Ngeri Banget! Brisia Jodie Alami Kejadian Mistis, Ada Paku di Tempat Tidurnya

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Penyanyi cantik jebolan ajang pencarian bakat, Brisia Jodie bikin warganet heboh. Pasalnya, ia baru saja membagikan pengalaman mistis yang belum pernah ia alami.

Dalam unggahan insta story di akun Instagram pribadinya, Jodie, akrab ia disapa, memperlihatkan ranjang tempat ia tidur. Sekilas, tak ada yang aneh dengan ranjang itu. Sampai seorang asisten Jodie mengeluarkan suatu benda dari dalam spreinya.

“Aku baru bangun, trus ada yang nusuk-nusuk sakit gitu trus aku bangun-bangun gak enak badan, aku kayak nemuin sesuatu disini, tapi aku minta tolong bukain dulu ah takut,” ucap Jodie sembari memperlihatkan ranjangnya.

Saat dibuka, Jodie sangat terkejut. Pasalnya, terdapat sebuah paku di dalam spreinya. Ia juga memperlihatkan paku tersebut yang mengganggu tidurnya.

Brisia Jodie mendapati sebuah paku di dalam sprei ranjangnya (intagram,/brisiajodie96)

“Wah gila, kok bisa sih?” kata Jodie spontan.

Kekasih Julian Jacob ini akhirnya mulai menjelaskan kondisi dirinya. Pelantun lagu ‘Seandainya’ itu mengaku kurang sehat belakangan ini. Bahkan, ia sering mendapati tangannya penuh lebam secara tiba-tiba.

Brisia Jodie mengaku kurang sehat akhir-akhir ini (instagram/brisiajodie96)

“Aku akhir-akhir ini emang ngerasa aneh. Kadang misal aku lagi makan, trus tiba-tiba ada yang nonjok tanganku, pas aku cek biru sampe hampir item,” tulisnya dalam unggahan insta story.

Jodie juga menjelaskan, karena peristiwa itu, ibunya sampai berkunjung dari Yogyakarta untuk menengoknya. Penyanyi berusia 24 tahun itu juga merekam sanak keluarganya melakukan aktivitas spiritual untuk mengusir energi jahat dari kediamannya.

Meski begitu, rival Marion Jola ini juga baru saja terlibat project film horor bersama RA Pictures, berjudul ‘Denting Kematian’. Dalam film tersebut, Jodie beradu akting dengan bebrapa aktor seperti Rangga Azof, Irgi Fahrezi dan Mathias Mucus.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini