Mata Indonesia, Kulon Progo – Jumlah kasus tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Kulon Progo menunjukkan tren peningkatan signifikan selama tiga tahun terakhir.
Data mencatat, pada 2023 terdapat 289 kasus TBC. Angka tersebut meningkat menjadi 342 kasus pada 2024, lalu melonjak tajam pada 2025 hingga mencapai 429 kasus.
Melihat lonjakan kasus TBC tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo berencana memperluas cakupan tracing atau penelusuran kontak guna memutus rantai penularan penyakit menular ini.
Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo, Susilaningsih, mengatakan penyebaran TBC terbilang masif karena banyak penderita maupun orang terdekatnya tidak merasakan gejala yang jelas.
Kondisi ini membuat penularan kerap tidak terdeteksi sejak dini.
“Strateginya adalah memperluas cakupan tracing agar penelusuran tepat sasaran,” ujar Susilaningsih.
Menurutnya, penanganan TBC harus dimulai dari pemutusan rantai penularan. Idealnya, jika ditemukan satu pasien TBC, penelusuran dilakukan terhadap delapan hingga sepuluh orang yang memiliki kontak erat dengan penderita.
Langkah tersebut bertujuan memastikan setiap orang yang berisiko tertular dapat segera memperoleh pemeriksaan dan perawatan.
Namun, pada 2025 capaian tracing di Kulon Progo baru mencapai 44 persen dari total penderita.
Penelusuran kasus TBC dinilai belum optimal karena dari target ideal delapan orang kontak erat, rata-rata baru satu hingga dua orang yang berhasil ditelusuri. Akibatnya, upaya deteksi dini, pengobatan, dan pencegahan TBC belum berjalan maksimal.
Kendala utama tracing TBC adalah sulitnya melakukan investigasi terhadap orang-orang terdekat penderita, terutama karena sebagian besar tidak merasakan gejala.
Rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan turut memperparah kondisi tersebut. Selain itu, tenaga kesehatan juga kerap kesulitan mendapatkan sampel dahak yang berkualitas.
Untuk mengatasi persoalan ini, Dinkes Kulon Progo akan meningkatkan target tracing menjadi empat hingga lima orang untuk setiap satu penderita TBC.
Target tersebut dinilai lebih realistis dan optimal, mengingat rata-rata jumlah anggota keluarga dalam satu kartu keluarga (KK) berkisar empat sampai lima orang.
Selain itu, Dinkes juga menyiapkan mekanisme jemput bola dengan mendatangi langsung keluarga penderita TBC guna mempercepat proses pemeriksaan dan pencapaian target tracing.
Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus mengungkapkan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus tuberkulosis setelah India.
Namun, jika dilihat dari rasio kasus per 100 ribu penduduk, Indonesia justru berpotensi menempati posisi pertama dengan 386 kasus per 100 ribu penduduk, sementara India hanya mencatat 190 kasus per 100 ribu penduduk.
“Jumlah penduduk Indonesia memang lebih sedikit dibanding India, tetapi angka kasus per seratus ribu penduduk kita lebih tinggi,” jelasnya.
Dokter spesialis paru tersebut juga menyoroti penanganan TBC yang selama ini belum berjalan efektif. Ke depan, pada era pemerintahan Prabowo, penanganan TBC akan dioptimalkan, salah satunya melalui penguatan tracing penderita.
Pemerintah pusat juga menyiapkan program cek kesehatan gratis sebagai upaya mendukung penelusuran dan pengendalian kasus TBC di Indonesia.
