Viral Kisah Horor Bocah 9 Tahun, Tiap Saat Diganggu Makhluk Halus karena Mata Batin Gak Sengaja Terbuka

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Seorang gadis asal Malaysia bernama Ainaa Afifah menceritakan pengalaman horornya memiliki indra keenam sejak kecil. Kisah tersebut dia bagikan lewat sebuah video yang dibagikan ML studio.

Video Afifah lantas viral dan membuat para netizen bergidik. Afifah sudah mulai melihat makhluk halus sejak kecil. Berawal saat mata batinnya secara tidak sengaja terbuka saat usianya 9 tahun.

Sejak itu, hari-harinya kerap diganggu dengan kemunculan makhluk halus. Ifah pun bercerita tentang pengalaman pertamanya melihat makhluk halus saat berusia 9 tahun/

Dilansir dari mStar.com.my, Jumat, 3 Juli 2020, kisah berawal saat ayah Ifah memutuskan pindah rumah dari Alor Setar ke Sik, Kedah. Di sana, keluarga Ifah menyewa sebuah rumah.

Menginjak tahun ketiga tinggal di rumah itu, pandangan mata batinnya mulai terbuka. “Satu malam, waktu Abah demam, saya diminta untuk mengambilkan obat dan air hangat di dapur,” kata Ifah mengawali detik-detik pertemuan dengan makhluk halus untuk pertama kalinya.

Ifah lantas mematikan lampu dapur dan berjalan menuju ke tempat Abahnya. Di saat itulah tiba-tiba ia merasakan ada hembusan angin yang kuat di belakang tubuhnya.

“Waktu itu saya sempat bertanya-tanya dalam hati, ‘Apa yang baru saja lewat tadi?’,” kata Ifah.

Ifah pun memberanikan diri menoleh ke belakang. Alangkah kagetnya ia saat mendapati sesosok makhluk aneh sedang menatap tajam ke arahnya.

“Saya terkejut dan bertanya-tanya benda apa itu. Tiba-tiba dia lari dengan cepat sekali dan menembus dinding kamar mandi.

“Meski sedikit takut, saya buat biasa saja. Saya kembali ke dapur dan menyalakan lampu. Saya kemudian ke kamar mandi dan memanggil ‘Mak..Mak’ sebab saya ingat itu Ibu,” kata Ifah.

Keesokan harinya, Ifah menceritakan pengalaman seram tersebut kepada ibunya. “Ibu bilang tunggu Abah pulang kerja karena mau membawa saya berobat. Ustaz yang mengobati saya berkata bahwa mata batin saya memang sudah terbuka,” ujar Ifah.

“Bila pergi berobat ke ustaz-ustaz lain, mereka bilang saya kuat sebab dari kelas 3 hingga sekarang masih bisa melihat hal-hal ghaib,” kata Ifah.

Perlahan-lahan Ifah pun mulai menyadari kelebihannya itu dan menganggapnya sebagai anugerah tersendiri dari Tuhan. “Saya tidak pernah kesurupan atau semacamnya… Alhamdulillah, Allah selalu menjaga saya,” katanya.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini