasi terus dilakukan untuk menciptakan ruang tumbuh bagisektor industri. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokuspada penanganan dampak setelah PHK terjadi, tetapi juga berupaya mencegahterjadinya PHK melalui penguatan daya tahan ekonomi dan dunia usaha.Selain itu, pengembangan program peningkatan keterampilan dan pelatihan kerjamenjadi salah satu bentuk nyata respons pemerintah dalam menghadapi perubahankebutuhan pasar tenaga kerja. Transformasi ekonomi dan perkembangan teknologimenuntut tenaga kerja memiliki kompetensi yang semakin adaptif. Melalui berbagaiprogram pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemerintahberupaya memastikan bahwa pekerja Indonesia tetap memiliki daya saing dan peluang kerja yang luas di tengah perubahan ekonomi yang berlangsung cepat.Dukungan terhadap respons dini pemerintah juga penting karena dampak PHK tidakhanya dirasakan oleh individu yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga memengaruhikondisi ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar. Ketika lapangan kerja dapatdipertahankan dan risiko PHK dapat ditekan, daya beli masyarakat akan tetap terjaga. Stabilitas konsumsi rumah tangga pada akhirnya akan mendukung pertumbuhanekonomi nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan. Oleh karena itu, keberhasilanlangkah pemerintah dalam melakukan mitigasi risiko ketenagakerjaan akanmemberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.Pakar demografi dan ketenagakerjaan terkemuka dari Universitas Gadjah Mada(UGM), Tadjuddin Noer Effendi menjelaskan di tingkat daerah, penguatan respons dinidapat membantu pemerintah daerah dan pelaku usaha mengambil langkah antisipatifyang lebih efektif. Informasi yang diperoleh lebih cepat memungkinkan berbagai pihakmenyiapkan solusi sebelum terjadi gejolak ketenagakerjaan yang lebih besar. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalansecara optimal dan tepat sasaran.Dukungan terhadap langkah pemerintah juga perlu diwujudkan melalui partisipasi aktifberbagai pemangku kepentingan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini