Disebut Lebay oleh Netizen, Ochi Rosdiana: Kenapa Kalian Bully Aku Gaes?

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA ­­- Pesinetron Ochi Rosdiana memberikan klarifikasi soal video viralnya yang menjadi bahan nyinyiran netizen. Ochi di-bully netizen usai video dirinya menangis ketika kejatuhan kotoran burung beredar luas di media sosial.

Seperti diketahui, isi video tersebut menampilkan ekspresinya yang sedang nangis kejer. Gestur tubuhnya terlihat ketakutan namun bercampur rasa jijik. Terlihat dua orang di sebelahnya sedang membersihkan lengannya menggunakan tisu basah.

Dalam Instagram Story-nya, cewek jebolan JKT48 ini mengatakan jika saat itu dirinya hendak makan, namun tiba-tiba kotoran burung jatuh di tangan kirinya. Tak hanya satu, ia menjelaskan bahwa kotoran burung itu memenuhi lengan hingga ujung tangannya.

“Hai guys sayang-sayangnya aku, kenapa kalian bully aku gaes? Aku ceritain kronoligisnya ya.  Jadi ceritanya aku lagi mau makan, benar-benar mau makan. Terus… Tsah! Enggak Cuma dikit sayang, kalau Cuma dikit pakai tisu ilang yakan,” kata Ochi.

“Ini tuh kayak tsah (bunyi kotoran yang jatuh), tsah, tsah, tsah, tsah. Ini kaya gimana makanya aku nangis karena panik coba kalau jadi aku, pas mau makan beb, tsah!,” kata dia lagi.

Sebelumnya, memang tampaknya netizen tak begitu suka dengan reaksi Ochi saat terkena kotoran burung. Beragam komentar pun memenuhi kolom komentar di akun yang mengunggah video tersebut. Tak sedikit netizen yang menyebut Ochi lebay.

“Tai burung doang, blm tau ya kasus ada yang makan nasi bungkus lauk nya usus, kemakan sam tai tai sapi nya donggg,” tulis @cicilpo**er.

“Geli gw liat cewek sok manja…kayak taik kelakuan kyk gtu,lebay.Jijik boleh,ngga perlu nangis² cari perhatian,” ujar @fare**ck.

“Njirrr pengen gw sleding rasanya,lebay bet dah!!!,” celoteh @ajir**pati.

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini