Orang Ini Ramalkan Bumi Akan Kiamat 10-15 Tahun Mendatang, Lalu Yesus Datang Kembali

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Bumi diramalkan bakal kiamat dalam kurun waktu 10-15 tahun mendatang. Hal ini diungkapkan oleh David S Heeren yang mengaku sebagai seorang pakar Bibel.

Menurut David, ramalan soal kiamat ini menguat usai dirinya melakukan penelitian atas banyak teks dalam Perjanjian Lama. Ia mengklaim bahwa dalam teks-teks yang ditelitinya, disebutkan bahwa Bumi akan ditabrak komet dan tumbukan tersebut bakal membuka jalan bagi kedatangan kedua Yesus Kristus.

Ia berasumsi bahwa ada benda langit dengan orbit 54 tahun yang membawa ancaman besar bagi Bumi. Kira-kira setiap dua milenium, benda antariksa itu melintas di orbit Bumi.

“Kerangka waktu terakhirnya mungkin akan segera terjadi, tetapi tidak pasti dalam sepuluh atau 15 tahun ke depan,” katanya kepada Daily Star.

David bahkan meramalkan masa depan Bumi bakal lebih singkat dibandingkan prediksi para saintis. Menurutnya, tanda-tanda akhir planet yang dihuni manusia itu sudah dinubuatkan dalam Kitab Wahyu.

Ramalan ini dituangkan dalam bukunya yang berjudul ‘The High Sign’. Melalui buku itu, penulis yang lahir pada 11 April 1938 itu mengidentifikasi tanda-tanda tentang bakal datangnya Mesias.

Ia juga mendasarkan teori itu pada studinya yang panjang tentang Bibel. Dia menyebut tabrakan komet dengan Bumi telah mengakibatkan berbagai peristiwa dramatis sebagaimana tertulis dalam Perjanjian Lama, antara lain, banjir besar, musnahnya Sodom dan Gomorah, dan wabah hebat di Mesir.

Menurut David, benda asing di angkasa luar itu terakhir kali muncul di langit Bumi sekitar 2.000 SM, atau pada periode pelayanan Yesus.

Ia tak menyebutkan bahwa benda langit itu sebagai bintang yang dilihat tiga orang Majus dari timur pada saat kelahiran Yesus. Namun, David menduga benda langit itu berkaitan erat dengan gempa bumi dan kegelapan di seluruh dunia selama tiga jam setelah penyaliban Yesus.

David juga menyakini umat Kristen akan diangkat ke surga beberapa saat sebelum terjadinya dampak besar terakhir atau kiamat.

Meski begitu, David tidak memberikan perkiraan pasti tentang waktu benda langit itu menubruk Bumi maupun kedatangan kedua Yesus tersebut.

“Yesus mengatakan tak seorang pun, termasuk dirinya, mengetahui secara pasti kapan dia kembali,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini