Viral Video Maba Unesa Dibentak Senior saat Ospek Online, Sampe Jadi Trending Twitter

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Jagat media sosial dihebohkan dengan video terkait proses Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dari Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (FIP Unesa) yang dilakukan secara daring melalui aplikasi zoom.

Video itu memperlihatkan terlihat tiga orang senior secara bergantian membentak seorang mahasiswa baru (maba). Hal ini karena maba tersebut tidak memakai ikat pinggang.

“Ikat pinggangmu mana?,” ucap seorang senior.

“Ikat pinggang diperlihatkan,” sahut senior yang lain.

Si maba yang mengenakan hijab berwarna hitam itu hanya bisa meminta maaf. “Maaf kak,” katanya dia dengan suara bergetar.

“Kamu tau tata tertib nggak. Nggak dibaca tata tertibnya?,” tambah senior lainnya.

Video ini pun menjadi bahan omongan khususnya warga Twitter usai diunggah akun bernama @Rafirizqu10. Bahkan, kata-kata terkait seperti ‘Unesa’ dan ‘Ospek’ berada di deretan teratas trending topic.

Beragam komentar dari netizen menanggapi video viral tersebut.

“eh tol*l semua ada porsi nya kali, emang lo pikir lucu apa digituin, kenapa sih gaya ospek jaman kolonial masih diajarin belom nanti mereka mesti harus ada kaya matkul wamil nah lu enak pada udh senior haha hihi aja.. lagi kok bisa ada dosen atau dekan yang setuju, heran gw..,” tulis @kukus**bapao_.

“this is literally disgusting… coba deh panitia ospek dan seluruh ketuanya bisa gak gausah bentak bentak kalau adek tingkat salah? kasih aja hukuman tanpa perlu bentak. gmn sama yang punya anxiety? trauma? dll? emang mau tanggung jawab? ga kan? ga setuju bgt sama cara gini. kuno,” komentar @pinki**ey.

“Dulu mikir absurd banget ya kalo ospek online seniornya marah ke mahasiswa baru, eh kok direalisasikan sama mereka~,” kata @vansena**xander.

“Bayangin senior teriak gitu didenger ortu si maba dan akhirnya ortu si maba dateng marahin balik si senior ,” komentar @Se**ia12.

“Ckck itu dirumah berani gituin anak orang. Kalo gw ortunya/kakaknya, masuk frame gw teriak2in juga itu senior
Ga ada faedah masih dilanjut aja bentak2 anak orang, heraaaann,” tulis @capcint**pacin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini