Waduh! Habis Mesum di Pinggir Jalan, Pasangan Ini Alami Gancet, Heboh Ditonton Warga

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kembali terulang dua sejoli mengalami gancet saat berhubungan intim. Nasib nahas itu harus dialami kedua pasangan lelaki dan perempuan yang tengah asyik mesum di jalan.

Peristiwa itu terjadi di Jalan Merdeka Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Momen memalukan itu terjadi pada Rabu 27 Januari 2021 malam.

Dalam video yang beredar, nampak pasangan tersebut berpelukan dan tak bisa dipisahkan. Mereka pun diangkut oleh mobil kepolisian dalam keadaan masih menempel.

Mulanya, pasangan ini diduga melakukan hubungan intim di pinggir jalan. Setelah itu, warga merasa risih melihat hal tersebut dan menegur mereka.

Namun, dua sejoli itu rupanya menempel bak prangko. Mereka mengalami gancet dan warga pun segera menghubungi pihak kepolisian.

Sontak, kejadian itu menjadi tontonan warga. Mereka ramai-ramai mengerubuti pasangan tersebut sembari merekamnya. Netizen pun turut memberi komentar.

“Kok bisa ya? Mainnya gimana ya?,” komentar akun lembatamanisle.

“Udah diangkut pas kegancet, dilihat satu warga, ga kebayang malu dan dosanya,” kata akun tuwastuwas_.

Meski demikian, belum ada kabar apakah pasangan itu sudah berhasil dilepas.

Peristiwa itu juga telah dibenarkan oleh pihak Polsek Labuhan Ruku. Pasangan tersebur juga dibawa ke kantor polsek untuk dimintai keterangan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini