Klarifikasi Calon Paskibraka yang Katanya Dijegal Anak Pejabat, Ternyata Cuma Cadangan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA  – Setelah ceritanya viral karena gagal menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), seorang remaja laki-laki asal Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, ini kembali muncul untuk memberikan klarifikasi.

Dalam video terbaru yang beredar, remaja yang diketahui bernama Koko Ardiansyah itu mengatakan bahwa posisi ia sebenarnya hanyalah sebagai cadangan. Hal ini baru diketahuinya usai pejabat Dinas Pemuda dan Olahraga setempat menjelaskan secara langsung tahapan seleksi yang sebenarnya.

Koko bilang bahwa ada dua orang yang dikirim untuk mewakili Sumatera Utara, namun hanya satu orang yang lolos menuju Istana Merdeka. Sedangkan satunya lagi harus kembali ke Kabupaten bertugas mengibarkan bendera di sana. Namun karena Koko hanya cadangan, nama Koko harus tersingkir oleh orang yang gagal masuk di tingkat provinsi tadi.

”Saya mau mengklarifikasi bahwasannya saya disitu cuma sebagai cadangan dan memang kemarin itu saya sudah tahu kalau bahwasanya ada yang dikirim ke provinsi, dua orang putra dan yang lolos di provinsi itu cuma satu orang,” kata Koko dalam video klarifikasinya.

”Dan karena cuma satu, yang satu lagi itu kembali ke kabupaten, tugas di kabupaten. Karena posisi saya ada di posisi cadangan kedua, nama sayalah yang digantikan oleh putra yang gagal masuk itu.”

Ia juga mengklarifikasi bahwa berita soal ibunya berhutang demi menjahitkan baju Paskibra itu tidak benar. Koko juga meminta maaf kepada Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumatera Utara karena telah salah paham dan mengira namanya dikeluarkan dari daftar tanpa alasan.

Sebelumnya, cerita Koko menjadi viral usai mengaku dirinya gagal menjadi Calon Paskibraka karena telah digantikan oleh anak pejabat yang sebelumnya tidak pernah mengikuti tahap seleksi, pelatihan, maupun karantina. Secara tiba-tiba dikeluarkan dari daftar anggota Paskibraka.

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini