Viral! Pria di Bojonegoro Meninggal Saat Ngaji di Samping Jenazah Istri, Dikenal Orang Baik

Baca Juga

MATA INDONESIA, BOJONEGORO – Video pemakaman sepasang suami istri yang meninggal dengan selisih waktu satu setengah jam menjadi viral. Video itu dibagikan akun Instagram @berita_bojonegoro2 pada Jumat 5 Februari 2021.

Keterangan yang ada video menyebutkan perempuan bernama Ummi Munawaroh meninggal dunia pada Jumat 5 Februari sekira pukul 01.30 WIB karena menderita penyakit diabetes. Ia adalah warga Jalan Letda Mustajab Sukorejo Bojonegoro Kota, Jawa Timur.

Selang satu setengah jam kemudian, sang suami, Fatkhan Sibyan tiba-tiba terkena serangan jantung kemudian meninggal. Saat itu, sang suami sedang mengaji di samping jenazah istrinya.

Pasangan suami istri tersebut dikenal baik, bahkan telah membangun masjid dan pondok pesantren. Mereka adalah pengusaha sukses yang memiliki toko alat jahit Al-Ikhsan di Jalan Gajah Mada Bojonegoro.

“Sebelum meninggal, beliau berdua telah membangun dua masjid dan pondok pesantren di Bojonegoro untuk diwaqafkan kepada masyarakat,” tulis keterangan dalam video.

Dari video yang dibagikan, keduanya diketahui tidak memiliki anak. Mereka juga rajin salat berjamaah di musala dekat rumahnya. Sang suami menjadi imam di musala tersebut.

Dalam video tersebut terlihat kedua keranda jenazah digotong oleh warga menuju makam. Keduanya pun dimakamkan dalam satu liang.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini