Viral Curhat Sesal Pelakor, Berhasil Nikahi Suami Orang Tapi Cuma Jadi Pemuas Birahi

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Curhat seorang wanita pemilik akun Facebook Mermut Si di grup Komunitas Pelakor Indonesia mendadak viral.

Dalam postingannya di grup tersebut, Mermut Si bercerita soal kehidupannya sebagai istri siri dari seorang laki-laki yang sudha beristri. Dari hasil pernikahannya itu ia memiliki seorang anak.

Meski dinikahi oleh pria itu, namun Mermut Si merasa dirinya tak diperlakukan adil. Istri pertama diperlakukan secara bebas, sedangkan dirinya diharuskan tinggal di kontrakan dan tak boleh keluar rumah secara bebas.

“Aku hanya hidup di kontrakan sebuah perumnas tidak boleh kerja, tidak boleh keluar secara bebas dan hanya disuruh di rumah ajah bersolek dan ngurus anak, sedangkan aku ingin bebas seperti si istri resmi itu,” katanya, dikutip Selasa, 23 Juni 2020.

Tak hanya itu, Mermut Si juga merasa dirinya hanya dijadikan pemuas birahi oleh sang suami. Karena tiap kali pulang ke kontrakannya, sang suami hanya minta jatah biologis. Tanpa memperdulikan sang anak. Sementara perlakuannya ke istri pertama tidak seperti itu.

“Disitu aku merasa seperti orang yang hanya sebagai pemuas nafsu birahi saja,” tulisnya.

“Suamiku setiap akan berhubungan denganku selalu minum jamu kuat, obat kuat, bahkan tisu mejik, sedang dengan setiap hubungan sama si dia nggak pake apa-apa,” lanjutnya.

Saat Mermut Si meminta untuk dinikahi secara resmi, sang suami pun selalu marah. “Setiap diminta nikah resmi pun selalu marah-marah, aku pusing dengan ini tolong kasih solusi apa yang harus aku lakukan agar aku mendapatkan yang adil,” katanya.

Alih-alih bersimpati, netizen justru menyalahkan wanita tersebut.

“Resiko anda mau dinikahi laki2 yg sdh beristri,” tulis seorang netizen.

“Resiko perebut suami orang,” kata netizen lainnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Demo Mahasiswa dan Pentingnya Membaca Kondisi Bangsa Dengan Nalar dan Optimisme

Oleh: Ethan Shabir Uttara *)Gelombang demonstrasi mahasiswa yang mengangkat isu ekonomi kembali hadir dalamruang publik Indonesia. Fenomena ini sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Sejak awalkemerdekaan hingga era demokrasi modern saat ini, mahasiswa selalu menjadi bagianpenting dalam proses kontrol sosial terhadap kebijakan negara. Kritik, protes, dan penyampaian aspirasi merupakan hak konstitusional yang dijamin dalam sistem demokrasi.Namun demikian, dalam isu ekonomi, terdapat satu tantangan yang sering muncul: kecenderungan melihat persoalan dari satu sisi tanpa mempertimbangkan gambaran yang lebih utuh. Padahal ekonomi merupakan bidang yang kompleks, dipengaruhi oleh banyakvariabel domestik maupun global, sehingga membutuhkan pembacaan yang lebihkomprehensif daripada sekadar melihat gejala-gejala yang tampak di permukaan.Belakangan ini sejumlah aksi demonstrasi mengangkat berbagai isu mulai dari kemiskinan, korupsi, program bantuan sosial, hingga berbagai program prioritas pemerintah. Aspirasitersebut tentu patut dihargai. Namun pertanyaan yang juga perlu diajukan adalah apakahnarasi yang berkembang telah mencerminkan keseluruhan realitas yang sedang berlangsung?Dalam sebuah diskusi publik yang membahas hubungan antara gerakan mahasiswa dan kebijakan negara, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, mengingatkan bahwa demonstrasi mahasiswa adalah bagian yang wajar dalam demokrasiIndonesia. Namun ia juga menekankan pentingnya melihat seluruh aspek secara objektif agar penilaian terhadap kondisi bangsa tidak hanya didasarkan pada satu sudut pandang. Pemerintah, menurutnya, tidak menolak kritik, melainkan berupaya menghadirkan gambaranyang lebih lengkap kepada masyarakat. Dalam konteks ekonomi, pendekatan semacam ini sangat relevan. Sebagai contoh, isukemiskinan sering menjadi bahan kritik. Namun pada saat yang sama, pemerintah juga sedang menjalankan berbagai program yang secara langsung menyasar kelompok masyarakatrentan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, tidak hanya bertujuanmeningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga membangun ekosistem ekonomibaru di tingkat lokal melalui keterlibatan petani, peternak, pemasok pangan, dan pelaku usahakecil di daerah. Demikian pula dengan Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga paling miskin. Program tersebut berangkat dari keyakinan bahwa pendidikan merupakan instrumenpaling efektif untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga memperluas akses pendidikan tinggi melalui anggaran KIP Kuliah yang menjangkau lebih dari satu juta mahasiswa. Tentu tidak ada kebijakan yang sempurna. Namun yang perlu dicermati adalah apakahpemerintah menunjukkan kemauan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan. Dalam kasusMBG misalnya, pemerintah melakukan moratorium penambahan dapur baru untuk fokuspada peningkatan kualitas pelaksanaan program dan efisiensi anggaran....
- Advertisement -

Baca berita yang ini