Wow, Penjualan Sex Toys di Cina Tembus Rp 216 Triliun Selama Pandemi

Baca Juga

MATA INDONESIA, BEIJING – Kabar mengejutkan datang dari Cina. Melansir AFP, selama pandemi corona (COVID-19), penjualan mainan seks alias sex toys laku keras. Bahkan transaksi penjualan sex toys ini mencapai 14,7 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 216 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.740.

Padahal Cina terkenal dengan sikap konservatifnya terhadap seks. Negara itu tegas melarang pornografi, dan pihak berwenang akan menindak keras konten online vulgar.

Menurut hasil riset dari perusahaan Cina iiMedia, kebanyakan pembelinya datang dari kaum wanita dan generasi milenial. Harganya mainan ini dibanderol dengan harga 300 dolar AS atau sekitar Rp 4,4 juta. Namun angka ini masih jauh jika dibandingkan dengan negara barat hingga Jepang.

Analis firma riset pasar Daxue Consulting, Steffi Noel mengungkapkan permintaan sex toys ini terjadi di rentang periode Januari-Juni.

“Orang-orang yang membeli mainan seks selama pandemi kebanyakan adalah pembeli pertama kali,” katanya.

Sementara menurut seorang blogger asal Cina Yi Heng, kini sudah jadi hal biasa kalau banyak wanita yang menggunakan mainan seks. Hal itu dia ketahui dari grup diskusi yang membahas mengenai mainan seks.

Hal serupa juga diungkapkan oleh salah satu konsumen dengan nama samaran Amy. Ia mengatakan, kini mainan seks bukan hal yang tabu. dan iaberharap masyarakat Cina secara bertahap akan lebih menerima mainan seks dan penggunanya.

“Sekarang orang lebih terbuka, dan mereka tidak menganggap benda-benda ini sangat aneh,” kata Amy.

Sedangkan menurut riset dari Daxue Consulting, Cina sekarang memproduksi 70 persen mainan seks dan lonjakan pesanan datang dari Prancis, Italia, dan AS, dengan dominasi vibrator dan boneka seks.

Raksasa e-commerce Cina, AliExpress mengungkap awal 2020 ekspor mainan seks China melonjak hingga 50 persen tahun-ke-tahun. Saat itu pabrik berlomba untuk memenuhi permintaan dunia selama orang terpaksa di rumah saat pandemi COVID-19.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini