Bikin Nangis Bombay! Cerita Seorang Remaja Berseragam SMA Jual Tisu

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Seorang remaja tiba-tiba viral setelah cerita kehidupannya dibagikan oleh salah satu akun Instagram @atikah_rizkiyah pada 1 Agustus 2019 kemarin. Dari postingan tersebut, netizen dibuat kagum oleh remaja laki-laki yang belum diketahui namanya itu.

Remaja tersebut berjualan tisu di jembatan penyeberangan orang (JPO) yang menghubungkan Halte Transjakarta PGC, Cililitan, Jakarta Timur. Tak seperti pedagang biasanya yang berjualan mengenakan kaos, remaja itu mengenakan seragam SMA.

Tika, nama pengguna akun Instagram @atikah_rizzkiyah, lantas menceritakan obrolan dirinya dengan remaja itu. Tika mengatakan sudah sejak lama melihatnya berjualan tisu disana.

“Assallamualaikum, mau cerita sedikit tentang adik ini. btw lupa nanya namanya siapa, cuma adik ini dari dulu berjualan di halte penyebrangan di pgc beliau berjualan tisu harganya murah ko cuma 3 ribu dan beliau jualan selalu pake seragam sekolah. singkat cerita perbincangan ku kemarin :

A: ini jualan gini udh lama?
B : udah kak
A : rumahnya dimana?
B : di Depok kak
A: hah ko jauh banget ,kesini naik apa?
B : naik kereta kak ,trus turun dikalibata ,dari kalibata jalan kaki
B : *langsung diem dan mikirin itu lumayan jauh”

Dalam postingannya, Tika juga menceritakan bagaimana perjuangan remaja tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Diceritakan bahwa remaja SMA itu tinggal sendiri tanpa didampingi keluarga atau sanak saudara. Ia ditinggal orang tuanya saat kelas 6 SD.

 “Beliau sekolah didepok dan aku nanya orang tua nya didepok juga atau engga, ternyata dia bilang orang tuanya di batam, trus aku langsung  tanya lagi disini sama siapa dan ternyata dia hidup sendiri. aku pikir  dia memang sengaja merantau dan orang tuanya sering nengokin ,tapi ternyata enggak. dia ditinggal orang tuanya pas kelas 6 sd ,dia tidur di jalanan dan mengamen sampai kelas 2 smp, kelas 2 smp dia mulai nge kost didaerah Depok juga dan biaya perbulan kostnya 500 ribu.”

“alhamdulillah nya sekolah beliau gratis, kata nya memang diperuntukkan untuk yg tidak mampu, gak kebayang banget umur segitu udah harus nerima kenyataan yang sangat sangat luar biasa kalo dijalanin, tapi dia bisa sendiri. mukanya bener bener lugu banget, dan buat orang tua adik ini pulang laah temuin anaknya kasian dia harus hidup sendiri aku yakin dia gak akan merepotkan kalian.”

View this post on Instagram

Assallamualaikum ,mau cerita sedikit tentang adik ini .btw lupa nanya namanya siapa ,cuma adik ini dari dulu berjualan di halte penyebrangan di pgc beliau berjualan tisu harganya murah ko cuma 3 ribu dan beliau jualan selalu pake seragam sekolah .singkat cerita perbincangan ku kemarin : ?: ini jualan gini udh lama? ? : udah kak ? : rumahnya dimana? ? : di Depok kak ?: hah ko jauh banget ,kesini naik apa? ? : naik kereta kak ,trus turun dikalibata ,dari kalibata jalan kaki ? : *langsung diem dan mikirin itu lumayan jauh . Beliau sekolah didepok dan aku nanya orang tua nya didepok juga atau engga ,ternyata dia bilang orang tuanya di batam ,trus aku langsung tanya lagi disini sama siapa dan ternyata dia hidup sendiri ? aku pikir dia memang sengaja merantau dan orang tuanya sering nengokin ,tapi ternyata enggak .dia ditinggal orang tuanya pas kelas 6 sd ,dia tidur di jalanan dan mengamen sampai kelas 2 smp ,kelas 2 smp dia mulai nge kost didaerah Depok juga dan biaya perbulan kostnya 500 ribu . alhamdulillah nya sekolah beliau gratis ,kata nya memang diperuntukkan untuk yg tidak mampu . gak kebayang banget umur segitu udah harus nerima kenyataan yang sangat sangat luar biasa kalo dijalanin ,tapi dia bisa sendiri ? mukanya bener bener lugu banget ,dan buat orang tua adik ini pulang laah temuin anaknya kasian dia harus hidup sendiri aku yakin dia gak akan merepotkan kalian ? #ketimbangngemis #saytongemis #pedulisesama #gerakanpeduli #membantusesama

A post shared by Tika (@atikah_rizkiyah) on

Berita Terbaru

Pelatihan Kopdes Merah Putih Makin Aman, Relevan, dan Menguatkan Aspek Manajerial

Oleh: Citra Kurnia Khudori )*Keberhasilan sebuah koperasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal ataubanyaknya anggota, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya. Sama halnya dengan Koperasi Desa Merah Putih, penguatankapasitas para manajer menjadi faktor penting agar koperasi mampu berkembangsebagai motor penggerak ekonomi desa yang profesional dan berkelanjutan.Karena itu, penyempurnaan konsep pelatihan bagi calon manajer Koperasi DesaMerah Putih merupakan langkah yang patut diapresiasi. Penyesuaian materipelatihan menunjukkan bahwa pemerintah berupaya memastikan proses pembekalan lebih relevan dengan kebutuhan pengelolaan koperasi sekaligusmampu menjawab berbagai masukan yang berkembang di masyarakat.Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa istilah latihan dasar militer (latsarmil) tidak lagidigunakan dalam program pembekalan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih. Sebagai gantinya, pelatihan difokuskan pada pembekalan bela negara dan peningkatan kompetensi yang mendukung kemampuan kepemimpinan sertapengelolaan organisasi.Menurut Rico, perubahan tersebut merupakan bentuk penyempurnaan konsep agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Program ini sama sekalitidak diarahkan untuk membentuk calon manajer menjadi personel militer, melainkanmembangun karakter disiplin, tanggung jawab, nasionalisme, dan etos kerja yang dibutuhkan dalam mengelola koperasi.Ia juga menegaskan bahwa materi yang diberikan telah disesuaikan dengankebutuhan dunia manajerial. Pembekalan bela negara diposisikan sebagaipendidikan karakter yang bertujuan memperkuat integritas, kedisiplinan, kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, serta semangat pengabdian kepadamasyarakat.Karakter disiplin dan kepemimpinan yang menjadi bagian dari pembekalan belanegara justru dapat menjadi modal penting dalam menjalankan fungsi-fungsitersebut. Nilai-nilai tersebut bersifat universal dan telah lama diterapkan dalamberbagai program pengembangan kepemimpinan di banyak institusi.Meski demikian, pemerintah juga menunjukkan sikap adaptif dengan melakukanevaluasi terhadap konsep pelatihan. Respons terhadap berbagai masukan publikmenjadi bagian dari proses penyempurnaan agar pelaksanaan program semakinditerima oleh masyarakat luas.Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman menjelaskanbahwa durasi pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih turut disesuaikanmenjadi sekitar satu setengah bulan. Penyesuaian tersebut dilakukan agar materipembekalan lebih efektif, fokus, dan sesuai dengan kebutuhan pengelolaan koperasidi lapangan.Dudung mengungkapkan, pelatihan tetap diarahkan pada peningkatan kapasitaskepemimpinan, kedisiplinan, serta kemampuan manajerial para peserta. Denganwaktu yang lebih efisien, calon manajer diharapkan dapat segera kembali ke daerahmasing-masing untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalammengembangkan koperasi desa.Penyesuaian durasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah lebihmengutamakan kualitas pembelajaran dibandingkan lamanya pelatihan. Yang terpenting bukan seberapa panjang proses pendidikan berlangsung, melainkansejauh mana kompetensi yang dibutuhkan benar-benar dapat dikuasai oleh peserta.Di sisi lain, kebutuhan pengelolaan koperasi modern memang semakin kompleks. Manajer tidak hanya dituntut memahami aspek administrasi, tetapi juga mampumembaca peluang usaha, memanfaatkan teknologi digital, mengelola risiko, sertamembangun jejaring kemitraan dengan berbagai pihak.Karena itu, materi pelatihan yang berorientasi pada penguatan kapasitas organisasimenjadi semakin relevan. Koperasi yang dikelola secara profesional memilikipeluang lebih besar untuk tumbuh sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakatdesa.Komitmen pemerintah untuk menjaga relevansi pelatihan juga tercermin dalampenyempurnaan substansi materi yang diberikan kepada peserta. Berbagai materiyang dinilai tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan calon manajer kemudiandisesuaikan agar fokus pembelajaran tetap berada pada peningkatan kapasitaskepemimpinan dan tata kelola.Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menyampaikan bahwa materi menembaktidak lagi dimasukkan dalam pembekalan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih. Langkah tersebut merupakan bagian dari penyesuaian kurikulum agar pelatihan lebih relevan dengan tujuan pengembangan kompetensi peserta.Kini pembekalan lebih difokuskan pada nilai-nilai bela negara dan pembentukankarakter. Dengan demikian, pelatihan benar-benar diarahkan untuk mendukungkeberhasilan pengelolaan koperasi, bukan untuk memberikan kemampuan yang berada di luar kebutuhan tugas para manajer.Penyempurnaan kurikulum tersebut membuktikan bahwa pemerintah membukaruang evaluasi dalam setiap tahapan pelaksanaan program. Fleksibilitas semacamini penting agar kebijakan publik dapat terus berkembang mengikuti aspirasimasyarakat tanpa kehilangan tujuan utamanya.Perlu dipahami oleh semua pihak bahwa keberhasilan Koperasi Desa Merah Putihakan sangat ditentukan oleh kualitas para pengelolanya. Investasi pada pengembangan sumber daya manusia merupakan langkah strategis agar koperasimampu menjadi lembaga ekonomi desa yang profesional, transparan, dan berdayasaing.Dengan konsep pelatihan yang semakin aman, relevan, dan berorientasi pada penguatan aspek manajerial, pemerintah memberikan fondasi yang lebih kokoh bagilahirnya para manajer koperasi yang berintegritas. Dengan begitu, Koperasi DesaMerah Putih memiliki peluang lebih besar untuk menjadi motor penggerak ekonomidesa sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.)* Pemerhati isu sosial-ekonomi
- Advertisement -

Baca berita yang ini