Waduh, Sebesar 53 Persen Warga AS Dewasa Gak Setuju Trump Usik Iran

Baca Juga

MATA INDONESIA, NEW YORK – Sebagian besar publik Amerika Serikat ternyata tidak mendukung cara Donald Trump mengusik Iran dengan membunuh Jenderal berpengaruh Negeri Mulah itu Qassem Sulaimani. Hal itu merupakan hasil survey yang dilakukan Reuters/Ipsos, Selasa lalu.

Sebanyak 53 persen orang dewasa yang tidak mendukung kebijakan Trump tersebut. Angka itu bahkan lebih tinggi 9 persen dibandingkan survei yang sama Desember 2019.

Jika dilihat dari sisi partai politik, hanya anggota dan simpatisan Partai Republik yang mendukung Trump mendukung sepenuhnya tindakannya terhadap Iran.

Survey itu dilakukan antara 6-7 Januari 2020 atau beberapa saat setelah Trump memerintahkan serangan drone terhadap Sulaimani.

Menurut survey itu, popularitas Trump sendiri relatif stabil setelah dia menyerang Sulaimani yaitu 40 persen yang mendukung dan 54 persen yang tidak mendukung kinerjanya di Gedung Putih.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini