Salut! Driver Ojol Ini Bantu Tuna Wisma yang Tergeletak Lemas di Jalanan

Baca Juga

MATA INDONESIA, KUALA LUMPUR – Aksi tolong menolong bisa dilakukan siapa saja, tanpa pandang buluh. Seperti aksi driver ojek online (ojol) yang membantu seorang tuna wisma yang tergeletak di jalan ini.

Kisahnya viral di media sosial. Driver ojol asal Malaysia itu tak tega meliahat seorang pria tua tergeletak lemas di jalanan dekat Stasiun Segambut, Kuala Lumpur. Ia pun kemudian menolongnya.

Dilansir dari World of Buzz, Minggu 17 Mei 2020, driver Grab yang bernama Shanker Vellu ini melihat sejumlah luka memar di tubuh pria tunawisma itu. Shanker pun memilih untuk membantu tunawisma tersebut dan membawanya ke rumah sakit.

“Saya seorang pengemudi yang mengambil barang keliling di daerah tersebut. Ketika saya tiba di stasiun LRT, saya melihat seorang pria berbaring di sana,” cerita Shanker.

“Saya bertanya kepada orang-orang di daerah itu yang berusaha memahami apa yang terjadi pada pria itu, pada saat itulah saya mengetahui bahwa pria itu diserang,” lanjutnya

Sebagai sesama manusia, ia begitu terkejut mengetahui bahwa tidak ada yang peduli dengan apa yang terjadi pada pria itu. Shanker memutuskan untuk membantu semampu yang ia bisa lakukan.

Shanker berniat membawanya ke rumah sakit dengan cara memanggil ambulans dan membantu mendaftarkan tunawisma tersebut di fasilitas kesehatan dan menjalani perawatan medis.

“Saya berterima kasih kepada Tuhan bahwa saya diberi kesempatan untuk membantu dan saya berharap ini akan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama,” ungkap Shanker

“Sebagai manusia, itu adalah bagian dari realitas kita untuk saling membantu terutama yang membutuhkan,” jelasnya.

Sungguh mulia driver ojol ini. Saat tak ada orang lain yang peduli driver ini mengulurkan tangannya untuk membantu!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini